Kumparan Logo

Konflik Manusia vs Gajah di Afrika Terus Meningkat, Perang Tak Terhindarkan

kumparanSAINSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seekor gajah yang tengah menyeberang jalan Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Seekor gajah yang tengah menyeberang jalan Foto: Shutter Stock

Jejak kaki mana yang lebih besar, manusia atau gajah? Jawabannya bergantung pada bagaimana kita mengukurnya. Secara fisik, jejak kaki gajah tentu jauh lebih besar. Namun, jika diukur dari dampaknya terhadap lingkungan, manusia justru meninggalkan "jejak" yang semakin luas di sabana Afrika.

Sebuah studi terbaru yang terbit di jurnal PNAS Nexus, mengungkap perluasan aktivitas manusia di sabana Afrika telah memicu konflik yang semakin sering terjadi dengan gajah liar. Jika tren ini terus berlanjut, wilayah ini berisiko tinggi mengalami konflik antara manusia dan gajah diperkirakan meningkat 33 hingga 100 persen pada 2085.

Penelitian yang dilakukan ilmuwan dari Amerika Serikat dan Namibia itu menyoroti perubahan bentang alam di Namibia, Botswana, serta sebagian wilayah Angola dan Zambia selama dua dekade terakhir. Perubahan penggunaan lahan yang berlangsung cepat membuat ruang hidup manusia dan gajah semakin saling tumpang tindih. Akibatnya, konflik yang membahayakan kedua belah pihak pun semakin sulit dihindari.

Dengan menganalisis data publik sepanjang 2004 hingga 2020, para peneliti mengidentifikasi tiga faktor utama yang mendorong meningkatnya konflik manusia dan gajah.

Faktor terbesar adalah pertumbuhan populasi manusia dan meluasnya penggunaan lahan untuk berbagai aktivitas, seperti pertanian dan permukiman. Selain itu, kekurangan air akibat perubahan iklim juga berkontribusi, meski dalam skala yang lebih kecil.

Menggunakan model machine learning, tim peneliti kemudian memproyeksikan kondisi di masa depan. Hasilnya menunjukkan bahwa apabila ketiga faktor tersebut terus berlangsung tanpa pengendalian, konflik perebutan ruang dan sumber daya akan semakin sering terjadi serta meluas ke lebih banyak wilayah. Perang antara manusia dan gajah pun sulit dihindari.

"Kami menemukan bahwa area dengan risiko tinggi konflik manusia dan gajah akan meningkat antara 33 hingga 100 persen pada tahun 2085. Ekspansi penggunaan lahan oleh manusia menjadi faktor yang menyebabkan lonjakan konflik paling besar," tulis para peneliti seperti dikutip Science Alert.

Ilustrasi Gajah di Taman Nasional Hwange Zimbabwe, Afrika Selatan. Foto: Shutter Stock

Habitat Menyusut di Tengah Pemulihan Populasi Gajah

Temuan ini sangat krusial bagi upaya konservasi gajah di Afrika Selatan. Populasi gajah sabana Afrika (Loxodonta africana) memang mulai pulih setelah puluhan tahun terancam akibat perburuan liar. Namun, di saat yang sama, habitat mereka justru terus menyusut.

Gajah sabana Afrika merupakan spesies kunci, yakni satwa yang memiliki peran sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Keberadaan mereka turut menentukan kelangsungan hidup banyak spesies lain yang menghuni sabana.

Sayangnya, pembangunan jalan, pagar, kawasan pertanian, dan permukiman membuat jalur jelajah gajah semakin sempit. Kondisi ini memaksa mereka melintasi wilayah yang dihuni manusia.

Ketika memasuki kawasan tersebut, gajah kerap merusak lahan pertanian, menghancurkan infrastruktur, melukai manusia maupun ternak, hingga memicu kerugian ekonomi bagi masyarakat.

Di sejumlah daerah, konflik yang berulang bahkan berujung pada pembunuhan atau pemusnahan gajah liar. Situasi ini juga membuat dukungan masyarakat terhadap program konservasi semakin menurun.

"Tren ini, ditambah potensi tekanan perubahan iklim yang dapat memperburuk konflik, menjadi tantangan besar bagi pengelola sumber daya alam di kawasan tersebut," tulis tim peneliti yang dipimpin Evan Patrick dari University of California, Santa Barbara.

Penelitian ini turut melibatkan ilmuwan dari University of Namibia serta Kementerian Lingkungan Hidup, Kehutanan, dan Pariwisata Namibia.

video youtube embed

Lahan Pertanian Jadi Titik Rawan Konflik

Di Namibia, bentuk konflik yang paling sering terjadi adalah gajah memasuki dan merusak lahan pertanian warga. Karena sektor pertanian menjadi sumber penghidupan utama masyarakat, kerugian yang ditimbulkan akibat serangan gajah sering kali lebih besar dibandingkan manfaat ekonomi yang diperoleh dari sektor wisata satwa liar maupun perburuan trofi yang legal.

Salah satu wilayah yang paling mengkhawatirkan adalah Region Zambezi, kawasan basah di bagian timur Namibia yang kini berkembang menjadi daerah pertanian. Ironisnya, wilayah tersebut juga merupakan koridor alami yang menghubungkan sejumlah kawasan konservasi gajah. Jalur ini sangat penting agar populasi gajah dapat berpindah antarhabitat secara alami.

Di beberapa wilayah konservasi komunal, masyarakat lokal sebenarnya memiliki hak untuk mengelola satwa liar dan aktivitas pariwisata di tanah adat mereka.

Namun, karena sebagian besar penduduk masih mengandalkan pertanian subsisten sebagai mata pencaharian utama, pertemuan langsung antara manusia dan gajah menjadi makin sering terjadi.

Dalam penelitian ini, ilmuwan menganalisis konflik di 38 kawasan konservasi komunal yang memiliki pertumbuhan penduduk tinggi, dengan total populasi hampir 150 ribu jiwa. Hasil pemodelan secara konsisten menunjukkan bahwa tumpang tindih antara wilayah jelajah gajah dan aktivitas manusia akan terus meningkat pada masa mendatang.

Menyisakan Ruang untuk Gajah

Saat ini, hampir 300 ribu gajah di Afrika bagian selatan berada dalam perlindungan berbagai program konservasi. Namun, keberhasilan tersebut berisiko terancam apabila konflik dengan manusia terus meningkat.

Para peneliti menilai faktor penggunaan lahan menjadi aspek yang paling mungkin dikendalikan. Karena itu, mereka mendorong pemerintah dan pengambil kebijakan agar memasukkan kebutuhan ruang jelajah gajah dalam setiap rencana pembangunan.

Menyisakan koridor satwa liar dan habitat alami, menurut mereka, dapat mengurangi konflik di masa depan, memungkinkan manusia dan gajah hidup berdampingan, sekaligus melindungi mata pencaharian masyarakat serta spesies yang terancam.

"Belum terlambat untuk menyisakan sebagian sabana tetap alami. Kita harus lebih bijak menentukan langkah berikutnya," tulis para peneliti.