Konten dari Pengguna

IPP UAJ Dorong Diskusi Ilmiah Mengenai Dinamika Politik Indonesia

Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Corporate Communication Unika Atma Jaya akan membawakan berita seputar Unika Atma Jaya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana diskusi Forum Semanggi #3 yang menghadirkan berbagai narasumber lintas perspektif (Sumber: Unika Atma Jaya)
zoom-in-whitePerbesar
Suasana diskusi Forum Semanggi #3 yang menghadirkan berbagai narasumber lintas perspektif (Sumber: Unika Atma Jaya)

Jakarta Institute of Public Policy (IPP) Unika Atma Jaya (UAJ) berkolaborasi dengan Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina memperkuat komitmennya dalam menghadirkan ruang dialog akademik melalui penyelenggaraan Forum Semanggi #3. Diskusi bertajuk “Kembalinya Otoritarianisme di Indonesia” ini digelar di Kampus Semanggi, Senin (20/4), sebagai sarana refleksi ilmiah mengenai dinamika politik nasional dalam kurun waktu terakhir.

Kegiatan ini merupakan bagian dari ekosistem public engagement IPP UAJ yang bertujuan mendorong pertukaran ide dan pemikiran kritis secara konstruktif. Dengan membedah buku Dasawarsa Kepemimpinan Jokowi: Era Kebangkitan Kembali Otoritarianisme di Indonesia, forum ini membuka ruang dialog lintas perspektif bagi para akademisi, praktisi, serta mahasiswa.

Direktur Eksekutif IPP Unika Atma Jaya, Salvatore Simarmata, S.Sos., M.A., Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan bahwa Forum Semanggi dihadirkan sebagai ruang terbuka untuk memperluas cara pandang dan imajinasi publik terhadap berbagai isu kebijakan. "Forum Semanggi kami hadirkan sebagai wadah untuk membuka ruang imajinasi. Kampus menjadi tempat yang penting untuk berdiskusi, menyatukan pandangan yang beragam, serta membayangkan arah pembangunan bangsa ke depan,” ujarnya.

Direktur Eksekutif IPP Unika Atma Jaya, Salvatore Simarmata, menyampaikan sambutan dalam Forum Semanggi #3 (Sumber: Unika Atma Jaya)

Sejalan dengan semangat kolaborasi tersebut, Direktur PUSAD Paramadina, Ihsan Ali-Fauzi, mengapresiasi kolaborasi ini sebagai langkah penting untuk menjaga nalar kritis dan kualitas demokrasi melalui diskusi yang sehat. "Kerja sama dalam bedah buku ini merupakan upaya bersama untuk memicu kesadaran kolektif mengenai pentingnya mekanisme check and balances dalam sistem pemerintahan. Kami berharap hasil diskusi ini dapat memberikan kontribusi pemikiran yang bermanfaat bagi pengembangan tata kelola pemerintahan yang lebih baik di masa depan," tuturnya.

Direktur Eksekutif Lokataru Foundation, Delpedro Marhaen. Kemudian, Peneliti dari Australian National University, Sana Jaffrey. Selanjutnya, Ko-Pendiri dan Direktur Eksekutif Project Multatuli, Evi Mariani, lalu Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi UAJ, Andina Dwifatma, Ph.D., serta Akademisi Universitas Hasanuddin, La Ode M. Syarif. Diskusi ini dipandu oleh IFAR Fellow UAJ, Atmaezer H. Simanjuntak, yang mengupas perkembangan kebijakan publik, tata kelola institusi, hingga relasi antara negara dan masyarakat sepanjang periode 2014–2024.

Narasumber menyampaikan pandangan dalam diskusi Forum Semanggi #3 terkait dinamika demokrasi di Indonesia (Sumber: Unika Atma Jaya)

Diskusi kemudian berkembang dengan menyoroti berbagai perspektif mengenai dinamika kebijakan dalam dua periode pemerintahan, termasuk perubahan prioritas pembangunan dan tantangan dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kualitas demokrasi. Para narasumber juga menekankan pentingnya penguatan institusi, akuntabilitas publik, serta peran masyarakat dalam menjaga ruang demokrasi yang sehat dan berkelanjutan.

Diskusi ini menunjukkan bahwa dinamika politik Indonesia perlu dipahami secara komprehensif dan lintas perspektif. Forum Semanggi #3 menjadi ruang refleksi yang mempertemukan beragam gagasan sekaligus membuka percakapan publik mengenai arah kebijakan dan demokrasi ke depan.

(DEL)