Kumparan Logo

Eks CEO Google, Eric Schmidt, Diledek Mahasiswa saat Bahas AI di Wisuda

kumparanTECHverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Eric Schmidt, mantan CEO Google. Foto: Patrick T. Fallon / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Eric Schmidt, mantan CEO Google. Foto: Patrick T. Fallon / AFP

Mantan CEO Google, Eric Schmidt, mendapat cemoohan dari mahasiswa ketika berbicara mengenai perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam pidatonya di acara wisuda University of Arizona. Reaksi itu menunjukkan meningkatnya kecemasan mahasiswa terhadap dampak AI pada lapangan pekerjaan.

“Saya tahu apa yang banyak dari kalian rasakan soal itu. Saya bisa mendengarnya,” kata Schmidt kepada para wisudawan saat suara ejekan terdengar di lokasi acara sebagaimana dikutip BBC.

Ia saat itu tengah membandingkan ledakan perkembangan AI saat ini dengan kebangkitan komputer sekitar empat dekade lalu. Reaksi tersebut mencerminkan keresahan yang lebih luas di lingkungan kampus. Kini, pembicara yang menyinggung AI semakin sering mendapat respons negatif dari mahasiswa.

Sebuah survei terbaru menunjukkan banyak mahasiswa memandang AI sebagai ancaman bagi masa depan mereka sekaligus hambatan terhadap perkembangan intelektual.

Berbicara kepada para lulusan yang akan memasuki dunia kerja, Schmidt mengakui bahwa kekhawatiran mereka terhadap AI memang rasional. Namun, ia tetap meminta para mahasiswa untuk beradaptasi karena menurutnya AI akan membentuk dunia.

Ia juga mendorong para lulusan untuk memikirkan bagaimana mereka dapat ikut membentuk perkembangan AI di masa depan.

Masa depan belum selesai ditentukan. Sekarang giliran kalian untuk membentuknya.”

- Eric Schmidt, Mantan CEO Google -

Schmidt bukan satu-satunya tokoh yang mendapat penolakan saat membahas AI di acara wisuda. Eksekutif properti Gloria Caulfield juga mengalami hal serupa awal bulan ini di University of Central Florida.

Ilustrasi artificial intelligence. Foto: Shutterstock

“Kebangkitan artificial intelligence adalah revolusi industri berikutnya,” kata Caulfield sebelum akhirnya disambut cemoohan audiens.

Hal serupa terjadi di Middle Tennessee State University ketika CEO Big Machine Records, Scott Borchetta, menyinggung AI dalam pidato wisudanya. Respons Borchetta kepada para lulusan cukup singkat.

“Hadapi saja. Seperti yang saya bilang, ini hanyalah alat,” ujarnya.

Ketegangan ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran anak muda Amerika terhadap peran AI yang semakin besar di dunia kerja.

Menurut studi Lumina Foundation-Gallup 2026 State of Higher Education, banyak mahasiswa mulai mempertimbangkan ulang jurusan yang mereka pilih karena khawatir terhadap otomatisasi pekerjaan.

Mereka disebut mulai menjauhi bidang-bidang seperti teknologi tingkat awal atau analisis statistik, lalu beralih ke bidang yang menekankan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan pekerjaan yang lebih berpusat pada manusia.

Sementara itu, survei lain dari Pew Research Center menunjukkan separuh warga dewasa Amerika Serikat atau sekitar 50 persen merasa “lebih khawatir daripada antusias” terhadap meningkatnya penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari. Hanya 10 persen yang mengaku lebih antusias dibanding khawatir.

Kekhawatiran tersebut dinilai lebih tinggi di sektor-sektor yang pekerjaannya lebih mudah digantikan teknologi, khususnya pekerjaan di bidang teknologi informasi yang kini mulai berubah akibat perkembangan AI.