Kumparan Logo

Pesawat Listrik Terbesar Sukses Terbang Perdana, Cuma Habiskan Listrik Rp 80.000

kumparanTECHverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pesawat X1 bertenaga baterai listrik milik Heart Aerospace berbelok ke timur menuju matahari terbit selama penerbangan pertamanya di dekat Plattsburgh, New York, pada Agustus 2026. Foto: Heart Aerospace
zoom-in-whitePerbesar
Pesawat X1 bertenaga baterai listrik milik Heart Aerospace berbelok ke timur menuju matahari terbit selama penerbangan pertamanya di dekat Plattsburgh, New York, pada Agustus 2026. Foto: Heart Aerospace

Era penerbangan listrik mulai menunjukkan perkembangan baru. X1, pesawat listrik bertenaga baterai terbesar di dunia, berhasil melakukan penerbangan perdana di New York, Amerika Serikat. Menariknya, penerbangan selama 27 menit itu hanya menghabiskan listrik senilai kurang dari 5 dolar AS atau sekitar Rp 80 ribu.

X1 mengudara dari Plattsburgh International Airport, New York, saat matahari mulai terbit pada 12 Agustus 2026. Pesawat tersebut menggunakan sistem propulsi listrik dan terbang hingga ketinggian sekitar 335 meter dari permukaan tanah sebelum kembali ke bandara.

Pesawat ini dikembangkan oleh startup asal Swedia, Heart Aerospace. Perusahaan mengatakan seluruh penerbangan X1 hanya mengandalkan baterai dan menghabiskan listrik kurang dari 5 dolar AS.

“Dengan penerbangan perdana X1, Heart Aerospace telah menunjukkan bahwa penerbangan listrik dapat dilakukan pada skala pesawat komersial,” kata Anders Forslund, pendiri sekaligus CEO Heart Aerospace sebagaimana dikutip IFL Science.

Menurut Forslund, pesawat komersial bertenaga listrik berpotensi mengubah model ekonomi industri penerbangan. Teknologi tersebut juga diharapkan dapat menekan biaya perjalanan udara sekaligus memungkinkan layanan penerbangan yang lebih sering, lebih terjangkau, dan lebih ramah lingkungan.

X1 Jadi Pesawat Uji Coba

X1 memiliki bentang sayap mencapai 32,3 meter dengan bobot maksimum saat lepas landas lebih dari 11.339 kilogram. Namun, X1 belum dirancang untuk mengangkut penumpang secara komersial. Pesawat tersebut merupakan platform eksperimental yang digunakan Heart Aerospace untuk mengumpulkan data penerbangan dan mengembangkan teknologi pesawat listrik yang lebih besar.

Data dari X1 nantinya akan digunakan untuk menyempurnakan ES-30, pesawat yang diproyeksikan menjadi produk komersial Heart Aerospace. ES-30 dirancang untuk mengangkut puluhan penumpang dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2031. Prototipe pra-produksi pertama ES-30 saat ini sedang dikembangkan di Los Angeles, Amerika Serikat, sementara penerbangan uji coba pertamanya dijadwalkan berlangsung pada 2028.

video youtube embed

Pengembangan pesawat listrik menarik perhatian bukan hanya karena biaya operasionalnya, tetapi juga karena potensinya mengurangi dampak lingkungan dari penerbangan.

Industri penerbangan menyumbang sekitar 2,5 persen emisi karbon global. Dampaknya terhadap perubahan iklim juga tidak hanya berasal dari emisi karbon, tetapi melibatkan sejumlah faktor lain, termasuk pelepasan gas dan pembentukan jejak uap air di atmosfer.

Peralihan ke pesawat bertenaga listrik berpotensi mengurangi sebagian beban tersebut. Biaya energi juga menjadi salah satu daya tarik. Harga bahan bakar jet rata-rata mencapai sekitar 3,50 dolar AS per galon pada pekan pertama Agustus 2026. Angka itu naik 63 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, antara lain akibat gangguan geopolitik di Timur Tengah dan sebagian penutupan Selat Hormuz.

Jika pesawat listrik dapat dikembangkan untuk penerbangan komersial, penggunaan energi yang lebih murah berpotensi memberikan dampak terhadap biaya operasional maskapai dan harga tiket.

Meski menjanjikan, penerbangan listrik masih menghadapi tantangan teknis yang cukup besar. Salah satu persoalan utamanya adalah baterai.

Baterai memiliki bobot yang relatif berat dan kapasitas energi yang masih terbatas untuk kebutuhan penerbangan. Bahan bakar jet diperkirakan memiliki kepadatan energi sekitar 30 kali lebih tinggi per kilogram dibandingkan sejumlah baterai lithium-ion canggih yang dikembangkan beberapa tahun lalu.

Artinya, pesawat listrik membutuhkan baterai yang jauh lebih efisien dan ringan agar dapat menempuh jarak yang lebih jauh dengan membawa penumpang dan muatan dalam jumlah besar.

Kendati begitu, minat terhadap teknologi tersebut terus meningkat. Heart Aerospace bahkan telah mendapatkan dukungan finansial dari sejumlah investor besar, termasuk Air Canada dan United Airlines.

Kedua maskapai tersebut juga membuka kemungkinan menggunakan ES-30 dalam armada komersial mereka jika rangkaian pengujian pesawat tersebut berhasil.

“Transisi energi dalam penerbangan membutuhkan berbagai solusi, mulai dari efisiensi operasional hingga bahan bakar penerbangan berkelanjutan, dan pada akhirnya pengembangan teknologi pesawat baru,” kata John Di Bert, Executive Vice President sekaligus Chief Financial Officer Air Canada.

Sementara itu, Chief Financial Officer United Airlines Michael Leskinen menilai pesawat listrik memiliki potensi menghadirkan pengalaman perjalanan yang lebih baik bagi penumpang sekaligus memberikan keuntungan bagi bisnis maskapai.

“Kami menantikan pengembangan ES-30 oleh Heart dan potensi perannya di masa depan dalam jaringan United,” ujar Leskinen.

Penerbangan perdana X1 belum berarti pesawat listrik siap menggantikan pesawat berbahan bakar jet dalam waktu dekat. Namun, keberhasilan uji coba ini menjadi salah satu langkah penting untuk membuktikan bahwa penerbangan listrik dalam skala pesawat komersial bukan lagi sekadar konsep di atas kertas.