'Diawali dari Bengkel Kecil pada 1980-an' – Bagaimana Iran Mengembangkan Persenjataan Drone?
'Diawali dari Bengkel Kecil pada 1980-an' – Bagaimana Iran Mengembangkan Persenjataan Drone?
Bagaimana Iran mengembangkan persenjataan drone saat negara itu berada di bawah tekanan embargo AS selama bertahun-tahun?
Di tengah konflik yang terus berkecamuk antara Amerika Serikat–Israel dan Iran, pakar militer Akram Kharif menerbitkan buku In the Shadow of Witness, yang mengulas asal-usul dan perkembangan industri drone di Iran.
Dalam buku tersebut, dia menjabarkan strategi yang ditempuh Teheran hingga mampu menentang sanksi Amerika Serikat (AS) dan menjelma menjadi salah satu pemain penting dalam industri militer global.
Drone buatan Iran pertama kali muncul dalam laporan-laporan militer terkait aktivitas Hizbullah di perbatasan dengan Israel. Para pakar juga menganalisis puing-puing drone milik kelompok Houthi di Yaman yang dihubungkan dengan produksi drone Iran.
Namun pada September 2022, dunia dikejutkan oleh kabar bahwa Iran memasok teknologi drone kepada militer Rusia.
Saat itu, gambar-gambar pertama drone Geranium-2 (Shahed-136) yang terbang di langit ibu kota Ukraina, Kyiv, telah beredar luas.
Bagaimana mungkin sebuah negara yang berada di bawah embargo selama 40 tahun mampu mengubah aturan main dalam konflik internasional? Apa yang memungkinkan keberhasilan tersebut?
Rangkaian sanksi internasional memaksa para pemimpin Iran pasca-1979 untuk menelusuri berbagai pilihan yang tersedia dan mencari cara mengatasi kesulitan guna mengambil keputusan jitu demi keluar dari jeratan krisis.
Tekanan tersebut juga mendorong mereka untuk lebih mempercayakan pengembangan teknologi kepada para insinyur ketimbang lingkaran pendukung politik semata.
Akibat sanksi, Iran berupaya membangun jaringan pasokan di luar negeri untuk memperoleh kebutuhan yang tidak dapat diproduksi di dalam negeri, termasuk dengan memanfaatkan teknologi sipil.
Namun yang terpenting, di tengah keterbatasan sumber daya, Iran mengembangkan strategi jangka panjang dan menerapkannya secara sabar serta konsisten.
Seperti apa kekuatan pertahanan udara Iran sebelum Revolusi 1979?
Ketika Shah Mohammad Reza Pahlavi meninggalkan Iran pada Januari 1979, dia mewariskan sebuah angkatan bersenjata terkuat di kawasan Timur Tengah dalam hal persenjataan.
Angkatan Udara Iran saat itu dilengkapi pesawat-pesawat tempur mutakhir seperti F‑14 Tomcat, F‑4 Phantom, dan F‑5 Tiger.
Pada masa itu, militer Iran menempati peringkat kelima terkuat di dunia dari sisi perlengkapan, berada di bawah AS, Uni Soviet, Inggris, dan Prancis.
Angkatan Udara Iran, khususnya, bahkan dinilai lebih maju dibandingkan Angkatan Udara Jerman, China, dan Israel, berkat kepemilikan F‑14 Tomcat—yang kala itu termasuk pesawat tempur paling canggih di dunia.
Namun, pengoperasian dan perawatannya sangat bergantung pada keberadaan ribuan teknisi dan insinyur AS yang ditempatkan di Iran.
Suku cadang pesawat dipasok langsung oleh perusahaan Amerika, Grumman.
Dengan demikian, Angkatan Udara Iran sepenuhnya bergantung pada kompleks industri militer Amerika Serikat.
Setelah rezim Shah runtuh, para pemimpin militer melarikan diri ke luar negeri, tewas, atau dipenjara.
Para teknisi dan insinyur AS angkat kaki. Perusahaan-perusahaan AS memutuskan hubungan dengan rezim baru.
Pesawat-pesawat yang dibeli Iran dengan biaya miliaran dolar pun berubah menjadi besi tua tak bernilai.
Apa yang mendorong lahirnya inovasi?
Pada September 1980, pasukan Irak menginvasi wilayah Iran.
Perang pun pecah antara kedua negara, yang berlangsung selama delapan tahun.
Berbagai metode pembunuhan dan penghancuran paling mengerikan digunakan dalam konflik ini, termasuk senjata kimia. Hampir satu juta orang dilaporkan tewas.
Pada tahap awal perang, pasukan Irak meraih sejumlah keuntungan berkat keunggulan udara.
Militer Irak membeli pesawat pengintai dari Uni Soviet dan memperoleh citra satelit dari negara tersebut, yang membantu mereka melacak posisi lawan serta memantau pergerakan pasukan Iran.
Sebaliknya, pasukan Iran memasuki perang tanpa visi yang jelas.
