Perang Dagang AS-China Memanas, Meta Terancam Batal Akuisisi AI Manus
·waktu baca 3 menit

Ketegangan antara Amerika Serikat dan China kembali memanas, kali ini dalam sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Dalam beberapa pekan terakhir, dua langkah besar diambil kedua negara yang menandai eskalasi baru dalam persaingan teknologi global.
Terbaru, regulator industri China meminta Meta, induk perusahaan Facebook, untuk membatalkan rencana akuisisi perusahaan AI Manus senilai 2 miliar dolar AS atau sekitar Rp 30 triliun. Menariknya, permintaan pembatalan ini muncul hampir empat bulan setelah kesepakatan diumumkan pada Desember 2025.
Dalam pernyataan resminya, Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional China (NDRC) menyebut keputusan tersebut diambil sesuai hukum dan regulasi yang berlaku, serta meminta pihak terkait untuk menghentikan transaksi.
Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat juga mengambil langkah tegas dengan menindak perusahaan teknologi asing, khususnya dari China yang dianggap mengeksploitasi model AI milik AS. Praktik ini dikenal sebagai model distillation, yaitu penggunaan model AI untuk melatih sistem lain secara tidak langsung.
Sebagai respons, China dilaporkan akan membatasi perusahaan teknologi domestik, termasuk startup AI, dalam menerima investasi dari Amerika Serikat tanpa persetujuan pemerintah.
Menurut laporan Bloomberg, sejumlah perusahaan seperti Moonshot AI dan StepFun telah diminta untuk menolak pendanaan dari investor AS kecuali mendapat izin resmi. Langkah serupa juga disebut akan diterapkan pada perusahaan besar seperti ByteDance, pemilik TikTok.
Pembatasan ini bertujuan untuk mencegah investor asing menguasai sektor-sektor strategis yang berkaitan dengan keamanan nasional. Regulator China juga khawatir teknologi lokal bisa bocor ke luar negeri, terutama ketika perusahaan domestik mulai berekspansi secara global. Akuisisi Manus oleh Meta menjadi pemicu kekhawatiran tersebut. Sejumlah akademisi di China bahkan mengkritik kesepakatan itu.
Manus Jadi Rebutan
Manus sendiri disebut-sebut sebagai DeepSeek berikutnya dari China. Perusahaan ini mengembangkan agen AI yang mampu melakukan berbagai tugas kompleks, mulai dari membeli properti, membuat game, hingga menganalisis saham dan merencanakan perjalanan.
Pada Desember 2025, Meta mengumumkan akuisisi Manus untuk memperkuat pengembangan AI mereka. Meski didirikan di China, Manus memindahkan kantor pusat dan tim intinya ke Singapura pada 2025, dan kemudian beroperasi melalui perusahaan Butterfly Effect Pte.
Kepala AI Meta, Alexandr Wang, menyebut tim Manus yang berjumlah sekitar 100 orang akan memperkuat ambisi Meta dalam membangun pusat AI di Singapura.
Sorotan Regulasi dan Kontroversi
Tak lama setelah akuisisi diumumkan, Kementerian Perdagangan China langsung melakukan investigasi terkait kepatuhan terhadap regulasi lokal. Pada Maret, bahkan dilaporkan bahwa pendiri Manus dicegah meninggalkan China, meski perusahaan telah diakuisisi.
Sementara laporan Financial Times menyebut kasus ini mencerminkan kekhawatiran pemerintah China terhadap fenomena menjual potensi masa depan ke pihak asing, khususnya di sektor strategis seperti AI.
Selain itu, perpindahan kantor pusat Manus ke luar negeri dinilai berpotensi menjadi celah untuk menghindari regulasi domestik yang dikhawatirkan akan diikuti oleh startup lain. Langkah saling membatasi antara AS dan China ini menunjukkan bahwa persaingan di bidang AI tidak lagi sekadar soal inovasi, tetapi juga menyangkut geopolitik dan keamanan nasional.
Dengan kebijakan yang semakin ketat dari kedua negara, masa depan kolaborasi global di bidang teknologi tampaknya akan semakin kompleks.
