Kumparan Logo

NASA Bagikan Potret Kawah Baru Angka 8 Bekas Tabrakan Roket SpaceX di Bulan

kumparanSAINSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Momen awak misi Artemis II mengabadikan momen Bulan di luar angkasa. Foto: Dok. NASA
zoom-in-whitePerbesar
Momen awak misi Artemis II mengabadikan momen Bulan di luar angkasa. Foto: Dok. NASA

Bagian roket SpaceX dilaporkan telah menghantam permukaan Bulan pada awal Agustus 2026. Tabrakan tersebut meninggalkan sebuah kawah baru yang memiliki bentuk tak biasa, menyerupai angka delapan.

Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) kemudian mengerahkan wahana Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) untuk mencari lokasi tumbukan sekaligus mengukur karakteristik kawah yang terbentuk. Hasil pengamatan menunjukkan prediksi para peneliti mengenai lokasi dan ukuran kawah cukup akurat.

Tabrakan terjadi pada 5 Agustus 2026, ketika bagian atas roket SpaceX menghantam permukaan Bulan di dekat tepian sisi Bulan yang menghadap Bumi. Benda tersebut merupakan sampah antariksa berupa bagian roket yang tidak lagi digunakan. Sebelum menabrak Bulan, benda itu melaju dengan kecepatan sekitar 8.700 kilometer per jam.

Ini merupakan roket kedua yang diketahui menghantam Bulan secara tidak terkendali. Bagian roket tersebut merupakan sisa dari peluncuran wahana Blue Ghost, misi Bulan milik perusahaan swasta Firefly Aerospace. Blue Ghost berhasil mendarat di permukaan Bulan pada 2 Maret 2025.

Roket yang menghantam Bulan itu memiliki panjang sekitar 13,8 meter dan berat sekitar 4.000 kilogram. Sebelum tabrakan, peneliti memperkirakan benda tersebut akan menghasilkan kawah dengan diameter sekitar 20 meter.

Lokasi tumbukan pertama kali terdeteksi oleh wahana antariksa Korea Selatan, Danuri, milik Korea AeroSpace Administration (KASA). Selanjutnya, LRO melakukan pengamatan pada 11-12 Agustus, tepat ketika Bulan bersiap berada di antara Bumi dan Matahari dalam peristiwa gerhana Matahari. LRO mengamati kawah tersebut menggunakan pencahayaan dari berbagai sudut. Teknik ini memungkinkan peneliti memperkirakan ukuran dan kedalaman kawah dengan lebih akurat.

Potret permukaan Bulan sebelum tumbukan roket SpaceX terjadi. Foto: NASA/JPL-Caltech
Potret permukaan Bulan sesudah tumbukan roket SpaceX terjadi. Ada perubahan di kawah yang terlihat di bagian tengah gambar. Foto: NASA/JPL-Caltech

Hasil pengamatan menunjukkan kawah memiliki diameter sekitar 18 meter dengan kedalaman sekitar 3 meter. Kawah tersebut juga memperlihatkan jejak material dengan warna berbeda.

Lapisan regolit atau tanah Bulan yang lebih gelap berada di bagian paling atas, dengan ketebalan sekitar setengah meter. Material tersebut telah mengalami pelapukan akibat paparan cahaya, mikrometeoroid, dan radiasi dari luar angkasa selama jutaan tahun.

Sementara itu, material yang terlihat lebih terang berasal dari lapisan yang lebih dalam dan terbuka akibat tumbukan. Kawah tersebut memiliki bentuk menarik menyerupai angka delapan. Bentuk ini mengingatkan pada kawah ganda yang pernah terbentuk akibat jatuhnya bagian roket lain ke Bulan.

Sebelumnya, bagian pendorong dari misi Bulan Chang'e 5-T1 milik China juga pernah menghantam permukaan Bulan dan meninggalkan kawah ganda dengan bentuk yang tidak biasa.

China sempat membantah bahwa roket tersebut merupakan miliknya. Namun, hasil pengamatan terhadap lintasan benda tersebut menunjukkan adanya hubungan dengan objek antariksa yang diluncurkan sebelumnya.

Dalam kasus roket SpaceX kali ini, bentuk menyerupai angka delapan ternyata bukan karena satu roket menghasilkan dua kawah. Salah satu bagian dari bentuk tersebut merupakan kawah yang sudah ada sebelumnya, tumbukan roket kemudian menciptakan kawah baru di dekatnya. Salah satu hal menarik dari peristiwa ini adalah kemampuan peneliti memprediksi lokasi tumbukan sebelum roket menghantam Bulan.

Para insinyur dari Center for Near Earth Object Studies di NASA sebelumnya melakukan perhitungan untuk menentukan area yang kemungkinan menjadi lokasi tumbukan. Mereka menghasilkan dua wilayah berbentuk elips yang saling tumpang tindih.

Perhitungan pertama mengasumsikan Bulan sebagai objek berbentuk bola yang relatif mulus. Sementara perhitungan kedua menggunakan model yang mempertimbangkan kontur permukaan Bulan secara lebih realistis.

Hasilnya, lokasi tumbukan ternyata berada di dalam wilayah elips yang dibuat berdasarkan model permukaan Bulan tersebut. Kemampuan memprediksi lokasi tumbukan ini dinilai dapat menjadi semakin penting seiring meningkatnya aktivitas manusia di Bulan.

Sampah Antariksa Jadi Tantangan Baru

Tabrakan roket SpaceX tersebut memang tidak menimbulkan bahaya besar bagi manusia di Bumi. Namun, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa sampah antariksa juga dapat menjadi persoalan di Bulan.

Saat ini hanya sedikit benda buatan manusia yang diketahui menghantam Bulan secara tidak terkendali. Namun, jumlahnya berpotensi meningkat dalam beberapa tahun mendatang. Pasalnya, berbagai negara dan perusahaan swasta berencana meningkatkan aktivitas eksplorasi Bulan, termasuk pembangunan pangkalan Bulan milik NASA.

Semakin banyak roket dan wahana antariksa dikirim ke Bulan, semakin besar pula kemungkinan sebagian komponennya berakhir sebagai sampah di sekitar atau bahkan di permukaan satelit alami Bumi tersebut.

Karena itu, kemampuan melacak, memprediksi lintasan, dan mengetahui lokasi jatuhnya benda-benda antariksa akan menjadi semakin penting dalam era eksplorasi Bulan yang semakin ramai.