Mempertahankan Rupiah, Mempertahankan Revolusi

Peneliti sejarah, Alumnus S2 Ilmu Sejarah Universitas Indonesia
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ahmad Pratomo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Situasi ekonomi yang mandek hari-hari ini bukan situasi yang baru terjadi. Ada yang menyebut situasi ekonomi saat ini persis seperti yang terjadi pada saat krisis moneter 1998. Ada pula yang menyebut situasi saat ini tidak sama dengan saat itu. Tapi yang menarik dari kondisi saat ini adalah bagaimana rupiah terus menjadi fondasi paling fundamental dalam konteks perekonomian Indonesia saat ini.
Sebagai alat tukar, rupiah punya sejarahnya sendiri. Terlebih embrio mata uang rupiah yang disebut dengan Oeang Repoeblik Indonesia bisa dibilang berhasil menjadi alat revolusi pada 1945-1949.
Seperti Amerika Serikat, Indonesia yang baru berdiri harus berada pada takdir sejarah: berakhir menjadi negara merdeka yang gagal atau menjadi republik seutuhnya. Perasaan ini berkecamuk dalam suasana revolusi yang amok.
Pada masa Revolusi Kemerdekaan Amerika Serikat (1775-1783), uang menjadi bagian dari alat perjuangan revolusi ‘an instrument of revolution’. Tidak berbeda dengan ORI, yang juga dianggap sebagai ‘alat’ revolusi yang kontribusinya sangat vital dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Pada 24 Oktober 1945, awal proses penerbitan ORI, Alexander Andries Maramis atau yang dikenal sebagai A.A. Maramis, Menteri Keuangan saat itu, membentuk tim yang terdiri dari anggota Serikat Buruh Percetakan G. Kolff & Co. Jakarta untuk melakukan survei lapangan ke berbagai daerah, di antaranya Yogyakarta, Solo, Malang, dan Surabaya guna memilih lokasi dan pencetakan terbaik untuk melaksanakan pencetakan uang baru tersebut.
Awalnya, ORI akan dicetak di Surabaya, namun karena situasi perang pada November 1945, proses pencetakan ORI dilakukan di Jakarta. Proses offset dan pencetakan klise dilakukan di Percetakan De Unie dan Balai Pustaka, sedangkan untuk pencetakan pertama dilakukan di Percetakan Negara di Salemba, Jakarta, dengan mula-mula mencetak uang kertas 100 rupiah.
Namun demikian, proses pencetakan harus terhenti. Faktor keamanan menjadi alasan utamanya. Sekutu dan NICA mulai ‘mencengkeram’ Jakarta dan situasi ini sangat mengkhawatirkan bagi kelangsungan pemerintah republik. Ibukota republik pun harus berpindah ke Yogyakarta, termasuk upaya pencetakan uang yang akhirnya harus ikut berpindah.
Situasi keamanan yang belum kondusif adalah faktor utama kenapa pendistribusian ORI ke luar Jawa terhambat. Terlebih di banyak daerah, NICA masih terus mengancam. Terhambatnya pendistribusian ORI disebabkan karena Belanda melakukan blokade ekonomi dengan menguasai pelabuhan-pelabuhan penting di Sumatera misalnya. Penghadangan beredarnya ORI juga dilakukan NICA dengan cara menyebarkan ORI palsu di tengah masyarakat. Selain itu, hambatan lainnya ialah kurangnya dana untuk mencetak ORI sesuai dengan kebutuhan yang ada. Ini membuat pemerintah RI mengeluarkan kebijakan ‘darurat’ memberikan kewenangan kepada daerah dan mengizinkan daerah-daerah tertentu mengeluarkan uangnya sendiri atau yang dikenal dengan Oeang Repoeblik Indonesia Daerah (ORIDA).
Peresmian ORI disambut antusias oleh rakyat. Seperti penggambaran Rosihan Anwar saat itu: “Suatu hal lain yang menggetarkan masyarakat Jakarta ialah keluarnya uang republik atau ORI atau dalam bahasa sehari-hari disebut “uang putih.” Dukungan rakyat terhadap ORI juga tertuang dalam surat kabar “Rakjat” yang memuat judul berita Oeang kita menang, kata rakjat Djakarta. Dalam pemberitaan ini disebutkan bahwa tukang becak lebih memilih bertransaksi menggunakan 20 sen ORI dibandingkan 1 rupiah uang NICA. Di pasar-pasar Jakarta, para pedagang lokal berani menolak mata uang NICA sebagai alat pembayaran. Mereka hanya mau dibayar dengan mata uang yang diakui Pemerintah RI. Akibatnya, tidak jarang area jual beli menjadi area pertempuran. Ini menunjukkan rakyat bangga memilih ORI daripada uang NICA-Belanda.
Dari kisah ORI dan ORIDA ini, situasi perekonomian Indonesia pernah berada pada titik nadir. Bayangkan bagaimana perjuangan orang per orang bergotong royong mengangkut mesin cetak uang dari hutan ke hutan, dari gunung ke gunung, menghindari kejaran Sekutu dan NICA. Perjuangan ORI dan ORIDA sebagai uang revolusi berakhir pada 1 Januari 1950, dilanjutkan dengan uang Republik Indonesia Serikat (RIS).
Hari ini, situasi ekonomi Indonesia modern tampaknya sedang diperjuangkan juga. Bukan soal uang rupiah menjadi alat revolusi kembali, tapi soal semakin rendahnya nilai mata uang rupiah terhadap dollar, soal IHSG yang terus ‘memerah’, dan persoalan ekonomi lainnya.
Dalam adagium sejarah, pola akan selalu sama hanya peristiwanya saja yang berbeda. Apakah pada masa-masa ini kita sedang berjuang dengan pola yang sama?
