Medsos Ternyata Bisa Mengubah Kita Jadi Pasangan yang Toxic

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang. Fokus mengamati fenomena siber dan bagaimana media digital perlahan mengubah cara manusia berinteraksi sehari-hari.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Arya Bagus Firmansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak sih kamu lagi asik cerita soal hari menyebalkanmu ke pacar, tapi matanya malah sibuk menatap layar ponsel sambil mengangguk malas? Fenomena cuek akibat gawai yang biasa kita sebut phubbing ini sering dianggap masalah sepele di tongkrongan. Padahal, dari sinilah racun kecurigaan digital mulai menjalar. Layar ponsel yang awalnya kita beli sebagai alat komunikasi sekarang perlahan berbalik mengontrol emosi kita, hingga tanpa sadar mengubah kita menjadi pasangan toxic.
Layar Ponsel yang Menjauhkan yang Dekat
Di dunia siber, interaksi sehari-hari kita biasa dikaji lewat teori Computer-Mediated Communication. Komunikasi yang dijembatani layar gawai kehilangan banyak sekali isyarat nonverbal seperti kehangatan nada suara atau raut wajah. Tantangan komunikasi digital ini dikaji secara mendalam oleh Bunga Rusnaini dan timnya dari Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Dalam riset mereka tahun 2026 yang terbit di Journal of Psychology and Social Sciences dengan judul "Dampak Teknologi terhadap Kecemburuan, Interpretasi Pesan, dan Regulasi Emosi dalam Hubungan Romantis," ketiadaan isyarat fisik ini memicu apa yang disebut dengan digital overthinking.
Jeda waktu balasan pesan atau penggunaan emoji yang ambigu sangat mudah disalahartikan sebagai tanda pengabaian, sehingga memicu kecemburuan digital. Kondisi ini membuat pasangan terjebak dalam perilaku pengawasan elektronik secara berlebihan demi mengurangi ketidakpastian hubungan.
Masalah komunikasi ini diperparah oleh fenomena phubbing tersebut. Penelitian klasik dari James A. Roberts dan Meredith E. David tahun 2016 yang berjudul "My life has become a major distraction from my cell phone: Partner phubbing and relationship satisfaction among romantic partners" menunjukkan bahwa phubbing berkorelasi kuat dengan penurunan kepuasan hubungan. Saat kita lebih memilih menatap layar dibanding mendengar pasangan berbicara, kita secara tidak langsung mengirimkan pesan bahwa gawai kita jauh lebih berharga daripada kehadiran mereka.
Ketika Tameng Layar Merusak Kontrol Diri
Lalu, kenapa kita bisa berubah jadi sangat agresif atau mudah marah saat berinteraksi lewat ruang obrolan? Fenomena hilangnya saringan diri di dunia maya ini diteliti oleh Rayhan Abi Mulya dan Desi Susianti dari Universitas Gunadarma. Melalui studi mereka tahun 2026 di jurnal Kesehatan Dan Kedokteran (JUKEKE) yang berjudul "Online Disinhibition Effect Among Early Adult Social Media Users," ditemukan bahwa tingkat efek disinhibisi online dewasa awal di Indonesia berada dalam kategori yang sangat tinggi. Angka empirisnya mencapai rata-rata 85.50 dari nilai hipotetis 73.50. Temuan menarik dari kuesioner terbuka riset ini menunjukkan bahwa menulis komentar bermusuhan di internet menjadi aktivitas yang paling nyaman dilakukan karena adanya tameng anonimitas serta jarak fisik.
Hilangnya kendali diri ini memiliki korelasi langsung dengan kekerasan asmara siber. Hal ini dibahas tuntas dalam riset Rebecca Ritchie dan tim peneliti dari University of Liverpool. Riset mereka yang terbit di jurnal Frontiers in Psychiatry pada Januari 2026 berjudul "Greater toxic online disinhibition and lower consistent online self-presentation contribute to the perpetration of cyber dating abuse" mengungkapkan fakta mengejutkan. Variabel disinhibisi online yang beracun menjadi prediktor paling kuat dalam memicu kekerasan asmara siber, baik berupa agresi langsung seperti makian teks maupun kontrol siber seperti memata-matai aktivitas pasangan.
Sebaliknya, tingkat kepuasan hubungan di dunia nyata justru tidak memiliki pengaruh signifikan. Artinya, arsitektur media sosial itulah yang mendesain kita untuk bertindak toxic, bukan karena kualitas hubungan kita yang buruk. Selain itu, Ritchie dan koleganya juga menyoroti peran presentasi diri online. Banyak orang memoles citra diri mereka agar terlihat ideal di media sosial demi mengejar validasi. Padahal, mengelola topeng digital yang tidak konsisten dengan realitas asli ini sangat menguras energi mental kita. Ketika energi otak habis untuk memoles pencitraan, kemampuan kita untuk mengontrol emosi akan anjlok drastis. Akibatnya, kita jadi lebih impulsif dan gampang meluapkan emosi buruk ke pasangan.
Bahaya Melabeli Pasangan Lewat Konten Viral
Sisi gelap lain dari melimpahnya informasi digital adalah munculnya fenomena self-diagnosis relasional. Kasus ini dikritik keras oleh dokter Gusti Rai Wiguna, Sp.KJ, seorang psikiater dari Bali dalam artikelnya di website psikiaterbali.com tahun 2026 yang berjudul "Terjebak Toxic di Media Sosial? Waspadai Dampak 'Self-Diagnosis' pada Hubunganmu".
Algoritma media sosial sengaja menyebarkan video drama sensasional demi menaikkan keterlibatan pengguna. Akibatnya, banyak pasangan gampang menempelkan label klinis ke pasangannya berdasarkan video singkat. Satu pertengkaran biasa langsung dicap sebagai gaslighting, sedangkan sikap egois sesaat langsung dituduh sebagai narsistik. Tindakan melabeli ini memicu bias konfirmasi, di mana otak kita hanya fokus mencari kesalahan pasangan yang mendukung prasangka awal tersebut sambil mengabaikan semua kebaikan nyata yang mereka lakukan.
Untuk memutus rantai perilaku toxic ini, kita harus mulai membangun kesadaran digital yang sehat. Batasi waktu penggunaan media sosial dan sepakati ruang privasi gawai masing-masing agar rasa saling percaya tetap terjaga. Selesaikan setiap perselisihan lewat obrolan tatap muka langsung tanpa gangguan ponsel. Mari kembalikan fungsi teknologi sebagai alat bantu komunikasi dan pastikan layar ponsel tidak mengontrol cara kita memperlakukan pasangan kita sendiri.
