MEDIA DIGITAL DAN MATINYA KEMANUSIAWIAN MANUSIA

Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Firman Kurniawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Manusia hari ini dibawa untuk memikirkan: ada tendensi yang kuat, keberadaan berbagai teknologi hari ini --termasuk media digital-- bertujuan mentransformasi total perilaku manusia. Dalam pengaruhnya yang berlangsung tak kurang dari dua dekade, media digital menjadikan manusia makin bersifat mesin, sementara mesin makin berciri manusia. Prosesnya senyap, bertahap, namun pasti, mengubah manusia jadi komponen mesin.
Kompleksitas kemanusiaan yang tereduksi oleh transformasi itu, menjadikannya sekadar pemburu tujuan praktis. Misalnya saat berkendara untuk mencapai satu alamat. Ya satu alamat itu saja yang ada di dalam pikirannya. Bukan mampir membeli oleh-oleh untuk keluarga, alih-alih menjenguk teman yang sedang sakit dan tinggal di jalur yang dilalui. Bahkan ketika untuk mencapai tujuan itu harus mengambil jalan pintas --melintasi pekarangan orang tanpa izin, atau melanggar aturan lalu lintas-- bukan jadi pertimbangannya. Manusia jadi berdimensi tunggal: terpaku pada tercapainya tujuan dalam waktu terpendek.
Sinyalemen di atas juga jadi perhatian Sara Gonçalves, 2025, yang mengemuka lewat tulisannya AI is Becoming More Human — Are We Becoming More Robotic? Disebutkannya: manusia semakin mengadopsi rutinitas yang otomatis berulang, membentuk lingkaran tanpa ujung. Hidupnya terkondisi oleh algoritma dan sistem digital, mengeliminasi spontanitasnya. Sedangkan robot dan artificial intelligence (AI) makin mampu menirukan perilaku manusia. Peleburan sifat keduanya, mempersulit ditemukannya batas antara manusia dengan mesin. Pertanyaan mendasarnya: apakah manusia kehilangan kemanusiaannya saat mengajari mesin untuk berpikir?
Dengan reduksi kemanusiaaan, tak mustahil manusia beralih jadi komponen mesin di ujung transformasinya. Pada mesin, masing-masing komponen berfungsi tunggal dan jelas. Sekrup untuk merekatkan, baut untuk mengencangkan, dan tuas sebagai penahan dan pelepas gerakan. Ketika hari ini manusia jumlahnya mencapai 8 milyar jiwa, reduksi kompleksitasnya bakal membentuk mesin yang sangat besar. Dengan AI sebagai pelaku kecerdasannya.
Tak salah ketika beredar ungkapan: persoalan dengan AI, bukan lantaran kecerdasannya yang makin melampaui manusia. Melainkan manusia yang makin mereduksi kecerdasannya, sampai setara mesin. Dangkal, kehilangan nuansa kontekstual dan berdimensi tunggal: hendak mencapai tujuan, dalam waktu terpendek. Realitas empirisnya makin mudah ditemui dalam kehidupan.
Walaupun tak terbantahkan relasi pertanyaan dan penyataan di atas bersifat subyektif spekulatif, juga bernada konspiratif --terutama ketika yang dilakukan dalam mengamati gejala dan penemuan penyebabnya hanya mengandalkan pada yang kasat mata-- namun lewat pembacaan indikasi gejalanya, dapat dilacak proses transformasinya. Dimulai oleh keberadaan media digital yang makin cepat dan besar kapasitasnya mempertukaran informasi. Ketika interaksi yang spektrumnya bergerak dari tatap muka ke termediasi digital diukur, pertukarannya berlipat ganda. Ini dibanding dengan era sebelum media digital. Pertukaran informasi yang kurvanya terus meningkat ini, memotong rentang perhatian manusia. Rentang perhatian jadi pendek, mendorong munculnya gejala pertama: reduksi kompleksitas.
Reduksi kompleksitas diikuti gejala kedua: beralihnya perhatian dari “diri yang lain” ke “diri sendiri”. Pergeseran dari other centric ke self centric. Ini sangat mungkin terjadi --akibat tak cukupnya waktu untuk memperhatikan diri yang lain-- waktu yang tersisa digunakan memperhatikan diri sendiri. Bentuknya unggahan laporan aktivitas rutin diri, pencapaian diri, hingga nasib diri yang seakan-akan harus diketahui seluruh warga digital. Kalau pun ada perhatian bagi diri yang lain, terepresentasi secara simbolik sebagai like atau ungkapan komentar pendek.
Terhadap gejala pertama dan kedua itu, Sándor Salamon, 2025, dalam Amount of Information Processed in One Day, mengonfirmasi besar dan cepatnya pertukaran informasi itu. Disebutkannya, di tahun 2024 umat manusia di seluruh dunia menciptakan tak kurang dari 0,4 ZB data baru setiap hari. Sumbernya, aktivitas online harian oleh 5,3 miliar pengguna internet, yang menghabiskan 6 jam 38 menit. Secara kolektif, ini berarti: 14 miliar jam per hari tercurahkan untuk media sosial. Dan seluruhnya setara dengan 1,6 juta tahun perhatian manusia dalam 24 jam. Sedangkan di tahun 2025, semua jumlah aktivitas data itu akan terlampaui. Penciptaan data tahunan mendekati 150 ZB, bahkan mencapai 180–200 ZB di tahun 2028. Memang manfaatnya berupa akses instan pada pengetahuan maupun hiburan, namun tantangannya berupa perhatian yang terpecah, informasi yang salah, maupun beban kognitif yang berlebihan. Rentang perhatian manusia jadi makin pendek, mendorong reduksi kompleksitas.
