Memahami Formulasi Simetris-Hiperbolik dalam Persamaan Medan Einstein

Seorang profesional bidang Hukum Internasional dan Tata Kelola Global. Banyak menyelesaikan kursus online spesialis di Harvard Law School (Program tentang Hukum Internasional), University of Oxford, Stanford University, serta Leiden University.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Aditiya Widodo Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Persamaan medan Einstein berbentuk tensor. Ruas kiri adalah tensor Einstein yang mengandung lengkungan ruang-waktu. Ruas kanan adalah tensor energi-momentum yang mengandung distribusi massa dan energi. Bentuknya Gμν = (8πG/c⁴) Tμν. Ini adalah sepuluh persamaan diferensial parsial yang tidak linear. Tidak linear artinya medan gravitasi mempengaruhi medan gravitasi itu sendiri. Di alam semesta nyata, tidak ada situasi yang simetri sempurna kecuali lubang hitam Schwarzschild atau alam semesta FLRW. Untuk tabrakan dua bintang neutron, bentuk medan gravitasi terus berubah setiap milidetik. Komputer harus menyelesaikan persamaan ini secara numerik. Tapi masalah besar muncul, sistem persamaan ini tidak dirancang untuk evolusi waktu. Dalam bentuk aslinya, hanya ada kendala (constraints) yang harus dipenuhi pada setiap lembaran ruang. Tidak ada persamaan evolusi eksplisit untuk metrik. Karena itu, fisikawan harus mengubah bentuk persamaan Einstein agar bisa dijalankan seperti mesin waktu digital. Inilah awal dari dekomposisi 3+1. Dekomposisi 3+1 Membagi Ruang-Waktu Menjadi Lapisan Dekomposisi 3+1 dimulai dengan menganggap bahwa ruang-waktu empat dimensi bisa dipotong menjadi lembaran-lembaran ruang tiga dimensi yang setiap lembaran punya waktu koordinat konstan. Setiap lembaran punya metrik tiga dimensi γij. Metrik ini mengukur jarak antar titik di dalam lembaran yang sama. Untuk menghubungkan satu lembaran ke lembaran berikutnya, diperlukan dua besaran. Fungsi lapse α menentukan berapa lama waktu proper yang berlalu antara dua lembaran yang berdekatan. Vektor shift βi menentukan bagaimana koordinat spasial bergeser dari satu lembaran ke lembaran berikutnya. Metrik ruang-waktu empat dimensi ditulis ulang dalam besaran-besaran ini. Bentuk intervalnya: ds² = –α² dt² + γij (dxi + βi dt)(dxj + βj dt). Perhatikan bahwa komponen waktu-waktu dari metrik invers juga berubah. Determinan metrik tiga dimensi γij diberi notasi γ. Besaran ini penting untuk menghitung kerapatan energi. Para perintis ADM (Arnowitt, Deser, Misner) pada tahun 1959 menurunkan persamaan evolusi untuk γij dan curvature ekstrinsik Kij. Curvature ekstrinsik ini mengukur bagaimana lembaran ruang melengkung relatif terhadap ruang-waktu empat dimensi di sekitarnya. Definisi Kij = – (1/(2α)) (∂t γij – ∇i βj – ∇j βi). Tanda negatif di sini adalah konvensi. Sekarang sistem ADM memiliki dua belas variabel: enam komponen γij dan enam komponen Kij. Ada delapan persamaan kendala yang harus dipenuhi di setiap titik ruang. Kendala Hamiltonian: R + K² – Kij Kij = 0. Kendala momentum: ∇j (Kij – γij K) = 0. Sisanya adalah dua belas persamaan evolusi. Sistem ini bentuknya hiperbolik tetapi tidak simetris. Akibatnya, simulasi numerik dengan ADM asli luntur dalam waktu singkat. Dua belas persamaan evolusi dari formalisme ADM asli yang diturunkan dari proyeksi