Misi Besar Samsung Vision AI di TV: Tak Mau Jadi Sekadar Layar
·waktu baca 4 menit

Bayangkan sebuah televisi yang tidak perlu diatur secara manual. Ia tahu bahwa Anda suka menonton film drama di malam hari, jadi otomatis ia menyesuaikan kecerahan dan kontrasnya agar suasananya lebih sinematik. Atau ketika Anda bingung memilih tontonan, Anda cukup bertanya kepadanya —dan ia menjawab seperti orang sungguhan.
Kedengarannya seperti fiksi ilmiah? Ternyata tidak. Itulah visi yang tengah dikejar Samsung lewat teknologi yang mereka sebut Vision AI.
Dalam wawancara eksklusif dengan kumparanTECH, Harry Lee, Presiden Samsung Electronics Indonesia, membuka cerita di balik ambisi besar perusahaan asal Korea Selatan itu dalam mendefinisikan ulang apa artinya memiliki televisi di rumah.
Bukan Sekadar Omong AI
Di tengah banjirnya klaim "AI" dari berbagai merek elektronik, Samsung tak mau kata itu kehilangan makna. Banyak yang menyebutnya sebagai gimmick —fitur yang terdengar canggih di brosur, tapi hampir tidak terasa bedanya di kehidupan nyata.
Karena itu, Harry Lee menegaskan bahwa Samsung selalu memulai dari pertanyaan mendasar: "Apa yang sebenarnya ingin dirasakan konsumen di rumah?"
Jawabannya, menurut Samsung, bukan sekadar gambar yang lebih tajam. Melainkan pengalaman yang terasa lebih intuitif dan personal.
Vision AI hadir dalam beberapa wujud nyata. Pertama, soal gambar dan suara: Sistem ini bekerja di balik layar secara terus-menerus untuk menyempurnakan visual dan audio secara real-time, tanpa campur tangan pengguna.
Hasilnya, setiap adegan film terasa lebih hidup dan sinematik —bukan karena filter yang dipaksakan, tapi karena teknologi yang membaca konten dan menyesuaikannya dengan cermat.
Kedua, ada fitur kustomisasi cerdas. TV akan mempelajari kebiasaan menonton Anda dari waktu ke waktu. Konten apa yang paling sering ditonton, di jam berapa, dalam kondisi pencahayaan ruangan yang seperti apa. Lalu, ia secara otomatis menyesuaikan pengaturan gambar agar selalu terasa pas. Tidak ada lagi acara mengoprek menu pengaturan yang membingungkan.
Bicara dengan TV?
Mungkin fitur yang paling mengundang rasa penasaran adalah apa yang Samsung sebut Vision AI Companion. Konsepnya sederhana: Anda cukup berbicara ke TV, dan ia merespons secara natural —bukan seperti robot yang membaca skrip, tapi seperti percakapan yang sesungguhnya.
"Pengalamannya pun terasa bukan lagi sekadar mengoperasikan perangkat, melainkan seperti melakukan percakapan yang nyata," ujar Harry Lee.
Ini tentu bukan hal yang bisa langsung dibuktikan di atas kertas. Tapi jika eksekusinya berhasil, bisa jadi ini adalah pergeseran paling signifikan dalam cara manusia berinteraksi dengan televisi sejak ditemukannya remote control.
Layar Lebih Presisi dengan Micro RGB
Di sisi hardware, tahun ini Samsung resmi membawa dua lini teknologi layar terbaru ke Indonesia: Micro RGB (tersedia dalam ukuran 55–115 inci) dan Mini LED (43–100 inci).
Micro RGB adalah generasi terbaru dalam teknologi panel TV yang memungkinkan reproduksi warna yang jauh lebih presisi dan detail visual yang lebih realistis dibanding teknologi sebelumnya. Sederhananya: warna merah terlihat seperti merah yang sesungguhnya, bukan sekadar "merah yang cukup bagus."
Yang menarik, ketika teknologi layar ini digabungkan dengan sistem Vision AI, keduanya bekerja sebagai satu ekosistem —bukan komponen yang berdiri sendiri. Hasilnya adalah pengalaman menonton yang, menurut Samsung, "benar-benar tidak tertandingi."
Satu lagi kejutan: fitur Vision of Art —yang sebelumnya hanya ada di The Frame, lini produk TV Samsung yang dirancang agar bisa tampil seperti lukisan di dinding— kini hadir juga di lini Micro RGB dan Mini LED. Artinya, lebih banyak pengguna bisa mengubah TV mereka menjadi "kanvas hidup" yang menampilkan karya seni saat tidak digunakan untuk menonton.
TV Sebagai Investasi Jangka Panjang
Harry Lee tidak menghindari fakta bahwa TV adalah perangkat yang jarang diganti — tidak seperti smartphone yang bisa berganti setiap dua tahun. Justru dari situ, Samsung membangun argumen kepercayaan jangka panjangnya.
Samsung menjanjikan pembaruan sistem operasi Tizen hingga 7 tahun. Artinya, TV yang Anda beli hari ini masih akan mendapatkan fitur-fitur terbaru dan tambalan keamanan hingga tujuh tahun ke depan —sesuatu yang jarang ditawarkan merek lain di kategori ini.
Di sisi keamanan, Samsung menyematkan sistem Knox —teknologi perlindungan data yang selama ini sudah dikenal di perangkat Galaxy— ke dalam ekosistem TV mereka. Privasi pengguna, termasuk data kebiasaan menonton, diklaim terlindungi dengan lapisan keamanan berlevel enterprise.
Dan lewat platform SmartThings, TV bukan lagi perangkat yang berdiri sendiri di pojok ruangan. Ia menjadi pusat kendali ekosistem rumah pintar: terhubung dengan lampu, AC, kulkas, hingga perangkat keamanan rumah — semuanya bisa dikelola dari satu layar.
Samsung mengklaim telah mempertahankan posisi sebagai merek TV nomor satu di dunia selama 20 tahun berturut-turut —sebuah catatan yang diverifikasi oleh lembaga riset pasar OMDIA per Februari 2026. Di Indonesia sendiri, survei internal Samsung menunjukkan bahwa kualitas gambar masih menjadi faktor utama konsumen dalam memilih TV.
Dua fakta ini, menurut Samsung, adalah alasan mengapa mereka tidak bisa berhenti berinovasi —dan mengapa Vision AI bukan sekadar jargon pemasaran, melainkan taruhan jangka panjang terhadap masa depan ruang keluarga tempat tinggal.