Mereka tidak mampu mengoperasikan pesawat-pesawat canggih peninggalan AS yang terpaksa dibiarkan menganggur, sekaligus tidak bisa membeli teknologi yang dibutuhkan untuk mempertahankan wilayahnya akibat embargo internasional yang diberlakukan terhadap Iran.
Iran sangat membutuhkan teknologi untuk bertempur dalam perang yang mengancam kelangsungan hidup negara itu.
Namun sanksi ekonomi menghalangi mereka untuk membeli peralatan yang diperlukan.
Karena itu, Iran memutuskan untuk menciptakan dan memproduksi teknologi tersebut sendiri, ketimbang bergantung pada pihak lain.
Gagasannya tergolong sederhana: jika pesawat pengintai tidak bisa diterbangkan melintasi garis pertahanan musuh untuk mengetahui posisi dan pergerakan mereka, mungkin perangkat kecil yang dapat dikendalikan dari jarak jauh bisa menjadi solusi.
Biayanya lebih murah, lebih sulit terdeteksi, dan mampu menyediakan informasi yang sangat berharga.
Pemikiran mengenai perangkat kecil ini mulai berkembang di Iran sejak 1981.
Muncul gagasan untuk memasang kamera pada alat tersebut.
Ide ini berawal dari Universitas Isfahan, tempat para mahasiswa dan insinyur bekerja sama mewujudkannya.
Mereka merancang, memproduksi, menguji, dan mengembangkan purwarupa sebelum akhirnya menyerahkannya kepada kalangan militer di Korps Garda Revolusi Iran.
Diawali dari bengkel kecil di Universitas Isfahan
Peralatan sederhana dan primitif, yaitu potongan plastik dan papan, dipadukan dengan pemikiran yang matang.
Sebuah bengkel kecil di lingkungan universitas menjadi tempat berkumpulnya para pemuda yang bersenjatakan tekad, serta keyakinan pada istilah "jihad pembangunan" dan "jihad universitas"—konsep yang diadopsi oleh otoritas Iran pasca-revolusi.
Setelah bertahun-tahun melalui proses coba-coba, diwarnai kegagalan sekaligus ketekunan, tiga pemuda mulai mengembangkan rancangan di bengkel universitas di Isfahan, sebelum melakukan uji coba di ladang-ladang Khuzestan.
Salah satunya adalah seorang pilot sipil bernama Farshid. Kemudian, mahasiswa fisika bernama Saeed, dan seorang pengrajin emas profesional, Masoud Zahedi.
Ketika pertama kali mereka mempresentasikan purwarupa tersebut kepada pejabat militer, sebagian dari mereka justru menertawakannya.
Purwarupa itu lebih menyerupai mainan anak-anak, dibuat dari bahan-bahan yang tak lazim.
Tangki bahan bakarnya berupa kantong infus rumah sakit, sementara baling-balingnya dibuat secara manual.
Drone tempur pertama
Pada musim gugur 1983, sekitar 40 kilometer dari garis depan, pesawat yang sebelumnya dianggap sekadar "mainan" itu untuk pertama kalinya terbang di atas posisi pasukan Irak.
Pesawat tersebut kembali dengan membawa foto-foto yang jelas dari lokasi-lokasi militer lawan.
Setelah itu, perintah dikeluarkan untuk membentuk Batalion Thunder serta meluncurkan program resmi pengembangan drone.
Program tersebut pun beralih dari bengkel mahasiswa di Universitas Isfahan ke tangan para komandan militer Korps Garda Revolusi Iran.
Untuk memperoleh komponen yang dibutuhkan dalam pengembangan pesawat, mereka harus mengakali embargo internasional terhadap Iran dan mengakses pasar global.
Korps Garda Revolusi membangun jaringan perusahaan di Dubai dan memanfaatkan perantara di Singapura untuk membeli komponen-komponen yang dibongkar dari puluhan negara.
Komponen tersebut kemudian dikirim ke Isfahan untuk dirakit.
Hal ini menjelaskan ditemukannya chip buatan Amerika Serikat pada drone Shahed‑136 yang ditembak jatuh di Ukraina.
Drone terbukti efektif dalam misi pengintaian, dan pasukan Iran menggunakannya dalam pertempuran-pertempuran penting melawan Irak setelah 1983.
Namun sejak 1987, para insinyur dan personel militer di Batalion Raad telah mulai memikirkan pengembangan drone tempur.
Sebuah drone yang terbang di atas posisi musuh untuk merekam pergerakan mereka, pada prinsipnya juga dapat menyerang dan menghancurkan sasaran jika dilengkapi persenjataan.
Namun hal itu menuntut kualifikasi dan teknologi yang berbeda—yang kemudian dikembangkan oleh Brigade Raad menjadi drone tempur dengan nama "Muhajir".
Pada 1988, Iran tercatat sebagai salah satu negara pertama yang menggunakan wahana udara tak berawak bersenjata (UAV), yang kini dikenal luas sebagai drone.
