Konten dari Pengguna

Nini Thowong: Tradisi Bertanya Sebelum Teknologi Mengambil Alih Peradaban

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Medina Fikanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nini Thowong, Boneka kesenian tradisional khas Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Sumber: Dinas Kebudayaan DIY.
zoom-in-whitePerbesar
Nini Thowong, Boneka kesenian tradisional khas Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Sumber: Dinas Kebudayaan DIY.

Dulu, manusia mencari jawaban melalui tradisi, kepercayaan, dan petunjuk dari sesuatu yang berada di luar dirinya. Kini, cukup dengan membuka layar ponsel dan mengetik pertanyaan, kecerdasan buatan dapat memberikan jawaban dalam hitungan detik.

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, cara manusia mencari informasi ikut mengalami perubahan. Jika dahulu pengetahuan dan jawaban diperoleh melalui pengalaman, cerita turun-temurun, tokoh masyarakat, hingga berbagai tradisi lokal, kini mesin pencari dan kecerdasan buatan menjadi bagian dari keseharian.

Salah satu tradisi yang menarik untuk dilihat dalam konteks perubahan tersebut adalah Nini Thowong, kesenian tradisional masyarakat di Dusun Grudo, Pundong, Bantul, Yogyakarta. Nini Thowong telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2018 dan tercatat telah berkembang di Grudo sejak 1938.

Dalam praktik tradisionalnya, Nini Thowong bukan hanya sebuah boneka yang dimainkan. Tradisi ini memiliki unsur ritual dan kepercayaan yang kuat. Dalam sejumlah kajian, Nini Thowong disebut pernah digunakan untuk berbagai keperluan seperti meminta keselamatan, pengobatan, memanggil hujan, hingga mencari barang yang hilang. Dalam ritual tertentu, pertanyaan dapat diajukan kepada Nini Thowong dan responsnya ditunjukkan melalui gerakan seperti mengangguk atau menggeleng.

Tradisi Bertanya di Masa Lalu

Pada masa ketika teknologi informasi belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, manusia memiliki cara yang berbeda untuk memperoleh jawaban. Pengetahuan tidak selalu datang dari buku atau layar, tetapi juga dari lingkungan sosial, pengalaman, kepercayaan, dan tradisi yang diwariskan antargenerasi.

Nini Thowong menjadi salah satu gambaran bagaimana masyarakat membangun hubungan dengan sesuatu yang dipercaya dapat memberikan petunjuk. Boneka yang dibuat menyerupai manusia tersebut menjadi bagian dari praktik tradisional yang melibatkan pawang, permainan, lagu, serta ritual.

Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan manusia untuk bertanya sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Yang berubah adalah kepada siapa atau kepada apa pertanyaan tersebut diarahkan.

Dahulu, seseorang mungkin mencari petunjuk melalui tradisi dan orang yang dianggap memiliki kemampuan tertentu. Hari ini, seseorang dapat mengajukan pertanyaan yang sama kepada mesin pencari atau chatbot berbasis kecerdasan buatan.

Dari Nini Thowong ke Mesin Pencari jawaban

Perubahan tersebut semakin terlihat ketika internet mulai menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Informasi yang sebelumnya membutuhkan waktu untuk ditemukan perlahan dapat diperoleh hanya dengan beberapa kata kunci.

Mesin pencari kemudian mengubah kebiasaan manusia dalam memperoleh pengetahuan. Pertanyaan yang dahulu mungkin harus ditanyakan kepada orang lain, dicari dalam buku, atau dipelajari melalui pengalaman, dapat ditemukan melalui layar dalam waktu singkat.

Namun, perkembangan teknologi tidak berhenti pada mesin pencari.

Kemunculan kecerdasan buatan membawa perubahan yang lebih besar. AI tidak hanya menampilkan daftar informasi, tetapi dapat merespons pertanyaan menggunakan bahasa yang menyerupai percakapan manusia. Pengguna dapat meminta penjelasan, merangkum informasi, mencari ide, hingga berdiskusi mengenai suatu persoalan.

Di titik inilah muncul sebuah pertanyaan menarik: apakah AI menjadi bentuk baru dari kebiasaan manusia untuk mencari jawaban?

Ketika AI Menjadi “Tempat Bertanya”

Jika Nini Thowong dalam konteks tradisinya menjadi salah satu medium untuk memperoleh petunjuk, AI hadir dengan mekanisme yang sama sekali berbeda.

AI bekerja berdasarkan data, model komputasi, dan pola bahasa. Ia tidak memiliki kemampuan supranatural dan tidak dapat dianggap sebagai pengganti kebenaran, pengalaman manusia, atau otoritas budaya. Jawaban yang diberikan AI juga tetap perlu diperiksa karena sistem tersebut dapat menghasilkan informasi yang keliru atau tidak lengkap.

Namun, dari sisi perilaku manusia, terdapat sebuah kesamaan yang menarik.

