Konten dari Pengguna

Mahasiswa KKN Bagikan Cara Jitu Tangkal Hoaks dan Gambar AI

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abdurahman Shidiq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto Bersama Mahasiswa KKN Bina Desa, Kepala Desa Batu-batu, Ibu-ibu PKK, Warga Sekitar | Sumber: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Foto Bersama Mahasiswa KKN Bina Desa, Kepala Desa Batu-batu, Ibu-ibu PKK, Warga Sekitar | Sumber: Dokumentasi Pribadi

Kemajuan teknologi Artificial Intelligence (AI) kini makin mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, di balik kemudahannya untuk menyelesaikan pekerjaan, teknologi ini juga kerap dimanfaatkan untuk memanipulasi informasi. Hal ini menuntut masyarakat untuk lebih kritis saat menerima gambar, video, maupun tulisan di internet.

Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa KKN Bina Desa Universitas Mulawarman menggelar sosialisasi literasi digital dan pengenalan AI di Balai Pertemuan Umum (BPU) Desa Batu-Batu pada Kamis, 6 Agustus 2026.

Kegiatan yang diinisiasi oleh mahasiswa Program Studi Informatika Unmul ini disambut antusias oleh Kepala Desa, pengurus PKK, staf desa, hingga warga sekitar. Materi yang diberikan tidak sekadar membahas cara pakai AI, tetapi juga membekali warga agar tidak mudah termakan hoaks.

Mengenal AI dari Keseharian

Bagi sebagian warga desa, AI mungkin masih terdengar asing dan rumit. Oleh karena itu, materi disampaikan menggunakan pendekatan yang sangat dekat dengan aktivitas keseharian mereka.

Warga diperkenalkan pada pemanfaatan AI untuk hal-hal praktis, seperti mencari informasi edukatif, menerjemahkan bahasa, hingga mendukung produktivitas usaha rumahan skala UMKM.

Penyampaian dibuat sesederhana mungkin agar warga tidak hanya hafal istilah, tetapi paham cara memanfaatkannya secara bijak. Warga juga ditekankan bahwa kemudahan teknologi harus diimbangi dengan kemampuan memilah informasi, karena tidak semua yang ada di internet itu benar.

Suasana Kegiatan Sosialisasi AI dan Literasi Digital di BPU Kantor Desa Batu-Batu | Sumber: Dokumentasi Pribadi

Belajar Bedakan Konten Asli dan Rekayasa AI

Sesi yang paling memancing antusiasme adalah saat warga diajak mengenali ciri-ciri konten visual yang dibuat atau dimanipulasi menggunakan AI.

Tim pemateri memberikan contoh sederhana untuk dipraktikkan. Warga diajak jeli melihat kejanggalan visual pada gambar atau video, seperti bentuk jari yang tidak proporsional, proporsi wajah yang aneh, atau teks buram pada latar belakang foto.

Tak hanya visual, peserta juga dibekali cara mendeteksi hoaks dari pesan teks. Gaya bahasa yang terlalu sensasional serta pesan berantai di grup WhatsApp yang tidak mencantumkan sumber jelas menjadi tanda bahaya (red flag) yang harus diperiksa ulang.

"Saring Sebelum Sharing"

Materi kemudian mengerucut pada kebiasaan warga saat menggunakan smartphone. Tim KKN menggaungkan kembali prinsip dasar literasi digital: saring sebelum sharing.

Sebelum meneruskan informasi ke grup keluarga atau warga, peserta diajak untuk selalu memeriksa siapa pengirimnya, kapan dibuatnya, dan apakah ada media tepercaya yang membenarkan kabar tersebut.

Dalam konteks lingkungan desa, kebiasaan cross-check ini sangat penting agar warga tidak mudah terpancing isu miring yang bisa memecah belah kerukunan.

Dari Pengguna Menjadi Lebih Kritis

Kegiatan di Desa Batu-Batu ini membuktikan bahwa edukasi AI tidak melulu soal bahasa pemrograman yang rumit. Kemampuan menggunakan teknologi harus berjalan beriringan dengan nalar kritis untuk memilah informasi.

Bagi mahasiswa KKN Unmul, momen ini menjadi wadah untuk mengaplikasikan ilmu Informatika secara langsung ke masyarakat. Sementara bagi warga, sosialisasi ini membuka wawasan baru untuk menghadapi derasnya arus informasi digital.

Pada akhirnya, literasi digital bukan cuma soal seberapa jago kita menggunakan smartphone. Lebih dari itu, ini adalah tentang kemauan untuk mempertanyakan hal yang meragukan dan menahan diri agar tidak terburu-buru membagikannya.

Dari BPU Desa Batu-Batu, kebiasaan memeriksa sumber menjadi langkah kecil menuju masyarakat yang cerdas berdigital.