Menguak Potensi Muse, AI Agent Baru Meta yang Menembus Papan Atas App Store

Meta kembali memperluas ambisinya di bidang kecerdasan buatan (AI) melalui peluncuran aplikasi terbarunya, Muse. Aplikasi ini menjadi bagian dari langkah agresif perusahaan dalam mengembangkan agentic AI, yakni sistem kecerdasan buatan yang tidak hanya memberikan jawaban, tetapi juga mampu menjalankan sejumlah tugas atas nama pengguna.
Meski baru tersedia di Amerika Serikat, Muse langsung mencuri perhatian pengguna iPhone. Aplikasi tersebut berhasil menempati posisi kedua dalam daftar aplikasi terpopuler di iOS App Store.
Namun, pencapaian awal Muse masih tergolong moderat jika dibandingkan dengan sejumlah produk Meta sebelumnya, seperti Threads dan aplikasi mandiri Meta AI. Performa tersebut juga belum menyamai laju pertumbuhan ChatGPT ketika pertama kali diluncurkan sebagai aplikasi.
Angka Peluncuran Muse
Berdasarkan data firma analisis pasar Sensor Tower, Muse telah diunduh lebih dari 83.000 kali di perangkat iOS sejak debutnya di Amerika Serikat. Angka tersebut membuat Muse masuk jajaran aplikasi yang paling banyak diminati pada pekan peluncurannya.
Meski demikian, angka tersebut masih jauh di bawah rekor Threads. Ketika diluncurkan pada 2023, aplikasi media sosial besutan Meta itu mencatat sekitar 4,3 juta unduhan hanya dalam satu hari pertama.
Muse juga masih tertinggal dari aplikasi mandiri Meta AI yang mencatat sekitar 108.000 unduhan pada periode awal peluncurannya.
Jika dibandingkan dengan ChatGPT, laju pertumbuhan Muse juga terlihat lebih moderat. Aplikasi ChatGPT mencatat sekitar 500.000 unduhan dalam waktu kurang dari satu minggu setelah diluncurkan. Dengan rata-rata sekitar 83.000 unduhan per hari, ChatGPT mampu mencapai angka tersebut dalam waktu relatif singkat.
Meski demikian, angka unduhan bukan satu-satunya indikator keberhasilan Muse. Aplikasi tersebut menunjukkan momentum positif di ekosistem iOS dengan naik dari posisi keempat ke posisi kedua dalam daftar aplikasi terpopuler.
Performa Muse di Android masih jauh lebih rendah. Aplikasi tersebut tercatat berada di peringkat ke-338 dalam kategori produktivitas di Google Play Store.
Data Sensor Tower tersebut juga belum sepenuhnya menggambarkan jumlah pengguna Muse karena tidak mencakup penggunaan melalui versi web maupun integrasi dengan WhatsApp.
Ambisi Meta di Era Agentic AI
Peluncuran Muse menunjukkan bahwa Meta tidak sekadar ingin menghadirkan chatbot AI, tetapi juga mengejar perkembangan agentic AI yang memungkinkan sistem melakukan tindakan secara lebih mandiri.
Konsep ini menjadi salah satu medan persaingan baru di industri teknologi. Jika chatbot konvensional umumnya berhenti pada memberikan informasi atau menghasilkan teks, AI agent dirancang untuk melangkah lebih jauh dengan membantu pengguna menyelesaikan berbagai macam pekerjaan. Misalnya, mengatur jadwal harian, membeli tiket bioskop hingga memantau target pekerjaan.
Meta melihat teknologi tersebut sebagai bagian penting dari masa depan interaksi manusia dengan perangkat digital. Perusahaan bahkan menilai perkembangan AI agent memiliki arti strategis yang sangat besar bagi masa depan bisnisnya.
Persaingan di sektor ini pun semakin ketat. Meta harus berhadapan dengan berbagai perusahaan rintisan yang mengembangkan AI agent dengan pendekatan berbeda, termasuk Instinct.
Startup tersebut mengembangkan AI agent berbasis pesan teks dan telah mendapatkan pendanaan besar. Salah satu konsep yang ditawarkan adalah kemampuan sejumlah agen AI untuk berkomunikasi satu sama lain dan menjalankan tugas tertentu tanpa harus terus-menerus mendapat instruksi manual dari pengguna.
Pendekatan seperti ini menunjukkan arah perkembangan AI agent yang lebih luas. Agen AI tidak hanya diposisikan sebagai alat untuk menjawab pertanyaan, tetapi juga sebagai perantara yang dapat melakukan berbagai aktivitas digital sehari-hari.
Integrasi dengan layanan pihak ketiga juga menjadi faktor penting dalam persaingan tersebut. Konektivitas dengan layanan keuangan, pengelola kata sandi, kalender, komunikasi, hingga berbagai aplikasi produktivitas dapat membuat AI agent semakin berguna dalam kehidupan sehari-hari.
Di balik ambisi tersebut, Meta menghadapi tantangan besar terkait privasi dan keamanan data. AI agent pada dasarnya membutuhkan akses terhadap lebih banyak informasi dibandingkan chatbot biasa agar dapat menjalankan tugas atas nama pengguna. Semakin banyak aktivitas yang dapat dilakukan sebuah agen AI, semakin besar pula kemungkinan sistem tersebut membutuhkan akses terhadap data pribadi, kebiasaan pengguna, komunikasi, maupun layanan digital yang digunakan.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Meta yang memiliki sejarah panjang dalam menghadapi sorotan terkait praktik pengumpulan dan penggunaan data pengguna.
