Militer AS Akui Kerahkan Senjata Pengendali Luar Angkasa ke Orbit Bumi

Militer Amerika Serikat mengakui telah meluncurkan senjata ke suatu tempat di orbit Bumi untuk mengendalikan ruang angkasa dari ancaman musuh. Hal itu dikonfirmasi oleh Menteri Angkatan Udara AS, Tony E. Meink, dalam pidato utama di Konferensi Siber Udara dan Luar Angkasa 2026, pada Senin (14/9).
Meink membawahi Angkatan Udara AS dan Angkatan Antariksa AS (U.S. Space Force). Dalam pidatonya, Meink mengatakan militer AS memiliki senjata pengendali ruang angkasa di orbit yang mampu melindungi pasukan gabungan dari ancaman lawan.
"Kami meningkatkan kesiapan menghadapi ancaman yang ada, dan Amerika Serikat memiliki senjata pengendali ruang angkasa di orbit yang mampu mempertahankan Pasukan Gabungan dari ancaman musuh yang membahayakan," kata Meink sebagaimana dikutip Live Science.
Meski begitu, Meink tidak menjelaskan jenis senjata, kemampuan, maupun jumlah yang telah dikerahkan. Sementara juru bicara Angkatan Udara AS mengatakan senjata tersebut dirancang untuk melindungi militer AS dari serangan yang mungkin saja dilancarkan dari luar angkasa.
Juru bicara tersebut tidak menjelaskan ancaman spesifik yang mendorong AS mengerahkan senjata ke orbit. Ia mengatakan, sejak 2007, AS telah memperingatkan adanya uji coba senjata di ruang angkasa oleh Rusia dan China.
“Karena tindakan mereka, kini tidak ada lagi keraguan bahwa ruang angkasa merupakan ranah peperangan. Pengendalian ruang angkasa merupakan bagian dari cara pasukan gabungan melindungi kepentingan keamanan nasional,” kata juru bicara tersebut seperti dikutip TechCrunch.
Ia menambahkan, ruang angkasa kini menjadi wilayah yang diperebutkan. Karena itu, AS harus mampu menjaga kepentingannya di sana. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pembentukan Angkatan Antariksa AS sebagai cabang militer keenam.
“Komunikasi terbuka memperkuat daya tangkal, mencegah kesalahan perhitungan oleh pihak lawan, dan menjadikan operasi ruang angkasa sebagai hal yang lazim, berdampingan dengan cabang militer lainnya,” ujarnya.
Di sisi lain, pengakuan AS telah memicu kekhawatiran memanasnya perlombaan senjata luar angkasa di antara negara super power, termasuk China.
"Kami mendesak pihak AS untuk menghentikan perluasan kekuatan militernya dan persiapan perang di luar angkasa," kata Jiakun dalam konferensi pers rutin, seperti yang dilaporkan Guo Jiakun, juru bicara Kementerian Luar Negeri China.
Kekhawatiran atas Dampak Puing Satelit
Pengerahan senjata ke luar angkasa yang dilakukan AS berlangsung di tengah kekhawatiran mengenai meningkatnya aktivitas militer di ruang angkasa.
China telah lama diketahui mengoperasikan wahana antariksa yang berpotensi menyebabkan kerusakan pada satelit lain. Sementara itu, Angkatan Antariksa AS menyebut Rusia sedang mengembangkan satelit yang dirancang untuk membawa senjata nuklir.
Menurut laporan The Times, AS selama ini menghindari penghancuran satelit di ruang angkasa. Serangan semacam itu dapat menghasilkan puing-puing yang membahayakan objek lain di orbit, termasuk satelit dan astronaut.
Puing antariksa menjadi salah satu risiko dalam operasi di orbit Bumi karena dapat mengancam wahana yang melintas maupun misi berawak.
