Kumparan Logo

Google Mau Lepas 64 Juta Nyamuk Pembawa Bakteri Wolbachia di AS

kumparanSAINSverified-green

ยทwaktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi nyamuk. Foto: Luis Robayo/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi nyamuk. Foto: Luis Robayo/AFP

Google tengah mengajukan rencana untuk melepas 64 juta nyamuk ke alam di California dan Florida, Amerika Serikat. Alih-alih menimbulkan kekhawatiran, langkah ini justru mendapat respons positif dari banyak ilmuwan.

Saat ini, Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) sedang meninjau permohonan izin pelepasan nyamuk eksperimental yang diajukan Google. Tujuannya bukan untuk menambah populasi nyamuk, melainkan menekan jumlah nyamuk pembawa penyakit yang bisa membahayakan manusia.

Program tersebut merupakan bagian dari proyek Debug milik Google. Melalui proyek ini, perusahaan teknologi raksasa dunia itu berencana melepas jutaan nyamuk jantan yang telah terinfeksi bakteri bernama Wolbachia pipientis, atau lebih dikenal sebagai Wolbachia.

Bakteri ini tidak membahayakan nyamuk jantan yang membawanya. Namun, ketika nyamuk jantan terinfeksi Wolbachia kawin dengan nyamuk betina yang tidak terinfeksi, telur yang dihasilkan tidak akan berkembang menjadi keturunan. Dengan cara ini, populasi nyamuk dapat ditekan secara bertahap tanpa menggunakan insektisida.

Target utama Google adalah spesies nyamuk rumah selatan atau Culex quinquefasciatus. Spesies invasif yang berasal dari wilayah tropis dan subtropis ini diketahui dapat menyebarkan sejumlah penyakit pada manusia, termasuk Virus West Nile dan ensefalitis St. Louis.

Rencana Google mendapat sambutan positif dari kalangan akademisi. Salah satunya Karthikeyan Chandrasegaran, asisten profesor di University of California, Riverside, yang meneliti ekologi dan perilaku nyamuk dalam konteks kesehatan masyarakat. Dia menyebut penggunaan Wolbachia sebagai pendekatan yang masuk akal untuk pengendalian nyamuk, terutama jika dibandingkan dengan penggunaan insektisida secara luas.

Menurutnya, strategi membasmi nyamuk dengan Wolbachia adalah cara efektif tanpa menambah racun ke lingkungan.

"Wolbachia sendiri sudah banyak ditemukan secara alami pada berbagai spesies serangga. Ini bukan organisme hasil rekayasa genetika, melainkan bakteri simbion yang memang telah ada di alam," ujarnya.

Ilustrasi nyamuk DBD pada kulit manusia. Foto: AUUSanAKUL/Shutterstock

EPA menilai proposal Google memiliki dampak yang berpotensi signifikan secara regional maupun nasional. Keputusan akhir akan diambil setelah masa konsultasi publik berakhir pada 5 Juni. Jika disetujui, Google dapat melepas hingga 32 juta nyamuk di California dan 32 juta lainnya di Florida selama periode dua tahun.

Teknologi yang Sudah Terbukti Efektif

Meski jumlah nyamuk yang akan dilepas sangat besar, pendekatan ini sebenarnya bukan hal baru. Eric Caragata, asisten profesor dari University of Florida yang meneliti penggunaan Wolbachia untuk pengendalian nyamuk, mengatakan metode tersebut telah digunakan secara aktif sejak sekitar 2011.

"Ini adalah teknik yang sudah digunakan selama lebih dari satu dekade untuk mengendalikan populasi nyamuk," katanya.

Nyamuk dikenal sebagai hewan paling mematikan di dunia. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), serangga ini menyebabkan antara 500 ribu hingga lebih dari satu juta kematian setiap tahun melalui berbagai penyakit yang ditularkannya.

Namun, mengendalikan populasi nyamuk dalam skala besar bukan perkara mudah. Penggunaan insektisida dapat merusak lingkungan dan membunuh serangga penyerbuk lain yang bermanfaat. Selain itu, banyak populasi nyamuk kini mulai mengembangkan resistansi terhadap bahan kimia tersebut.

"Kita sedang menghadapi dua tantangan sekaligus, yakni penyakit yang ditularkan nyamuk dan resistansi terhadap insektisida," kata Caragata sebagaimana dikutip Live Science.

Wolbachia menawarkan solusi yang relatif alami. Bakteri ini umum ditemukan pada serangga, tetapi tidak menginfeksi manusia maupun hewan lain. Melalui mekanisme yang disebut cytoplasmic incompatibility, Wolbachia menciptakan interaksi unik antara nyamuk jantan yang terinfeksi dan nyamuk betina yang tidak terinfeksi.

