Kumparan Logo

Meta Tarik Fitur AI Instagram Setelah Diprotes Publik

kumparanTECHverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi logo Instagram. Foto: Francis Mascarenhas/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi logo Instagram. Foto: Francis Mascarenhas/REUTERS

Meta menghentikan fitur kecerdasan buatan (AI) terbaru yang memungkinkan pengguna membuat gambar menggunakan foto dari akun Instagram publik. Keputusan tersebut diambil hanya beberapa hari setelah peluncuran menyusul gelombang kritik terkait privasi, persetujuan, dan potensi penyalahgunaan teknologi AI.

Fitur bernama Muse Image itu sebelumnya diperkenalkan sebagai bagian dari pengembangan Meta AI. Teknologi tersebut memungkinkan pengguna menghasilkan atau memodifikasi gambar dengan memanfaatkan konten dari akun Instagram publik. Namun, fitur itu dibuat dengan mekanisme aktif secara otomatis (opt-out), sehingga memicu kekhawatiran karena foto pengguna dapat digunakan tanpa persetujuan eksplisit.

Dalam pernyataannya, Meta mengakui peluncuran fitur tersebut tidak memenuhi ekspektasi publik.

"Tujuan kami adalah menyediakan alat kreatif yang bermanfaat sekaligus memberikan kendali kepada pengguna atas konten publik mereka. Namun, kami menyadari bahwa kami telah salah langkah," tulis Meta.

Keputusan mencabut fitur itu disambut positif oleh berbagai kelompok yang sebelumnya mengkritik kebijakan Meta. Serikat pekerja industri hiburan Amerika Serikat, SAG-AFTRA, menilai penghentian fitur tersebut merupakan langkah yang tepat mengingat tingginya risiko penyalahgunaan AI untuk membuat replika digital seseorang tanpa izin.

Ilustrasi Instagram. Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Pengguna Instagram Khawatir soal Privasi

Sejak diperkenalkan, Muse Image menuai protes dari aktivis privasi, pelaku industri kreatif, hingga pengguna media sosial. Mereka menilai penggunaan foto dari akun publik tanpa mekanisme persetujuan yang jelas membuka peluang munculnya konten manipulatif, termasuk deepfake dan pencurian identitas digital.

Sejumlah pihak juga mengkritik pilihan Meta yang menerapkan sistem opt-out, bukan opt-in. Dalam sistem tersebut, pengguna secara otomatis dianggap menyetujui penggunaan kontennya kecuali secara aktif menonaktifkan fitur melalui pengaturan akun.

Kondisi tersebut dinilai bertentangan dengan prinsip perlindungan data pribadi yang menempatkan persetujuan pengguna sebagai syarat utama sebelum data dimanfaatkan untuk kepentingan teknologi AI.