Jangan Dibuang, Sisa Makanan Bisa Jadi Kompos Canggih
Tulisan dari Abdurahman Shidiq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Selama ini, sisa makanan dan bahan organik dari dapur pesantren sering kali hanya berakhir sebagai limbah. Namun, bagi santri Pondok Pesantren Al Quran Hidayatul Furqon, Desa Batu-Batu, bahan-bahan tersebut diperkenalkan dengan fungsi lain. Sisa makanan dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi lingkungan pesantren.
Pemanfaatan bahan yang mudah ditemukan di sekitar pesantren tersebut diperkenalkan melalui kegiatan sosialisasi dan praktik yang digelar pada Selasa, 4 Agustus 2026. Kegiatan ini dilaksanakan oleh mahasiswa KKN Bina Desa Universitas Mulawarman yang berkolaborasi dengan PT Pertamina EP.
Kegiatan tersebut tidak hanya memperkenalkan pengolahan sampah organik menggunakan composter bucket, tetapi juga menghadirkan aplikasi CompostCare untuk membantu edukasi dan monitoring pengomposan, serta budidaya Azolla sebagai alternatif pakan ikan.
Dari Sampah Dapur Menjadi Kompos
Bagi lingkungan pesantren yang memiliki aktivitas dapur setiap hari, sisa makanan dan bahan organik dapat menjadi salah satu jenis sampah yang perlu dikelola. Penggunaan composter bucket dipilih agar proses pengolahan dapat dilakukan dengan peralatan yang sederhana.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sosialisasi penggunaan composter bucket. Tim KKN menjelaskan tahapan dasar pengolahan sampah organik, mulai dari menyiapkan bahan hingga memasukkannya ke dalam wadah kompos.
Setelah mendapatkan penjelasan, sampah organik yang telah disiapkan dicampurkan dengan bahan pendukung dan bioaktivator sesuai dengan panduan. Dalam praktik tersebut, peserta juga diperkenalkan pada penggunaan EM4 dan molase untuk mempercepat proses pengomposan.
CompostCare Hadir untuk Membantu Monitoring Kompos
Pengolahan sampah organik dalam kegiatan ini tidak hanya dilakukan dengan metode sederhana. Tim KKN juga memperkenalkan teknologi digital melalui aplikasi mobile bernama CompostCare.
CompostCare dikembangkan oleh salah satu mahasiswa KKN sebagai program kerja individu. Aplikasi tersebut dirancang sebagai media edukasi dan monitoring dalam proses pengomposan agar lebih terstruktur.
Melalui CompostCare, pengguna dapat memperoleh informasi mengenai proses pengolahan kompos, termasuk kelembapan, suhu, dan estimasi waktu panen. Tim KKN juga menjelaskan fungsi serta cara penggunaan aplikasi kepada pemilik pondok dan peserta agar teknologi ini dapat terus digunakan setelah kegiatan selesai.
Santri Tidak Hanya Melihat, tetapi Ikut Mempraktikkan
Salah satu hal yang membuat kegiatan ini berbeda dari sosialisasi biasa adalah keterlibatan langsung peserta dalam proses pembuatan. Setelah sesi pemaparan materi, para santri bersama tim KKN melakukan proses pencampuran bahan dan memasukkannya ke dalam composter bucket.
Keterlibatan peserta secara langsung menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Santri tidak hanya menerima materi, tetapi juga mencoba sendiri tahapan yang telah dijelaskan di lapangan.
Melalui praktik tersebut, peserta diharapkan memiliki pengalaman yang cukup untuk mengulangi proses pengomposan secara mandiri. Cara seperti ini dinilai efektif untuk menghubungkan materi yang disampaikan dengan aktivitas sehari-hari di lingkungan pesantren.
Azolla Diperkenalkan sebagai Pakan Alternatif Ikan
Setelah praktik pengolahan sampah selesai, kegiatan berlanjut ke area kolam pesantren. Para peserta bersama tim KKN melakukan penebaran bibit Azolla pada kolam yang telah disiapkan.
Azolla merupakan tanaman paku air yang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan pakan alternatif. Pemanfaatannya sebagai pakan telah banyak diperkenalkan dalam kegiatan budidaya ikan maupun pemberdayaan masyarakat.
Dalam kegiatan di Ponpes Al Quran Hidayatul Furqon, Azolla diperkenalkan sebagai alternatif yang dapat dikembangkan untuk mendukung kebutuhan pakan budidaya ikan. Bibit yang telah ditebar selanjutnya diharapkan dapat dipelihara dan dikembangkan oleh pihak pesantren.
Tiga Inovasi yang Saling Melengkapi
Kegiatan di Ponpes Al Quran Hidayatul Furqon menggabungkan tiga inovasi yang memiliki fungsi berbeda. Composter bucket digunakan untuk pengolahan sampah organik, CompostCare sebagai media digital untuk monitoring, dan Azolla sebagai alternatif pakan ikan.
Ketiganya diperkenalkan melalui kegiatan yang berhubungan langsung dengan aktivitas harian pesantren. Pendekatan ini membuat inovasi yang dibawa terasa lebih dekat dengan kehidupan peserta karena memanfaatkan apa yang sudah tersedia di sekitar mereka.
Langkah Kecil untuk Lingkungan yang Lebih Mandiri
Kegiatan ini memperlihatkan bahwa inovasi lingkungan tidak selalu harus menggunakan teknologi yang rumit. Dari sisa makanan di dapur, sebuah ember kompos dapat menjadi sarana belajar yang bermanfaat.
Bagi mahasiswa KKN Bina Desa, kegiatan ini menjadi ruang untuk mempertemukan pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat. Sementara bagi pihak pesantren, kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru yang dapat dikembangkan lebih lanjut.
Kolaborasi antara Universitas Mulawarman, PT Pertamina EP, dan pengelola Ponpes diharapkan tidak berhenti pada sosialisasi. Mahasiswa KKN berharap inovasi yang dibawa dapat terus dipraktikkan demi keberlanjutan program.
Pada akhirnya, inovasi sederhana ini menunjukkan bahwa solusi terhadap persoalan lingkungan dapat dimulai dari sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dari sisa dapur hingga kolam pesantren, muncul pengetahuan baru yang berpotensi memberikan manfaat dan kemandirian bagi lingkungan sekitar.
Kolaborasi untuk Keberlanjutan Program
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara mahasiswa KKN Bina Desa Universitas Mulawarman, PT Pertamina EP, pengelola Pondok Pesantren Al Quran Hidayatul Furqon, dan para santri.
Dukungan dari berbagai pihak membuat kegiatan dapat dilaksanakan dalam bentuk sosialisasi sekaligus praktik. Mahasiswa memperkenalkan metode dan teknologi yang telah disiapkan, sedangkan pihak pesantren menjadi bagian penting dalam keberlanjutan penerapan program.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN Bina Desa berharap composter bucket, aplikasi CompostCare, dan budidaya Azolla dapat terus dimanfaatkan oleh pihak pesantren.
Pada akhirnya, pengolahan sampah organik tidak harus dimulai dari sistem yang rumit. Dari sisa makanan di dapur, sebuah ember kompos dapat menjadi sarana belajar. Dari sebuah aplikasi, proses pengomposan dapat dikenalkan melalui teknologi digital. Sementara dari kolam pesantren, Azolla dapat diperkenalkan sebagai alternatif yang dapat mendukung kegiatan budidaya ikan.
Rangkaian sederhana tersebut menjadi contoh bahwa inovasi lingkungan dapat dimulai dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