Amerika Serikat, Turki, dan Israel kerap disebut sebagai produsen terkemuka, namun pada kenyataannya Iran merupakan salah satu pelopor di bidang ini.
Pada 1988, drone Iran masih sangat sederhana dalam desain, dengan jangkauan terbang tidak lebih dari 50 kilometer.
Namun pada 2026, drone canggih buatan Iran telah mampu menembus wilayah udara sejumlah negara untuk menyerang sasaran di Israel, diluncurkan langsung dari wilayah Iran.
Sesungguhnya, Israel—termasuk AS—merupakan negara pertama yang menggunakan wahana udara nirawak (unmanned aerial vehicles/UAV) untuk tujuan militer.
Israel memanfaatkannya dalam perang tahun 1973 untuk mengecoh dan menguras persediaan rudal pertahanan udara Mesir.
Prinsip inilah yang kemudian dikembangkan oleh para pengelola program drone Iran.
Dalam invasi Israel ke Lebanon pada 1982, Tel Aviv menggunakan drone Scout dan Mastiff untuk misi pengintaian serta menargetkan posisi baterai rudal Suriah di Lembah Bekaa.
Peristiwa ini menandai penggunaan pertama drone tempur dalam konflik bersenjata.
Membalikkan konsep yang ada
Para pakar Iran memantau secara saksama perkembangan di Lebanon.
Sekutu mereka di Hizbullah membantu mengumpulkan informasi rinci mengenai drone-drone Israel.
Dari situ, mereka menyimpulkan bahwa drone tersebut tidak terlalu canggih dan bahwa para ahli di universitas-universitas di Teheran dan Isfahan mampu mereplikasinya.
Sejumlah analis militer dalam berbagai laporan mencatat bahwa model-model awal drone Iran memiliki banyak kesamaan dengan drone Scout dan Mastiff buatan Israel.
Mereka menilai para insinyur Iran mengambil inspirasi dari desain Israel tersebut.
Sejak dekade 1970-an, berkembang keyakinan luas bahwa senjata dengan teknologi paling maju merupakan yang paling bernilai dan efektif.
Satu rudal berpemandu yang menghantam sasaran secara presisi dari jarak seribu kilometer dianggap lebih unggul dibandingkan ratusan proyektil tanpa sistem pemandu. Dalam logika ini, teknologi mengalahkan jumlah.
Namun Iran menambahkan satu konsep baru dalam persamaan militer tersebut: Jika negaranya tidak mampu bersaing dengan lawan-lawannya dalam pengembangan teknologi, maka Iran harus bersaing dalam hal jumlah dan biaya ekonomi. Inilah fondasi utama yang melandasi program drone Iran.
Sebuah drone yang biaya produksinya sekitar US$20.000 tidak dapat menandingi akurasi sebuah rudal jelajah yang harganya mencapai US$2 juta.
Namun jika 100 drone dikerahkan sekaligus, pihak lawan akan dipaksa meluncurkan 100 rudal jelajah—atau bahkan lebih—untuk mencegatnya.
Drone tidak dirancang untuk mengandalkan presisi dan daya hancur semata, melainkan untuk menguras sistem pertahanan lawan dan membebani anggaran mereka.
Serangan Iran dapat berlangsung dalam jangka waktu lebih lama karena biayanya 10 hingga 20 kali lebih murah dibandingkan sistem pertahanan rudal milik musuh.
Perhitungan sederhana menunjukkan bahwa meluncurkan 100 drone hanya menghabiskan biaya sekitar US$2 juta bagi pihak penyerang.
Sebaliknya, negara yang mempertahankan kepentingannya harus merogoh dana hingga US$200 juta untuk menembakkan rudal-rudal canggih guna mencegat drone-drone tersebut—terlepas dari seberapa besar kerusakan yang mungkin ditimbulkannya.
Drone juga memiliki keunggulan lain: keberadaannya sulit dideteksi radar karena bergerak lambat dan terbang di ketinggian rendah.
Selain itu, peluncuran dalam jumlah besar secara bersamaan dapat membanjiri sistem pertahanan udara, yang dalam sejumlah kasus membuatnya tidak mampu mencegat seluruh ancaman yang datang.
Serangan terhadap fasilitas minyak Saudi Aramco pada 2019 menunjukkan efektivitas kemampuan ini; sistem pertahanan Amerika Serikat gagal mencegat drone-drone buatan Iran.
Meski kelompok Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut, banyak pihak meyakini drone-drone itu diluncurkan dari wilayah Iran atau Irak.
Serangan ke fasilitas Aramco menyebabkan kerugian yang ditaksir mencapai puluhan miliar dolar.
Namun, biaya pembuatan dan peluncuran drone-drone penyerang hanya berkisar jutaan dolar.
Kesenjangan inilah yang menjadi faktor penentu antara pihak yang menang dan kalah dalam perang drone.
