Membangun Kepakaran Dosen Sejak Dini
Tulisan dari M Reza Oktananda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menjadi dosen bukan hanya tentang berdiri di depan kelas, menyampaikan materi, lalu memberikan nilai kepada mahasiswa. Di balik peran tersebut ada tanggung jawab yang jauh lebih besar yaitu menjadi seseorang yang memiliki pengetahuan, pengalaman, dan keahlian yang dapat dipercaya.
Pertanyaannya kemudian, kapan seorang dosen mulai membangun kepakarannya? Jawabannya mungkin sederhana: sejak dini.
Kepakaran tidak lahir dalam satu malam. Kepakaran tidak otomatis hadir hanya karena seseorang telah menyelesaikan pendidikan magister atau doktor, mendapatkan jabatan akademik, atau telah mengajar selama bertahun-tahun. Kepakaran tumbuh melalui proses yang panjang. Karena itu, membangun kepakaran sejak awal karier sebenarnya bukan tentang mengejar label “ahli”. Lebih dari itu, kepakaran adalah upaya untuk menentukan arah perjalanan akademik agar seorang dosen tidak berhenti sebagai pengajar, tetapi berkembang menjadi sumber pengetahuan yang memiliki kontribusi nyata.
Pada masa awal menjadi dosen, perhatian sering kali tersita oleh berbagai kebutuhan teknis seperti menyiapkan bahan ajar, membuat RPS, mengelola kelas, melakukan penilaian, memenuhi administrasi akademik, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan perguruan tinggi. Semua itu memang penting. Namun, ada satu hal yang kadang luput diperhatikan yaitu membangun identitas keilmuan.
Seorang dosen dapat mengajar banyak mata kuliah, tetapi bukan berarti harus ahli dalam semua bidang. Justru semakin berkembang karier akademiknya, semakin penting baginya untuk memiliki bidang tertentu yang benar-benar ditekuni. Misalnya, seorang dosen akuntansi mungkin memilih memfokuskan dirinya pada perpajakan, atau bidang lainnya. Pilihan tersebut tidak harus langsung sempurna, yang penting adalah mulai menentukan arah.
Ketika arah mulai jelas, berbagai aktivitas akademik dapat saling terhubung. Topik penelitian menjadi lebih konsisten. Artikel yang ditulis memiliki benang merah. Pengabdian kepada masyarakat dapat dikembangkan dari kompetensi yang sama. Bahan ajar menjadi lebih kaya karena dibangun dari pengalaman dan hasil penelitian sendiri. Pada titik itulah, aktivitas akademik tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Mengajar, meneliti, dan mengabdi mulai membentuk satu ekosistem kepakaran.
Kepakaran dan Perjalanan Jabatan Fungsional
Ada alasan lain mengapa membangun kepakaran sejak awal karier menjadi penting. Kepakaran dapat membuat perjalanan jabatan fungsional dosen menjadi lebih terarah. Kenaikan jabatan fungsional bukan sekadar persoalan mengumpulkan bukti kegiatan sebanyak- banyaknya. Di dalam perjalanan karier akademik, dosen perlu membangun rekam jejak yang menunjukkan perkembangan kompetensi dan kontribusinya dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi.
Di sinilah kepakaran dapat menjadi semacam “benang merah”.
Bayangkan seorang dosen yang sejak awal memilih menekuni bidang perpajakan. Ia mengajar mata kuliah yang berkaitan dengan bidang tersebut, melakukan penelitian mengenai perpajakan, menulis artikel dengan tema yang relatif konsisten, melaksanakan pengabdian yang masih berhubungan dengan kompetensinya, mengikuti seminar atau pelatihan yang relevan, dan terus mengembangkan bahan ajarnya.
Berbagai kegiatan tersebut pada akhirnya tidak berdiri sebagai aktivitas yang terpisah. Ia membentuk rekam jejak yang saling mendukung. Kondisi seperti ini tentu dapat memudahkan dosen dalam mendokumentasikan dan mengembangkan kinerja akademiknya, termasuk ketika mempersiapkan pemenuhan persyaratan untuk kenaikan jabatan fungsional.
Artinya, sejak awal dosen tidak bekerja dengan pola “mengumpulkan apa saja yang bisa dikumpulkan”, tetapi mulai membangun kegiatan akademik yang memiliki arah. Namun demikian, kepakaran bukan jalan pintas menuju kenaikan jabatan fungsional. Kenaikan jabatan tetap bergantung pada ketentuan dan pemenuhan persyaratan yang berlaku. Kepakaran lebih tepat dipandang sebagai fondasi yang membantu dosen membangun rekam jejak secara konsisten, terarah, dan berkelanjutan.
Dengan kata lain, kepakaran tidak menjamin kenaikan jabatan menjadi lebih cepat, tetapi kepakaran dapat membuat perjalanan menuju ke sana menjadi lebih terarah dan jelas.
Mulailah membangun kepakaran
Ada anggapan bahwa seseorang harus menjadi dosen senior terlebih dahulu sebelum dapat memiliki kepakaran tertentu. Pandangan ini sebenarnya tidak sepenuhnya tepat. Usia dan masa kerja memang memberikan pengalaman. Namun kepakaran lebih banyak dibentuk oleh kedalaman dan konsistensi seseorang dalam menekuni bidang tertentu.
Dosen muda justru memiliki keuntungan berupa waktu yang panjang untuk membangun fondasi. Seseorang yang mulai serius menekuni bidang tertentu pada awal kariernya memiliki kesempatan untuk membangun penelitian yang berkelanjutan, memperluas jejaring akademik, memperkaya pengalaman, dan menghasilkan karya secara bertahap.
Kepakaran adalah perjalanan panjang untuk menjawab satu pertanyaan sederhana: "Dalam bidang apa saya ingin benar-benar memberikan kontribusi?"
Mungkin hari ini jawabannya belum sepenuhnya jelas. Tidak masalah. Kita dapat memulainya dengan membaca lebih banyak, mengajar dengan lebih baik, menulis lebih konsisten, meneliti lebih serius dan konsisten terhadap satu topik penelitian. Karena, sepuluh tahun dari sekarang, bisa jadi kita akan melihat kembali proses itu dan menyadari bahwa kepakaran ternyata tidak dibangun melalui satu pencapaian besar. Kepakaran dibangun melalui ribuan langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Dan mungkin, waktu terbaik untuk memulainya bukan ketika kita sudah merasa siap. Tetapi ketika kita menyadari bahwa perjalanan akademik yang panjang membutuhkan arah.