Terhadap perhatian yang makin pendek, David Mitchell, 2025, dalam The Psychology of Attention: Why Digital Platforms Compete for Our Focus mengonfirmasnnya. Disebutkannya, rentang perhatian manusia pada kenyataannya memang memendek. Pada tahun 2004, rata-rata orang memperhatikan sebuah halaman web tak kurang dari 150 detik. Hari ini, hanya sekitar 45 detik. Sedangkan di dunia hiburan digital, tingkat pengguna yang berhenti menggunakan layanannya sangat tinggi. Berbagai studi menunjukkan, 20% pemain permainan seluler meninggalkan aplikasi dalam satu hari pertama, dan hanya 5% yang tetap bertahan menggunakannya hingga 30 hari.
Perhatian manusia terus-menerus diperebutkan, dibeli, dan dijual. Dan lewat pengukuran terus menerus, platform mengurai penyebab munculnya daya tarik. Diterapkan pada para pengguna, yang tergoda memilih: mengonsumsi informasi yang datang cepat atau memilih keterlibatan yang bermakna. Yang jelas, rentang perhatian makin pendek seturut bertambahnya hari dan kompleksitas turut menyusut.
Berikutnya, soal pergeseran dari other centric ke self centric. Di antaranya dikemukakan Ashish Mathew Sam dan Neela Devi C., 2025, dalam The Fragmentation of Self: Existential Identity Crisis in Digital Spaces. Disebutkannya kurang lebih, keberadaan media digital yang menggantikan ruang fisik bersama, menyebabkan terkemukanya identitas digital yang terkurasi. Individu memprioritaskan validasi pribadinya melalui pengukuran seperti like. Seluruhnya memupuk echo chamber yang menonjolkan preferensi pribadi, dibanding tanggung jawab sosial kolektif.
Pernyataan yang dikemukakan dua peneliti di atas, menyiratkan konfirmasi tergesernya orientasi perhatian manusia dari other centric ke self centric di ruang digital. Perhatian ditujukan untuk membangun validasi diri. Ini tak jarang mengabaikan kepentingan sosial yang kolektif. Dan seluruhnya, disertai munculnya perilaku terpabrikasi dengan standar tertentu. Oleh keduanya disebut sebagai terkurasi. Pernyataan ini membuka pembahasan tentang munculnya gejala berikutnya, berupa penyeragaman tanggapan manusia terhadap perisitiwa yang dialaminya. Perilaku terpabrikasi.
Indikasi adanya kurasi dalam relasi media digital, menyiratkan sistematisasi pilihan terhadap tanggapan pada suatu peristiwa. Keberterimaannya pun ditentukan secara kolektif. Adanya orang yang membeli barang dagangan penjual tua –dan diunggah ke media sosial-- akan menuai pujian luas. Disebut sebagai tindakan dermawan. Sebaliknya jika ada yang mengurai: dagangan penjual tua itu sulit laku lantaran kurang menarik. Ini akan menuai caci-maki berkepanjangan, lantaran dianggap tak berempati. Pendapat alternatif, pertimbangan kontekstual, alih-alih kebebasan berpendapat, digilas habis oleh kesepakatan kolektif. Tanggapan yang berbeda sulit diekspresikan. Berlaku formula: tanggapan yang meneguhkan perilaku yang disepakati, akan menghasilkan apresiasi. Sedangkan yang sebaliknya, akan dihukum. Bentuknya kecaman, ulasan buruk, hingga cancel culture. Keberterimaan sosial kolektif ini. mendorong munculnya gejala ketiga: penyeragaman tanggapan.
Transformasi yang diindikasikan tiga gejala massif di atas –reduksi kompleksitas, orientasi yang self centric dan seragamnya tanggapan-- adalah perubahan menuju mesin. Lewat konsep Machine Heuristic (MH) yang dikemukakan Hyun Yang dan S. Shyam Sundar, 2024, dalam Machine Heuristic: Concept Explication and Development of a Measurement Scale dapat dikomparasi gejala-gejalanya. Disebutkannya, mesin mulanya terbentuk dari sejarah panjang karakterisasi manusia terhadapnya. Sejak Descartes hingga Turing, mesin --dalam paradigma lamanya-- adalah entitas yang efisien, akurat, dan tak memiliki emosi atau agensi. Agensi adalah karakter “berkehendak”, sebagai ciri utama manusia.
Pandangan ini kemudian menjadi teori yang tersimpan dalam memori, dan digunakan saat individu berinteraksi dengan teknologi. MH berfungsi sebagai jalan pintas kognitif: ketika menilai mesin apa pun --AI, mobil otonom, kios interaktif-- manusia cenderung memproyeksikannya pada aturan yang melekat pada mesin: non-kompleks, berpusat pada fungsinya masing-masing –self centric-- dan tanggapannya seragam.
Masih banyak memang, gejala yang harus dipenuhi untuk menyebut manusia makin beralih menjadi komponen mesin. Dan seluruh keabsahan argumentasi yang menyertai gejalanya, juga harus diuji saksama. Namun sebagai pembacaan makin tereduksinya kemanusiaan di hadapan teknologi, layak dipertimbangkan. Ini dibanding: tak menemukan jalan balik, jika memang kecendrungannya benar. Atau memang nyaman jadi mesin?
Dr. Firman Kurniawan S. Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital - Pendiri LITEROS.org
