Konten dari Pengguna

Dari Sawah ke Teknologi: Inovasi IoT untuk Petani Desa Battal, Situbondo

Sesi Soto Bersama Mahasiswa Univeritas Jember Setelah Acara Edukasi dan Pelatihan Teknologi Bersama Petani. Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi PMM Agrotecinovation 2026
zoom-in-whitePerbesar
Sesi Soto Bersama Mahasiswa Univeritas Jember Setelah Acara Edukasi dan Pelatihan Teknologi Bersama Petani. Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi PMM Agrotecinovation 2026

SITUBONDO – Bagaimana jika kondisi sawah dapat dipantau melalui layar tanpa harus terus-menerus mengecek langsung ke lahan? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu hal yang diperkenalkan mahasiswa kepada para petani Desa Battal, Situbondo, melalui program AgroTech Innovation.

Bertempat di Balai Desa Battal, mahasiswa melalui program Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) melaksanakan pertemuan ketiga dengan mengangkat edukasi teknologi pertanian berbasis Internet of Things (IoT). Kegiatan ini menyasar para petani dengan memperkenalkan dua inovasi, yaitu SIMAPADI (Sistem Integrasi Manajemen Padi Berbasis Internet of Things) dan SIHAMA (Sistem Pengendalian Hama Ramah Lingkungan).

Perkembangan teknologi mulai memberikan warna baru dalam dunia pertanian. Salah satunya melalui pemanfaatan Internet of Things (IoT) yang dapat membantu petani memantau kondisi lahan dan mengelola kegiatan pertanian dengan lebih terarah. Teknologi ini memungkinkan berbagai sensor dan perangkat terhubung sehingga kondisi lahan dapat dipantau dan beberapa proses pertanian dapat dilakukan secara lebih terarah (Goda & Neta, 2024). Melihat peluang tersebut, mahasiswa melalui program Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) melaksanakan kegiatan sosialisasi dan pelatihan teknologi pertanian berbasis IoT di Desa Battal, Situbondo. Kegiatan ini dilaksanakan di Balai Desa Battal dengan sasaran utama bapak-bapak petani.

Sesi Pembukaan sekaligus Pretest Acara Edukasi dan Pelatihan Teknologi. Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi PMM Agrotecinovation 2026

Kegiatan diawali dengan memberikan pre-test kepada peserta, pre-test dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan awal para petani mengenai teknologi pertanian berbasis IoT. Setelah pre-test selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan singkat mengenai SIMAPADI dan SIHAMA. Mahasiswa menjelaskan bahwa SIMAPADI dikembangkan untuk membantu pemantauan dan pengelolaan tanaman padi, sedangkan SIHAMA berfokus pada pengendalian hama secara ramah lingkungan. Penjelasan disampaikan dengan mengaitkan fungsi kedua sistem dengan kegiatan yang selama ini dilakukan petani di sawah.

Mahasiswa Universitas Jember Memaparkan SOP Teknologi yang diciptakan. Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi PMM Agrotecinovation 2026

Tidak berhenti pada pengenalan sistem, peserta juga mendapatkan materi mengenai SOP penggunaan SIMAPADI dan SIHAMA. Mahasiswa menjelaskan sejumlah hal yang perlu diperhatikan sebelum sistem dioperasikan, mulai dari pemeriksaan perangkat, sumber energi, tandon dan saluran air, hingga kesiapan perangkap hama. Peserta juga dikenalkan dengan penggunaan alat pelindung diri (APD) untuk menunjang keselamatan selama pengoperasian sistem.

Antusiasme peserta semakin terlihat ketika mahasiswa memperkenalkan website IoT SIMAPADI dan SIHAMA. Melalui dashboard tersebut, peserta diperlihatkan bagaimana data kondisi lahan dapat ditampilkan dan dipantau. Informasi seperti tinggi air, kelembapan tanah, pH, suhu, hingga unsur hara dapat disajikan dalam satu sistem. Bagi peserta, bagian ini menjadi salah satu pengalaman baru karena kondisi lahan yang selama ini diamati secara langsung di sawah dapat pula dikenali melalui data yang ditampilkan pada perangkat digital.

Mahasiswa Universitas Jember MemaparkanCara Kerja Teknologi SIMAPADI. Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi PMM Agrotecinovation 2026

Setelah materi mengenai SIMAPADI, SIHAMA, SOP, dan website IoT selesai disampaikan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Pada sesi ini, peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan maupun hal-hal yang masih belum dipahami. Suasana diskusi berlangsung lebih interaktif karena pembahasan mulai dikaitkan dengan kondisi dan kegiatan yang biasa dilakukan para petani di lapangan.

Untuk mengetahui pemahaman peserta setelah mengikuti kegiatan, mahasiswa kemudian memberikan post-test. Hasil pre-test dan post-test nantinya dapat menjadi gambaran perubahan pemahaman peserta setelah mendapatkan edukasi mengenai SIMAPADI, SIHAMA, SOP, dan website IoT.

Pertemuan ini tidak hanya menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memperkenalkan project yang sedang dikembangkan, tetapi juga menjadi ruang bagi para petani untuk mengenal perkembangan teknologi yang dapat diterapkan dalam kegiatan pertanian.

Dari lahan pertanian hingga layar dashboard, teknologi mulai diperkenalkan sebagai bagian dari upaya mendorong pertanian yang lebih terarah, berbasis data, dan ramah lingkungan di Desa Battal, Situbondo.

Kegiatan ditutup dengan sesi dokumentasi bersama antara mahasiswa dan peserta sebagai penanda berakhirnya pertemuan ketiga AgroTech Innovation.