Pada nyamuk jantan, bakteri tersebut memodifikasi materi genetik dalam sperma sehingga embrio yang dihasilkan tidak dapat berkembang. Namun jika nyamuk betina juga membawa Wolbachia, perubahan tersebut tidak menimbulkan masalah dan keturunan tetap dapat lahir.

Artinya, ketika jutaan nyamuk jantan yang terinfeksi dilepas ke alam, sebagian besar nyamuk betina yang tidak membawa Wolbachia akan gagal menghasilkan keturunan yang hidup.

Jentik nyamuk di dalam air. Foto: Shutterstock

"Jika nyamuk betina memiliki Wolbachia, ia dapat berkembang biak dengan nyamuk jantan yang terinfeksi maupun yang tidak terinfeksi. Semua keturunannya juga akan membawa Wolbachia. Namun jika nyamuk betina tidak terinfeksi dan kawin dengan jantan yang membawa Wolbachia, tidak satu pun telurnya akan menetas," jelas Caragata.

Untuk mendukung program ini, Google mengembangkan mesin otomatis yang mampu membiakkan jutaan nyamuk terinfeksi. Perusahaan juga memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), sensor, dan teknologi rekayasa lainnya untuk memisahkan nyamuk jantan dari betina.

Hal ini penting karena hanya nyamuk betina yang menggigit manusia untuk mendapatkan protein yang dibutuhkan dalam proses produksi telur. Sebaliknya, nyamuk jantan memperoleh nutrisi dari nektar bunga dan buah-buahan. Karena itu, pelepasan nyamuk jantan secara teori tidak menimbulkan ancaman bagi manusia.

Sudah Berhasil Menekan Kasus DBD di Singapura

Sebagian besar program Wolbachia sebelumnya difokuskan pada spesies Aedes aegypti, nyamuk yang menjadi penyebar penyakit seperti demam berdarah dengue dan Zika. Di Singapura, yang juga menjadi lokasi proyek Google, peneliti telah menggunakan nyamuk jantan yang terinfeksi Wolbachia untuk memerangi demam berdarah.

Beberapa uji coba menunjukkan populasi nyamuk pembawa dengue dapat ditekan hingga 90 persen. Risiko masyarakat tertular dengue juga dilaporkan turun sekitar 70 persen. Kendati demikian, penggunaan metode ini dalam skala besar untuk mengendalikan Culex quinquefasciatus masih tergolong baru.

Pertanyaannya, ketika populasi nyamuk pembawa penyakit makin menyusut, apakah ini akan mengganggu ekosistem? Sampai saat ini ilmuwan belum memikirkan gangguan apa yang akan terjadi jika program ini benar-benar berlangsung. Menurut Chandrasegaran, banyak hewan memang memakan nyamuk, tetapi berkurangnya satu spesies nyamuk tidak serta-merta membuat predator kehilangan sumber makanan utama.

"Sebagian besar predator pemakan nyamuk merupakan pemangsa generalis yang mengonsumsi berbagai jenis serangga lain, baik di lingkungan perairan maupun daratan," kata Chandrasegaran.

Menurutnya, hingga kini belum ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa penurunan populasi Culex quinquefasciatus akan memicu gangguan ekologis besar.

Namun, ia mengingatkan bahwa setiap intervensi dalam skala besar tetap perlu dipantau secara ketat. Salah satu kemungkinan yang bisa terjadi adalah munculnya spesies nyamuk lain yang mengisi celah ekologis yang ditinggalkan. Secara keseluruhan, manfaatnya diperkirakan jauh lebih besar dibandingkan risikonya.

"Dari perspektif kesehatan masyarakat, pengurangan populasi Culex quinquefasciatus berpotensi memberikan manfaat besar karena spesies ini merupakan vektor penting bagi Virus West Nile dan sejumlah patogen lainnya," ujarnya.

Di Amerika Serikat, Virus West Nile merupakan penyakit yang paling sering ditularkan oleh nyamuk. CDC mencatat sekitar 2.000 kasus terdiagnosis setiap tahun, meski jumlah sebenarnya diperkirakan lebih tinggi.

Sebagian besar pasien tidak menunjukkan gejala, sementara sebagian lainnya mengalami gejala ringan menyerupai flu. Namun pada kasus tertentu, infeksi dapat menyebabkan penyakit serius hingga kematian.

Sejak 2003, California mencatat lebih dari 8.000 kasus Virus West Nile pada manusia dan lebih dari 400 kematian akibat penyakit tersebut. Tak hanya di Amerika Serikat, nyamuk Culex juga berperan besar dalam penyebaran virus ensefalitis Jepang di berbagai negara Asia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terdapat sekitar 100 ribu kasus ensefalitis Jepang setiap tahun dengan tingkat kematian yang dapat mencapai 30 persen.

Google sendiri belum memberikan komentar tambahan terkait proposal tersebut dan hanya merujuk pada pernyataan publik mengenai proyek Debug yang telah dipublikasikan sebelumnya.