tensor Riemann ke lembaran spasial, diantaranya, Turunan waktu dari metrik tiga dimensi γij: ∂t γij = –2α Kij + ∇i βj + ∇j βi. Turunan waktu dari curvature ekstrinsik Kij: ∂t Kij = –∇i ∇j α + α ( Rij – 2 Kik Kkj + K Kij ) + βk ∇k Kij + Kik ∇j βk + Kkj ∇i βk. Di sini indeks i dan j berjalan dari 1 sampai 3, sehingga ada 6 komponen untuk γij dan 6 komponen untuk Kij. Suku Rij adalah tensor Ricci tiga dimensi yang dihitung dari γij dan turunan pertama dan kedua spasialnya. K adalah trace dari Kij yaitu K = γij Kij. Simbol ∇i menyatakan turunan kovarian tiga dimensi yang kompatibel dengan γij. Dua belas persamaan ini membentuk sistem evolusi tertutup karena ruas kanan hanya berisi γij, Kij, α, βi, dan turunan spasialnya. Fungsi lapse α dan shift βi tidak memiliki persamaan evolusi sendiri dalam ADM murni dimana keduanya bebas dipilih sebagai gauge. Keenam persamaan untuk γij bersifat kinematik, langsung mendefinisikan Kij dalam bentuk turunan waktu metrik. Keenam persamaan untuk Kij bersifat dinamik, berasal dari persamaan Einstein untuk komponen ruang-ruang dari tensor Riemann empat dimensi yang diproyeksikan. Gejala Ketidakstabilan ADM Asli dan Akar Penyebabnya Ketika ilmuwan mencoba menjalankan ADM asli di komputer Cray-1 dan Cray X-MP pada tahun 1980-an dan awal 1990-an, hasilnya buruk. Simulasi lubang hitam Schwarzschild yang semestinya stabil malah meledak setelah beberapa kali putaran waktu. Galat numerik yang kecil di awal simulasi membesar secara eksponensial. Analisis matematis menunjukkan bahwa sistem ADM asli tidak memenuhi kondisi hiperbolisitas kuat. Ada dua jenis hiperbolisitas yang dikenal dalam analisis persamaan diferensial parsial. Sistem lemah-hiperbolik hanya memiliki nilai eigen riil dari matriks simbol tetapi tidak memiliki himpunan lengkap vektor eigen. Sistem ini tidak stabil terhadap gangguan kecil. Sistem kuat-hiperbolik memiliki nilai eigen riil dan himpunan lengkap vektor eigen. Sistem ini stabil dalam ruang Hilbert. Sistem simetris-hiperbolik adalah kasus khusus di mana matriks simbol dapat dibuat simetris dengan metrik energi yang konstan positif. Sistem simetris-hiperbolik adalah yang paling stabil secara numerik. ADM asli tidak termasuk dalam kategori mana pun karena persamaan evolusinya mengandung suku-suku derivatif orde dua yang tidak dapat dipisahkan dengan rapi. Secara teknis, persamaan ADM untuk Kij mengandung turunan spasial dari Kij dan turunan spasial dari γij yang saling terkait melalui kendala. Ketika kendala tidak terpenuhi secara eksak akibat galat numerik, sistem menghasilkan mode-mode tak-fisik yang tumbuh tanpa batas. Inilah yang disebut masalah stabilitas constraint-violation. Para ilmuwan butuh formulasi ulang yang secara otomatis menekan pelanggaran kendala. Formulasi BSSN Sebagai Perbaikan Pertama yang Sukses Pada tahun 1995, Shibata dan Nakamura di Jepang mengusulkan variabel baru. Kemudian Baumgarte dan Shapiro di Amerika Serikat menyadari potensi formulasi tersebut pada tahun 1998. Formulasi ini dikenal sebagai BSSN (Baumgarte–Shapiro–Shibata–Nakamura). Ide dasarnya adalah memisahkan metrik tiga dimensi menjadi faktor konformal dan bagian trace. Variabel baru yang diperkenalkan: ϕ = (1/12) ln(det γij). Faktor ini mengukur skala volume dari metrik. Metrik konformal γ̃ij = e⁻⁴φ γij memiliki determinan satu. Selanjutnya curvature ekstrinsik dipisahkan menjadi bagian trace K dan bagian traceless Ãij = e⁻⁴φ (Kij – (1/3) γij K). Jumlah variabel menjadi lebih banyak tetapi persamaan evolusi menjadi lebih sederhana. Yang paling penting, BSSN memperkenalkan variabel bantu Γ̃i yang merupakan kontraksi dari turunan metrik konformal. Variabel ini bertindak sebagai peredam numerik. Persamaan evolusi BSSN tidak lagi mengandung turunan kedua dari metrik secara eksplisit. Banyak suku yang sebelumnya menyebabkan mode tak-stabil kini berubah menjadi suku sumber atau suku adveksi. Simulasi lubang hitam tunggal dengan BSSN bisa berjalan hingga waktu koordinat melebihi seribu massa lubang hitam tanpa ledakan. Formulasi BSSN juga mampu menangani lubang hitam yang bergerak. Teknik moving puncture yang dikembangkan tahun 2005 oleh Campanelli, Lousto, Zlochower, dan lain-lain memanfaatkan BSSN dengan pilihan gauge 1+log untuk lapse dan gamma-driver untuk shift. BSSN sendiri bersifat kuat-hiperbolik tetapi belum sepenuhnya simetris-hiperbolik dalam arti paling ketat. Namun untuk keperluan numerik, sifat kuat-hiperbolik sudah cukup. Formulasi Z4 Yang Lebih Radikal dan Simetris Penuh Pada tahun 2003, Bona, Ledvinka, Palenzuela, dan Zacek memperkenalkan pendekatan berbeda. Mereka menambahkan empat variabel baru Zμ yang secara buatan dimasukkan ke dalam persamaan Einstein. Hasilnya adalah sistem Z4. Ide di balik Z4 sederhana namun jenius. Kendala Hamiltonian dan momentum dalam ADM dapat ditulis sebagai vektor empat dimensi. Dalam Z4, vektor kendala ini dipromosikan menjadi variabel dinamis yang berevolusi. Persamaan Einstein yang dimodifikasi berbentuk Gμν + ∇μ Zν + ∇ν Zμ – gμν ∇α Zα = 8π Tμν. Tanda dan faktor numerik disesuaikan. Hasilnya, sistem menjadi simetris-hiperbolik untuk pilihan parameter tertentu. Ada versi Z4 yang disebut Z4c atau Z4 dengan redaman kendala. Parameter κ1 dan κ2 ditambahkan ke persamaan evolusi Zμ untuk secara eksponensial meluruhkan pelanggaran kendala. Formulasi Z4 lebih unggul dari BSSN dalam simulasi yang sangat lama atau yang melibatkan vakum ekstrim. Misalnya, simulasi lubang hitam dengan rasio massa sangat besar (1000 banding 1) lebih stabil di Z4 daripada BSSN. Analisis spektral dari matriks simbol Z4 menunjukkan bahwa semua nilai eigen adalah riil dan terdapat metrik energi positif yang membuat sistem simetris. Sifat ini menjamin bahwa masalah Cauchy untuk Z4 adalah well-posed dalam ruang Sobolev. Artinya, solusi ada, unik, dan bergantung kontinu pada data awal. Ini adalah jaminan matematis tertinggi yang bisa diberikan untuk persamaan diferensial parsial non-linear. Hingga saat ini, belum ada formulasi lain yang mencapai tingkat simetris-hiperbolik semurni Z4 dengan kendala damping. Saat ini, kode seperti GRChombo, Einstein Toolkit dengan thorn Z4c, dan IllinoisGRMHD menggunakan varian Z4 untuk produksi ilmiah. Tiga formulasi sudah kita bahas: ADM asli (tidak stabil), BSSN (kuat-hiperbolik, stabil untuk merger), dan Z4 (simetris-hiperbolik penuh, paling stabil secara matematis). Pilihan formulasi tergantung pada masalah fisik yang disimulasikan. Untuk bintang neutron dengan medan magnet, Z4 lebih aman. Untuk merger lubang hitam cepat, BSSN sudah cukup. Semoga Bermanfaat dan Terima Kasih.

