Konten dari Pengguna

Pengendalian Hama Terpadu untuk Menjaga Produktivitas Kopi Sangir

Zahlul Ikhsan

Zahlul Ikhsan

Dosen Universitas Andalas

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zahlul Ikhsan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penggerek buah kopi atau PBKo (Hypothenemus hampei) merupakan salah satu hama penting pada tanaman kopi. Ukurannya kecil, tetapi dampaknya besar karena kumbang betina masuk ke dalam buah, menggerek biji, lalu berkembang biak di dalamnya. Serangan yang tidak terkendali bukan hanya menurunkan hasil panen, tetapi juga dapat merusak mutu biji dan menurunkan nilai ekonomi kopi.

Persoalan inilah yang menjadi salah satu fokus Program Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Agro-Preneurship Kopi Sangir: Integrasi Pengendalian Hama Terpadu dan Budidaya Berbasis GAP di Kelompok Tani Green Agro Pasca Bencana Hidrometeorologi 2025” yang berlangsung dari April hingga Desember 2026.

Program ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (DPPM Kemdiktisaintek) Tahun Anggaran 2026. Tim diketuai oleh Dr. Zahlul Ikhsan dari Universitas Andalas dengan anggota Dr. Afrianingsih Putri dari Universitas Andalas, Pajri Ananta Yudha, S.P., M.P. dari Universitas Riau, serta tim mahasiswa. Kegiatan dilaksanakan bersama Kelompok Tani Green Agro di Nagari Lubuk Gadang Selatan, Kabupaten Solok Selatan, yang diketuai oleh Supriyanto, S.P. Pada 24 Juli 2026, sebanyak 25 anggota kelompok tani mengikuti pelatihan Pengendalian Hama Terpadu pada Tanaman Kopi serta pembuatan perangkap penggerek buah kopi.

Pemaparan materi PHT tanaman kopi oleh tim pengabdian

PBKo perlu mendapat perhatian karena seluruh siklus perkembangannya berkaitan erat dengan buah kopi. Kumbang betina menyerang buah mulai sekitar delapan minggu setelah berbunga hingga menjelang panen. Buah yang lebih tua cenderung lebih disukai. Serangan awal juga sering terjadi pada bagian kebun yang lebih teduh, lembap, atau berada di sekitar batas kebun.

Setelah menemukan buah yang sesuai, kumbang betina menggerek hingga ke dalam biji dan bertelur sekitar 30–50 butir. Telur kemudian menetas menjadi larva yang memakan bagian dalam biji. Larva berubah menjadi kepompong, lalu menjadi kumbang dewasa. Jantan dan betina dapat kawin di dalam buah, lalu sebagian kumbang betina keluar untuk menyerang buah lain dan mengulangi siklus tersebut.

Karakter ini membuat PBKo relatif sulit dikendalikan setelah masuk ke dalam buah. Oleh sebab itu, tindakan pengendalian perlu diarahkan pada pencegahan, pemantauan populasi, serta pemutusan siklus hidup hama sebelum serangannya meluas.

Salah satu prinsip penting yang disampaikan dalam pelatihan adalah menjaga kebersihan dan sanitasi di kebun. Buah kopi yang tertinggal setelah panen, baik yang masih menempel di pohon maupun yang jatuh ke tanah, berpotensi menjadi tempat hidup PBKo. Materi pelatihan menyebutkan bahwa pada buah tua dan kering yang tertinggal setelah panen dapat ditemukan lebih dari 100 individu PBKo. Karena itu, membersihkan kebun dari buah sisa merupakan langkah sederhana tetapi sangat penting dalam memutus sumber infestasi.

Prinsip ini menjadi bagian dari pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Dalam PHT, pengendalian tidak selalu dimulai dengan penyemprotan pestisida. Petani terlebih dahulu mengamati kondisi kebun, mengenali jenis dan tingkat serangan hama, menjaga sanitasi, serta memanfaatkan berbagai teknik pengendalian yang lebih ramah terhadap ekosistem.

Pengelolaan hama juga perlu mempertimbangkan keberadaan organisme yang secara alami membantu mengendalikan populasi hama. Materi pelatihan memperkenalkan beberapa predator seperti kumbang koksi, belalang sembah, dan laba-laba, serta kelompok parasitoid yang hidup di ekosistem kebun kopi.

Keberadaan musuh alami ini menjadi alasan penting mengapa penggunaan pestisida harus dilakukan dengan bijaksana. Penyemprotan yang berlebihan berpotensi mematikan organisme bermanfaat dan justru mengganggu keseimbangan ekosistem. Dalam konsep PHT, tujuan pengendalian bukan memusnahkan seluruh serangga di kebun, melainkan menjaga populasi organisme pengganggu agar tidak berkembang hingga menimbulkan kerugian ekonomi.

