Dari Dapur ke Ladang, Bawang Putih dan Serai Disulap Jadi Pestisida Nabati
Tulisan dari Abdurahman Shidiq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Selama ini, bawang putih dan serai lebih sering dikenal sebagai bahan dapur. Namun, bagi masyarakat Desa Tanah Datar, Kecamatan Muara Badak, Kalimantan Timur, kedua bahan tersebut diperkenalkan dengan fungsi lain. Bawang putih dan serai dapat diolah menjadi pestisida nabati yang berpotensi membantu petani mengendalikan hama tanaman.
Pemanfaatan bahan yang mudah ditemukan di sekitar masyarakat tersebut diperkenalkan melalui kegiatan sosialisasi dan pelatihan pembuatan pestisida nabati yang digelar pada Selasa, 28 Juli 2026. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Alif Lutfian Rahmayani Rudy, mahasiswa KKN Bina Desa Kelompok 1 Universitas Mulawarman, bekerja sama dengan PT Pertamina EP.
Kegiatan tersebut tidak hanya memperkenalkan alternatif pengendalian hama, tetapi juga mengajak petani untuk memanfaatkan bahan yang relatif mudah diperoleh dan mengolahnya secara mandiri.
Mengolah Bahan yang Mudah Ditemukan Menjadi Pestisida Nabati
Bagi petani, pengendalian hama menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga tanaman. Penggunaan pestisida kimia memang menjadi salah satu metode yang banyak digunakan karena praktis dan dapat memberikan efek pengendalian hama dengan cepat. Namun, penggunaan yang tidak tepat dan berlebihan dapat memberikan dampak terhadap lingkungan serta meningkatkan biaya produksi pertanian.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diperkenalkan pada pemanfaatan bahan nabati sebagai salah satu alternatif pengendalian hama. Bawang putih dan serai dipilih karena relatif mudah ditemukan dan dapat diolah dengan peralatan sederhana.
Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan secara teori. Proses pembuatannya juga diperagakan secara langsung sehingga petani dapat melihat setiap tahap pengolahan dari awal hingga siap digunakan.
Tahap pertama dimulai dengan menyiapkan dan membersihkan bawang putih serta serai wangi. Bawang putih kemudian ditumbuk atau diblender hingga halus. Bahan tersebut selanjutnya disimpan dalam wadah tertutup selama kurang lebih satu hari.
Sementara itu, serai wangi direbus selama sekitar 40 menit. Setelah proses perebusan selesai, larutan serai didiamkan dalam wadah tertutup selama satu hari pada suhu ruang.
Setelah bawang putih didiamkan, bahan tersebut kemudian dicampurkan dengan air dan disaring menggunakan kain. Penyaringan dilakukan untuk memisahkan ampas sehingga diperoleh ekstrak yang lebih mudah digunakan.
Ekstrak bawang putih dan serai wangi kemudian dimasukkan ke dalam sprayer dengan perbandingan 1:1. Larutan tersebut selanjutnya dapat diaplikasikan dengan menyemprotkannya pada tanaman yang mengalami serangan hama.
Petani Tidak Hanya Melihat, tetapi Ikut Mempraktikkan
Salah satu hal yang membuat kegiatan ini berbeda dari sosialisasi biasa adalah keterlibatan langsung peserta dalam proses pembuatan. Para petani dan warga yang hadir dapat mengamati sekaligus mempraktikkan tahapan pengolahan bahan.
Antusiasme peserta terlihat dari diskusi yang berlangsung selama kegiatan. Sejumlah peserta juga menyampaikan pertanyaan mengenai bahan, proses pembuatan, hingga cara penggunaannya pada tanaman.
Salah seorang petani Desa Tanah Datar mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut memberikan pengetahuan baru mengenai pemanfaatan bahan yang mudah ditemukan di sekitar masyarakat.
“Kami sangat terbantu dengan adanya pelatihan ini. Ternyata, bawang putih dan serai yang mudah ditemui di sekitar kita bisa dimanfaatkan untuk mengusir hama. Inovasi ini jelas sangat menghemat biaya, sehingga kami tidak perlu lagi terus-menerus membeli racun kimia yang mahal,” ungkapnya.
Selain petani dan warga, kegiatan ini juga dihadiri oleh perangkat desa serta perwakilan PT Pertamina EP. Kehadiran berbagai pihak tersebut menunjukkan adanya kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, pemerintah desa, dan sektor industri dalam mendorong pemanfaatan potensi lokal.
Dari Serai sebagai Bahan Dapur hingga Potensi Pengendali Hama
Pemanfaatan serai dalam kegiatan ini juga menarik perhatian kalangan akademisi. Salah seorang Dosen Pembimbing Lapangan dari kelompok KKN lain yang hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa dirinya sebelumnya pernah melakukan penelitian mengenai pemanfaatan serai sebagai bahan semprotan antinyamuk.
Melalui kegiatan tersebut, ia melihat adanya potensi pemanfaatan serai untuk kebutuhan lain, termasuk sebagai bahan dalam pestisida nabati.
Hal ini menunjukkan bahwa bahan yang selama ini dianggap sederhana dapat memiliki pemanfaatan yang lebih luas ketika pengetahuan dan teknologi sederhana diterapkan pada tingkat masyarakat.
Modul Dibagikan agar Pengetahuan Tidak Berhenti di Kegiatan
Agar pengetahuan yang diperoleh peserta tidak berhenti setelah kegiatan selesai, tim KKN Bina Desa Kelompok 1 juga membagikan modul panduan pembuatan pestisida nabati.
Modul tersebut memuat informasi mengenai bahan yang digunakan, takaran, tahapan pembuatan, serta cara pengaplikasian. Dengan adanya panduan tersebut, petani diharapkan dapat mencoba kembali proses pembuatan secara mandiri di rumah maupun di lahan pertanian masing-masing.
Bagi masyarakat desa, ketersediaan panduan menjadi penting karena inovasi yang diperkenalkan melalui sebuah kegiatan akan lebih bermanfaat apabila dapat diterapkan kembali setelah kegiatan berakhir.
Langkah Kecil untuk Pertanian yang Lebih Mandiri
Kegiatan pembuatan pestisida nabati dari bawang putih dan serai di Desa Tanah Datar memperlihatkan bahwa inovasi pertanian tidak selalu harus menggunakan teknologi yang rumit. Pemanfaatan bahan yang tersedia di sekitar masyarakat juga dapat menjadi bagian dari upaya mencari alternatif dalam pengendalian hama.
Bagi mahasiswa KKN, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk membagikan pengetahuan sekaligus belajar dari pengalaman petani. Sementara bagi masyarakat, kegiatan tersebut memberikan pengetahuan baru yang dapat dicoba dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Kolaborasi antara Universitas Mulawarman, PT Pertamina EP, dan masyarakat Desa Tanah Datar diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi. Pengetahuan mengenai pembuatan pestisida nabati diharapkan dapat terus dipraktikkan dan dikembangkan oleh masyarakat sebagai salah satu alternatif dalam pengelolaan tanaman.
Pada akhirnya, inovasi sederhana seperti mengolah bawang putih dan serai menjadi pestisida nabati menunjukkan bahwa solusi terhadap persoalan pertanian dapat dimulai dari sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dari bahan yang mudah ditemukan, muncul pengetahuan baru yang berpotensi memberikan manfaat bagi petani dan lingkungan sekitar.