Manusia memiliki pertanyaan. Manusia kemudian mencari sesuatu yang dianggap dapat membantu memberikan jawaban.

Dulu, medium pencarian jawaban dapat berupa tradisi. Kini, medium tersebut dapat berupa teknologi.

Perbedaannya terletak pada cara memperoleh jawaban dan dasar kepercayaan yang digunakan.

Teknologi Mengubah Cara, Bukan Kebutuhan Manusia

Perkembangan teknologi sering dianggap membuat tradisi semakin jauh dari kehidupan modern. Namun, hubungan antara Nini Thowong dan AI justru dapat dibaca dari sudut pandang yang berbeda.

Keduanya tidak perlu ditempatkan sebagai sesuatu yang saling menggantikan.

Nini Thowong merupakan bagian dari warisan budaya yang memiliki sejarah, simbol, praktik, dan konteks sosial tertentu. Sementara itu, AI merupakan teknologi modern yang dirancang untuk memproses informasi dan membantu manusia dalam berbagai aktivitas.

Membandingkan keduanya bukan berarti menyamakan fungsi atau kebenaran yang berada di balik masing-masing. Perbandingan tersebut dapat digunakan untuk melihat perubahan cara manusia mencari kepastian, petunjuk, dan pengetahuan dari satu zaman ke zaman berikutnya.

Jika dahulu seseorang membutuhkan pawang dan sebuah tradisi untuk mendapatkan petunjuk, sekarang seseorang dapat membuka ponsel dan mengetik pertanyaan kepada AI.

Teknologinya berubah. Kebiasaan bertanyanya tetap ada.

Ketika Budaya Bertemu Teknologi

Di tengah perkembangan AI, keberadaan tradisi seperti Nini Thowong juga menghadirkan tantangan sekaligus peluang.

Teknologi digital dapat membantu memperkenalkan tradisi kepada generasi yang mungkin tidak pernah menyaksikannya secara langsung. Dokumentasi, arsip digital, artikel, video edukasi, dan berbagai bentuk publikasi dapat membuat pengetahuan mengenai Nini Thowong lebih mudah ditemukan.

Namun, digitalisasi juga perlu dilakukan dengan hati-hati.

Tradisi tidak seharusnya hanya dipandang sebagai objek visual atau sesuatu yang menarik karena unsur mistisnya. Di balik sebuah pertunjukan terdapat sejarah, masyarakat pendukung, nilai budaya, serta konteks yang membentuknya.

Ketika tradisi dipindahkan ke ruang digital, penting untuk memastikan bahwa popularitas tidak menghilangkan konteksnya.

Dengan begitu, teknologi tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk membuat budaya menjadi viral, tetapi juga sebagai sarana untuk membuat masyarakat memahami alasan sebuah tradisi tetap memiliki arti.

Dari Bertanya kepada Tradisi hingga Bertanya kepada AI

Perjalanan dari Nini Thowong menuju AI sebenarnya bukan sekadar perjalanan dari masa lalu menuju masa depan.

Ia adalah gambaran mengenai perubahan hubungan manusia dengan pengetahuan.

Manusia selalu memiliki pertanyaan. Ketika pengetahuan yang dimiliki terasa belum cukup, manusia akan mencari sumber lain untuk membantu menemukan jawaban. Bentuk sumber tersebut berubah seiring perkembangan zaman.

Dahulu, jawabannya bisa dicari melalui tradisi dan kepercayaan. Kemudian datang buku, pendidikan formal, media massa, internet, mesin pencari, hingga kini kecerdasan buatan.

Setiap teknologi baru membuat proses mencari jawaban menjadi lebih cepat. Namun, kecepatan tersebut juga membawa tanggung jawab baru: manusia perlu menentukan apakah jawaban yang diterimanya benar, relevan, dan layak dipercaya.

Kesimpulan

Nini Thowong dan AI berasal dari dunia yang sangat berbeda. Nini Thowong merupakan bagian dari tradisi budaya yang memiliki sejarah panjang dan konteks ritual dalam masyarakat pendukungnya, sementara AI merupakan hasil perkembangan teknologi komputasi modern.

Namun, keduanya dapat memperlihatkan satu hal yang sama: manusia selalu mencari cara untuk menjawab pertanyaan yang mereka miliki.

Perbedaannya, jika dahulu manusia mencari petunjuk melalui tradisi, kini mereka semakin sering mencarinya melalui teknologi.

Karena itu, perkembangan AI tidak harus dipandang sebagai akhir dari tradisi. Justru, teknologi dapat menjadi ruang baru untuk mengenalkan kembali tradisi kepada generasi yang hidup di dalam dunia digital.

Pada akhirnya, mungkin bukan Nini Thowong yang benar-benar tergantikan oleh AI. Yang berubah hanyalah tempat manusia bertanya dan melanjutkan kehidupan peradaban yang baru.