Bagian utama pelatihan pada 24 Juli 2026 adalah pelatihan pembuatan perangkap PBKo. Teknologi yang diperkenalkan relatif sederhana karena menggunakan bahan yang mudah diperoleh, salah satunya adalah botol air mineral bekas berukuran 1,5 liter.

Pada bagian tengah botol dibuat dua lubang berbentuk jendela berukuran sekitar 5 × 6 sentimeter yang saling berhadapan. Lubang tersebut menjadi jalur masuk bagi kumbang yang tertarik pada aroma atraktan. Bagian dasar botol diisi dengan campuran air bersih dan sabun pencuci piring cair.

Atraktan dibuat menggunakan alkohol dan spiritus dengan perbandingan 1:1. Dalam contoh pelatihan, 10 mililiter alkohol dicampurkan dengan 10 mililiter spiritus. Campuran dimasukkan ke dalam plastik kecil, kemudian diberi lubang agar aromanya keluar, lalu digantung di bagian dalam perangkap.

Perangkap kemudian dipasang pada ranting kopi dengan posisi bagian bawah botol sekitar 1 meter dari permukaan tanah. Materi pelatihan menggunakan acuan sekitar 25 perangkap per hektare kebun, dengan jarak pemasangan yang relatif merata. Hasil tangkapan diamati setelah 3 dan 6 hari untuk menghitung jumlah imago PBKo yang masuk ke dalam perangkap.

Teknologi sederhana ini menunjukkan bahwa inovasi pertanian tidak selalu harus mahal atau rumit. Yang lebih penting adalah kemampuan memahami perilaku hama dan menerjemahkannya menjadi metode pengendalian yang mudah diterapkan oleh petani.

Perangkap PBKo tidak hanya berfungsi untuk menekan populasi kumbang. Perangkap juga dapat menjadi alat untuk memantau. Jumlah kumbang yang tertangkap dapat memberikan gambaran tentang aktivitas PBKo di suatu bagian kebun. Jika tangkapan meningkat, petani dapat melakukan pengamatan lebih intensif pada tanaman di sekitar lokasi tersebut, memeriksa buah yang terserang, serta memperkuat sanitasi kebun.

Dengan demikian, keputusan pengendalian tidak semata-mata didasarkan pada kebiasaan, melainkan pada kondisi nyata yang ditemukan di lapangan. Cara pandang ini penting dalam pertanian modern. Petani perlu semakin terbiasa melakukan pengamatan, mencatat perubahan, dan menjadikan data sederhana dari kebun sebagai dasar pengambilan keputusan.

Pelatihan juga membahas beberapa organisme pengganggu lain yang dapat ditemukan pada tanaman kopi. Salah satunya adalah penggerek cabang dari kelompok Xylosandrus yang menyerang ranting atau cabang, termasuk bagian tanaman yang sudah tua atau sakit. Serangan dapat menyebabkan cabang tidak lagi berbuah.

Hama lain adalah Zeuzera coffeae yang menggerek batang atau cabang. Akibat gerekan, bagian tanaman di atas lubang serangan dapat mengalami pertumbuhan terhambat, layu, mengering, bahkan mati. Pengenalan berbagai jenis hama ini penting karena tindakan pengendalian harus didahului dengan identifikasi yang tepat. Gejala yang berbeda membutuhkan pendekatan pengelolaan yang berbeda pula.

Pelatihan PHT dan pembuatan perangkap PBKo merupakan kelanjutan dari rangkaian program yang sebelumnya memperkenalkan budidaya kopi berbasis Good Agricultural Practices (GAP). GAP dan PHT pada dasarnya saling melengkapi. GAP membangun fondasi kebun yang sehat melalui pembibitan, pemupukan, pemangkasan, panen, dan pascapanen yang baik. PHT kemudian menjaga tanaman dari tekanan organisme pengganggu melalui pengamatan, sanitasi, pemanfaatan musuh alami, serta teknologi pengendalian yang lebih tepat sasaran.

Foto bersama setelah pelaksanaan pelatihan PHT tanaman kopi

Bagi petani kopi Sangir, pendekatan tersebut menjadi semakin relevan dalam proses pemulihan pascabencana hidrometeorologi. Tantangan tidak hanya terkait pemulihan produksi, tetapi juga bagaimana membangun sistem pertanian yang lebih tangguh terhadap perubahan lingkungan dan serangan organisme pengganggu.

Kualitas kopi tidak hanya ditentukan saat biji memasuki tahap pengolahan. Mutu telah dibangun sejak tanaman berada di kebun. Dari membersihkan buah sisa panen, menjaga musuh alami, mengamati populasi hama, hingga memasang perangkap sederhana, setiap tindakan memiliki peran dalam menjaga produktivitas dan kualitas kopi.

Perangkap dari botol bekas mungkin terlihat sederhana. Namun, ketika digunakan berdasarkan pemahaman yang benar tentang perilaku hama, teknologi tersebut dapat menjadi bagian penting dari upaya membangun kebun kopi Sangir yang lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan.