PESIMISME GLOBAL DAN MANIFESTO AI MARK ZUCKERBERG

Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Firman Kurniawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Apakah manifesto soal artificial intelligence (AI) --yang sering dipelopori oleh pendiri perusahaannya— mampu meresonansi optimisme, atau sekadar pengalih pesimisme yang kian lama tampak realitasnya? Sikap pesimis terhadap posisi manusia di hadapan AI, bukan barang baru. Gejalanya mengiringi eforia global, pascapeluncuran ChatGPT: 30 November 2022. Gegap gempita oleh harapan, menjadi sebagian tema pembincangannya. Sebagian lainnya, tenggelam dalam sikap pesimis terhadap nasib manusia. Institusi maupun pengamat berkelas internasional, mengingatkan sisi muram yang ditampilkan AI ini.
International Monetary Fund, 2023, misalnya, melalui Jeff Kearn --staf finance and development-nya— menyebut adanya dampak berantai AI. Pandangannya termuat di AI’s Reverberations across Finance. Disebutkannya, perangkat AI dapat memperburuk krisis dengan penyebab apa pun. Ini lantaran, AI dilatih dengan data berdasar realita yang telah terjadi. Akibatnya, rekomendasi yang diberikannya tak selalu sesuai dengan kebutuhan masa depan. Dan dengan mengutip istilah yang dipopulerkan sejarawan ekonomi Adam Tooze, itu dapat menimbulkan polikrisis. Keadaan akibat interaksi antar berbagai guncangan --yang secara agregat-- menjadikannya lebih buruk, dibanding guncangan parsialnya.
Sedangkan sikap pesimis yang tergolong baru, terungkap berdasar survei yang diselenggarakan Annenberg Public Policy Center, 2026. Laporannya berjudul Many Americans Pessimistic about AI’s Impact – and Want More Regulation, menyebut: hanya 17% dari responden yang mewakili warga Amerika, percaya AI akan memberikan dampak positif. Itu pun tercapainya pada dekade mendatang. Sedangkan 42% lainnya pesimis. Selain dua kutub pandangan itu, tak kurang dari 65% responden menyatakan: yang telah dilakukan pemerintah untuk mengatur AI terlalu sedikit. Tak cukup melindungi warga AS. Survei yang berlangsung sejak 17 Februari hingga 20 Maret 2026 ini, melibatkan 1.330 warga AS yang telah dewasa dan merepresentasikan seluruh wilayah AS. Karakteristik politiknya lengkap, dari Partai Demokrat, Republik maupun independen.
Didapati, sumber sikap pesimisnya berspektrum luas. Mulai dari yang individual hingga yang global. Yang individual, menyangkut pekerjaan yang selama ini menjadi sumber penghasilan warga AS. Dengan adanya AI, dikhawatirkan waktu kerja jadi berkurang bahkan hilang. Maka penghasilan yang diterima, juga bakal menyusut.
Dan sementara khawatir kehilangan pekerjaan disertai menyusutnya penghasilan, muncul ancaman meningkatnya biaya energi maupun infrastruktur yang harus dikeluarkan. Seluruhnya, akibat persaingan memperebutkan sumberdaya yang juga diperlukan AI. Massifnya operasional AI membutuhkan pembangunan data center. Tiga hal yang dibutuhkan dalam penyelenggaraannya: lahan, pasokan listrik dan ketersediaan air. Air digunakan untuk mendinginkan server, menjaga suhu ruangan tetap stabil, mencegah perangkat mengalami overheat, mengendalikan kelembaban dan menggerakan pembangkit listrik. Kebutuhannya yang besar menciptakan kelangkaan. Ini menaikkan biaya yang harus dikeluarkan.
Kedua hal di atas, memicu munculnya persoalan kesehatan mental. Wujudnya stres, isolasi sosial, dan ketergantungan pada perangkat berbasis AI. Berlangsungnya dapat masing-masing berdiri sendiri, atau sebagai gangguan mental yang simultan. Ketika simultan, stres mendorong seseorang melakukan isolasi sosial. Tindakan asosial ini, disertai perubahan modus relasinya. Yang lantaran manusia adalah mahluk sosial, absennya relasi harus digantikan.
Penggantiannya dapat dipenuhi oleh berbagai aplikasi AI companion: SIRI, Replika CharacterAI, NomiAI, dll. Dan dari kecenderungannya, Imagining the Digital Future, 2026 --lembaga yang memperhatikan dampak perubahan digital dan tantangan sosioteknologis pada manusia -- mendapati massifnya peralihan relasi manusia ke AI companion. Pada tulisannya The Rise of AI Companions, disebutkan: 27% orang dewasa pengguna internet di AS, menggunakan AI untuk memenuhi kebutuhan relasi sosial. Kecenderungannya melonjak signifikan, dibanding 2–3 tahun sebelumnya yang angkanya di bawah 10%. AI yang awalnya digunakan untuk kebutuhan ekonomis produktif, melonjak penggunaannya untuk memenuhi kebutuhan emosional.
Kebutuhan berelasi itu terpenuhi sementara, lantaran penggunanya lambat laun menyadari: tanggapan yang diberikan AI tak alamiah. Terbentuk berdasar operasi komputasional yang sifatnya algoritmik. Ketakalamiahannya jadi pangkal stres yang lebih parah. Atau sebaliknya, justru menciptakan ketergantungan pada perangkat yang lebih dalam. Sebagiannya terdorong oleh tanggapan AI yang palsu tapi memuaskan. Ini disebut sebagai AI Sycophancy. Yang disebut demikian itu, adalah kecenderungan AI yang selalu setuju dengan penggunanya. Tanggapan selalu cepat, ramah, dan mendukung penggunanya. Pada pembahasan yang lain --AI sycophancy ini-- disebut sebagai AI penjilat, karena selalu menyenangkan penggunanya. Sehingga dapat dibayangkan, saat berhadapan dengan pengidap gangguan mental. Alih-alih memperoleh solusi, keinginan buruknya termasuk niat bunuh diri, akan selalu didukung.
Sedangkan yang global, adalah persaingan geopolitik dalam perlombaan merebut supremasi AI. Negara-negara yang berambisi mendudukinya, terlibat dalam ketegangan yang mempengaruhi situasi global. Persaingannya dapat menyeret keterlibatan negara-negara lain, berpihak pada salah satu kubu. Tak ada arbitrase --semacam PBB dalam perang dingin akibat nuklir—menengahi ketegangan akibat AI.
Tak kurang rumitnya pula pada yang global, adalah status dari penciptaan dan hak cipta. Karya sinematografi, fotografi, lukisan, musik, sastra dan karya kreatif lainnya, dapat ditiru sempurna oleh AI. Lalu, jadi hak milik siapakah karya cipta yang dikembangkan berdasar data ciptaan kreator sebelumnya? Ciptaan apa pula yang masih dapat dikembangkan ketika AI mampu menirukan karya apapun? Ini meresahkan.
Selain institusi internasional yang menyuarakan sikapnya terhadap AI, ilmuwan juga turut bersuara. Yuval Noah Harari --sejarawan, penulis buku, dan analis yang pandanganya mempengaruhi sikap khalayak— mengutarakan peringatannya soal AI. Ini termuat di theguardian.com, 2024, berjudul Never Summon a Power You Can’t Control’: Yuval Noah Harari on How AI Could Threaten Democracy and Divide the World. Harari menguraikan soal ancaman yang belum ada sebelumnya. Ancaman yang bersumber dari AI, sebagai teknologi yang dapat mengambil keputusan dan menciptakan ide-ide baru secara mandiri.
Penemuan-penemuan sebelumnya, telah memberdayakan manusia. Namun sehebat apa pun penemuan itu, keputusan penggunaannya tetap ada di tangan manusia. Bom nuklir tak dapat memutuskan pihak yang akan diserangnya. Juga tak dapat meningkatkan kemampuan dan menciptakan bom yang lebih kuat. Sedangkan drone berbasis AI dapat memutuskan sendiri pihak yang akan dibunuh, mampu menciptakan desain baru, strategi militer, juga AI lainnya yang lebih baik. Maka AI bukan alat, tapi agen. Sehingga dalam kategori ini, AI punya kemampuan bertindak tanpa terlalu melibatkan manusia. Karenanya ancaman timbul. Manusia terlanjur memanggil banyak sekali agen baru ke bumi. Agen yang lebih kuat, lebih cerdas dan punya kreativitas tak terbatas, namun tak sepenuhnya dipahami atau dapat dikendalikan.
Maka terhadap berbagai sikap pesimis itu --untuk kesekian kalinya-- para pengembang AI global menulis manifestonya. Ini semacam janji, agar umat manusia tak khawatir. Manifesto yang terbaru, dipublikasikan pada 10 Agustus 2026. Mark Zuckerberg menuliskannya dengan judul The Future is For Everyone.
Dalam pernyataan yang memuat 6500 kata ini, terdapat 3 hal yang dapat ditarik sebagai sarinya. Pertama, Individual Empowerment. Di sini individu diberdayakan dengan dimilikinya AI agen yang membantunya dalam urusan kesehatan, karir, kreativitas, finansial dan relasi. Penguasaan AI dari korporasi dan pemerintah, digeser ke individu. Kedua, Invention over Automation. Ini mendudukkan AI sebagai perangkat untuk menghasilkan penemuan, dan bukan sebagai sekadar alat otomatisasi. Maka sikap pesimis terhadap menyusutnya jam kerja, turunnya pendapatan, bahkan hilangnya pekerjaan tak perlu ada. Otomatisasi oleh AI, digeser ke penemuan obat, ide bisnis, karya cipta. Seluruhnya tak mendudukkan AI sebagai pengganti. Dan ketiga, Balance of Power. Ini ditempuh dengan menolak kebaikan yang hanya bersumber dari satu pihak, ke keseimbangan yang bersumber dari individu, korporasi dan pemerintah.
Ketiga inti sari itu, memosisikan keberpihakan pengembangan AI pada manusia sebagai pemegang supremasi peradaban. Manusia mengendalikan AI, bukan AI menggusur manusia. Namun ketika dalam praktiknya yang terjadi adalah inkonsistensi perusahaan, khalayak tak yakin dengan kesungguhan formulasi 6500 kata Mark Zuckerberg. Misalnya pada bulan Mei 2026, Meta mem-PHK 8.000 karyawan dan diikuti pengalihan anggaran maupun fokus perusahaan pada pengembangan AI. Manifesto yang dikemukakan jadi terasa sebagai lip service belaka. Polesan untuk menutup keburukan setelah menggusur manusia. Kata-katanya terdengar palsu. Karenanya, manifesto itu visi yang benar-benar diniatkan atau sekadar peredam kecemasan saja? Sambil melenggang, membuat kecemasan baru!
Dr. Firman Kurniawan S.Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital Pendiri LITEROS.org
