Perpustakaan Nasional Penjaga Sunyi Peradaban Nusantara

Peneliti Pusat Riset Kewilayahan- Badan Riset dan Inovasi Nasional
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Dedi Arman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hampir semua jenis penelitian memerlukan studi pustaka. Walaupun orang sering membedakan antara riset kepustakaan (library research) dan riset lapangan (field research), keduanya tetap memerlukan studi pustaka. Perbedaannya yang utama hanyalah terletak pada tujuan, fungsi dan atau kedudukan studi pustaka dalam masing-masing penelitian itu. (Zed, 2018;1).
Perpustakaan nasional memiliki peran yang penting dalam setiap negara. Salah satu peran perpustakaan nasional di berbagai negara adalah menjaga dan melestarikan koleksi langka yang pernah diproduksi di negara tersebut. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menyimpan berbagai macam koleksi langka, seperti surat kabar, buku, majalah, foto, peta hingga naskah. Para peneliti dan pengunjung sering memanfaatkan berbagai koleksi langka sebagai sumber informasi. Koleksi ini menjadi sumber rujukan para peneliti dari berbagai negara. (Supratman, 2020).
Bagi seorang peneliti sejarah, perpustakaan selalu menjadi pintu masuk untuk memahami masa lalu. Dalam banyak perjalanan riset saya, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) di Medan Merdeka Selatan selalu menjadi tujuan utama. Keistimewaan Perpusnas bukan hanya karena kemegahan bangunannya yang menjulang tinggi di jantung ibukota dengan 24 lantai dan disebut-sebut sebagai salah satu gedung perpustakaan tertinggi di dunia. Hal yang membuat Perpusnas luar biasa adalah kekayaan koleksi yang tersimpan di dalamnya, yang menjadikannya jantung pengetahuan bangsa.
Melangkah ke dalamnya, rasanya seperti memasuki gudang pengetahuan nusantara. Rak demi rak menyimpan jutaan buku, naskah kuno, manuskrip, arsip kolonial, hingga laporan penelitian yang menjadi saksi perjalanan sejarah bangsa. Dari hikayat-hikayat Melayu hingga lontar-lontar, dari arsip administrasi kolonial hingga laporan penelitian dunia, semuanya bercerita tentang masyarakat, budaya, dan peradaban yang membentuk Indonesia. Perpusnas menjadi penjaga sunyi peradaban nusantara, tempat ingatan bangsa dipelihara agar tetap hidup.
Harta Karun bagi Peneliti
Ada semacam pameo yang berkembang di kalangan sejarawan. Tidak sahih rasanya menjadi sejarawan atau peneliti sejarah kalau belum pernah melakukan riset di Perpusnas dan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Itu pula yang saya alami karena menemukan bahwa apa yang tersimpan di sini tidak ada di tempat lain. Dalam berbagai riset, saya memperoleh buku-buku langka tentang Kepulauan Riau yang tidak tersedia di perpustakaan daerah manapun. Koleksi semacam itu memungkinkan saya menelusuri perkembangan sosial, budaya, dan ekonomi kawasan yang jarang terdokumentasikan secara lengkap. Bahkan, sebuah disertasi dari perguruan tinggi di Australia tentang perekonomian Batam masa lampau berhasil saya temukan di Perpusnas, memberikan perspektif internasional yang sangat berharga.
Hal lain yang mengembirakan adalah saat riset sejarah komunitas adat Suku Laut di Kabupaten Lingga, di Perpusnas diperoleh laporan kajian rencana pembangunan pemukiman setelah mereka dirumahkan tahun 1980-an awal. Laporan disertai foto dan juga peta. Dokumen semacam ini nyaris mustahil ditemukan di perpustakaan lain. Momen menemukan dokumen seperti ini selalu menghadirkan kegembiraan tersendiri, seolah-olah kita sedang membuka kembali lembaran cerita yang hampir terlupakan. Bagi seorang peneliti, menjelajahi koleksi itu seperti menemukan harta karun intelektual: setiap dokumen, buku, atau naskah kuno dapat membuka perspektif baru dan memunculkan pemahaman yang sebelumnya tak tersangka.
Perpusnas tidak hanya menjadi gudang naskah dan buku langka, tetapi juga ruang demokrasi pengetahuan. Siapa pun dapat datang untuk membaca, belajar, dan menggali informasi, tanpa memandang latar belakang sosial atau ekonomi. Di ruang baca yang sama, pelajar, mahasiswa, peneliti, maupun masyarakat umum duduk berdampingan menelusuri dunia pengetahuan. Di era digital yang bergerak begitu cepat, perpustakaan tetap relevan karena menyediakan sumber yang terpercaya, terjaga, dan beragam, yang kadang tidak dapat ditemukan di dunia maya.
Setiap koleksi di perpustakaan ini bukan hanya menyimpan kata-kata, tetapi juga pengalaman, nilai, dan cara pandang masyarakat masa lalu. Naskah-naskah Melayu kuno, lontar, arsip sejarah daerah, hingga dokumen penelitian internasional dirawat dengan seksama. Di sanalah sejarah bertemu dengan masa kini, memberi kita pemahaman tentang identitas, akar budaya, dan perjalanan panjang peradaban nusantara. Di dalam kesunyian Perpusnas gagasan tumbuh, pengetahuan dipelihara, dan sejarah diselami. Di sanalah naskah-naskah kuno Nusantara diselamatkan, buku-buku dari berbagai zaman tersimpan, dan laporan penelitian dunia berkumpul.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh arus informasi dan kemudahan digital, Perpusnas tetap berdiri sebagai penjaga sunyi peradaban nusantara. Ia bukan sekadar gedung atau institusi karena ia adalah tempat bangsa ini membaca dirinya sendiri, menelusuri sejarahnya, dan merawat ingatan kolektif agar tetap hidup. Di sanalah kata-kata lama bertemu pikiran baru, naskah kuno bertemu penelitian modern, dan sejarah nusantara menemukan rumahnya yang aman. Perpusnas menjadi surga pengetahuan, di mana generasi kini dan mendatang dapat terus menimba hikmah dari warisan intelektual yang tak ternilai harganya.
Peran perpusnas tidak tergantikan dalam menyediakan sumber-sumber pengetahuan yang dapat dipercaya dan teruji. Perpusnas juga terus beradaptasi dengan perkembangan zaman melalui digitalisasi koleksi dan pengembangan berbagai layanan berbasis teknologi. Upaya ini membuat semakin banyak orang dapat mengakses kekayaan pengetahuan nusantara tanpa dibatasi oleh jarak.
Sebagai lembaga yang memegang mandat pengelolaan pengetahuan bangsa, Perpusnas memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi pusat rujukan intelektual kelas dunia. Ke depan, penguatan layanan perlu diarahkan pada integrasi koleksi digital yang lebih terpadu, peningkatan pengalaman pengguna yang lebih ramah bagi peneliti dan masyarakat, serta pengembangan kurasi koleksi yang mampu menghadirkan narasi sejarah dan kebudayaan nusantara secara lebih hidup. Dengan langkah tersebut, Perpusnas tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan buku dan naskah, tetapi juga sebagai ruang produksi pengetahuan, diplomasi budaya, dan pusat studi naskah Asia Tenggara yang mampu sejajar dengan lembaga-lembaga besar seperti British Library atau National Library Board (NLB) Singapura. (Salahsatu tulisan terpilih dalam lomba artikel perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Perpusnas ke-46 tahun 2026).
