Pola Komunikasi Masyarakat Modern: Evolusi dan Dampaknya pada Gaya Hidup

Pelajar/SMA BUDI LUHUR Sekedar hobi
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Clarissa Rahmi Aulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan pola komunikasi masyarakat saat ini mengalami perubahan seiring hadirnya teknologi digital, perkembangan yang relatif pesat ini membawa pengaruh signifikan terhadap kehidupan di Masyarakat. Terutama tentang media komunikasi, Media komunikasi adalah sarana atau alat yang digunakan untuk berkomunikasi. Alat komunikasi sudah ada sejak zaman dahulu untuk dijadikan alat untuk berinteraksi satu sama lain. Hingga saat ini, kita tidak heran banyak anak-anak atau orang dewasa bermain game, menggunakan medsos, dan banyak yang menggunakan gadget.
Para ahli komunikasi telah lama meneliti masing-masing elemen komunikasi untuk menentukan peran dari masing-masing elemen dalam menemukan efektivitas komunikasi. Pada umumnya studi komunikasi pada masa lalu lebih menekankan pada upaya bagaimana membujuk (persuasi) sebagai bentuk efek yang diinginkan. Dengan kata lain, pengiriman pesan berusaha meyakinkan orang untuk mau melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Namun perkembangan mutakhir belakangan ini menunjukkan penelitian komunikasi telah semakin luas dalam hal cakupan efek yang dipelajari. Komunikasi tidak hanya terbatas pada upaya membujuk tetapi juga upaya memaksa.
Dengan perkembangan teknologi, komunikasi menjadi lebih mudah bisa melalui aplikasi maupun media social, contoh melalui aplikasi WhatsApp atau media sosial seperti Instagram. Namun dengan berkembangnya alat komunikasi sering terjadi permasalahan seperti penipuan, penyebaran informasi pribadi, penyebaran ujaran kebencian (cyberbullying) masih banyak lagi. Di artikel ini kita akan membahas tentang perkembangan dari orde lama hingga masa kini.
A. Media Informasi Orde lama
Saat Orde Lama (1945-1965), ada pers yang bertugas menyampaikan berita dengan beragam bentuk, mulai dari radio, surat kabar, dll. Media Informasi pada Orde Lama adalah awal sejarah Indonesia yang menggunakan media cetak dan radio untuk menyebarkan banyak informasi penting mengenai negara. Pada Orde Lama akses media informasi masih sangat terbatas, tentunya dengan adanya media cetak dan radio sangat berperan besar pada masa awal kemerdekaan. Media cetak seperti surat kabar dan majalah berguna untuk memberikan informasi tentang gagasan-gagasan yang menyatakan tentang Indonesia sebagai negara merdeka dan berdaulat. Pada masa ini media juga memiliki kelebihan lain yaitu sebagai sarana hiburan dan menyebarkan kebudayaan di masyarakat. Sejarah pers bangsa Indonesia pada masa Orde Lama sangatlah panjang dan banyak sekali hal-hal yang terjadi di dalamnya. Ketika Orde Lama pers dibagi menjadi tiga masa, yaitu masa revolusi fisik, masa demokrasi liberal, dan masa demokrasi terpimpin.
1. Masa Revolusi Fisik
Masa revolusi fisik adalah di mana Bangsa Indonesia sangat berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan.
2. Masa Demokrasi Liberal
Karena adanya pengakuan kedaulatan oleh dunia Internasional, sistem pemerintahan di Indonesia juga berubah menjadi demokrasi liberal atau menganut kebebasan individu. Dengan adanya perubahan sistem maka berpengaruh juga pada sistem pers di Indonesia.
3.Demokrasi Terpimpin
Terjadi karena adanya banyak masalah politik yang terus terjadi,sampai pada tanggal 5 Juli 1959, Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden yang berisi tentang menetapkan pembubaran Badan Konstituante. Menetapkan berlakunya kembali Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS) 1950. Serta, membentuk Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) dan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS) (Pratama & Redaksi, 2020).
B. Media informasi Orde Baru
Orde Baru merupakan masa pemerintahan Indonesia yang dipimpin oleh Presiden Soeharto dan berlangsung dari tahun 1966 hingga 1998. Pada masa ini, pemerintah berfokus pada stabilitas politik, pembangunan ekonomi, dan pembangunan nasional. Dalam bidang politik, Golkar menjadi kekuatan politik yang dominan dan partai politik disederhanakan melalui fusi. Dalam bidang ekonomi, pemerintah menjalankan program Pembangunan Lima Tahun (Pelita) untuk meningkatkan pembangunan di berbagai bidang, seperti pertanian, infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan. (Pratama & Redaksi, Pers di Era Orde Baru, 2020)
Kebebasan Pers dan Media
Pada masa Orde Baru, kebebasan pers di Indonesia sudah diakui oleh pemerintah. Kebebasan pers dicantumkan dalam UU RI No. 11 Tahun 1966, yang menyatakan bahwa kebebasan pers bukan berarti kebebasan tanpa batas, tetapi kebebasan untuk menyatakan kebenaran dan keadilan. Pemerintah juga menjanjikan kebebasan pers melalui prinsip-prinsip dasar pers. Namun, seiring berjalannya waktu, kebebasan pers mulai tergerus. Menurut catatan sejarah, sekitar 70 surat kabar pernah dibredel oleh pemerintah. Sejumlah wartawan juga ditangkap dan diasingkan. Pembredelan tersebut salah satunya dilakukan untuk membatasi kritik terhadap pemerintah. Pemerintah juga mengawasi berbagai media massa, seperti surat kabar, majalah, radio, dan televisi. TVRI menjadi salah satu media televisi utama dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Karena media berada dalam pengawasan pemerintah, informasi yang bersifat kritis terhadap pemerintah menjadi terbatas. (Yasin, 2025)
Pola Komunikasi
Keadaan tersebut membuat pola komunikasi pada masa Orde Baru cenderung satu arah. Informasi lebih banyak disampaikan dari pemerintah melalui media kepada masyarakat. Masyarakat lebih banyak menjadi penerima informasi dan memiliki ruang yang terbatas untuk menyampaikan kritik melalui media massa.
Akhir Masa Orde Baru
Pada akhir masa Orde Baru, Indonesia mengalami krisis ekonomi 1997–1998 yang disertai demonstrasi dan tuntutan Reformasi. Akhirnya, Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998, sehingga masa Orde Baru berakhir dan Indonesia memasuki Era Reformasi.
C. Sosial Media dan Gaya Hidup
Perkembangan alat komunikasi dalam beberapa dekade terakhir seperti gadget, internet, dan media sosial telah membantu komunikasi sehari-hari. Masyarakat mendapatkan informasi lebih cepat dan mudah. Dari ilmu pengetahuan, berita terkini, hiburan semuanya dapat diakses dari gadget. Peluang ekonomi baru seperti Shopee, Tokopedia, Lazada juga membuka peluang bisnis jarak jauh kepada penjual di luar sana. (P, 2025)
Selain itu, hadirnya platform seperti Tiktok, Twitter, Facebook dan beberapa media sosial lain nya membentuk gaya hidup yang baru. Tidak hanya menjadi sarana ekspresi ataupun sebuah hiburan melainkan perkembangan tersebut melahirkan gaya hidup yang baru seperti tren busana, pola konsumsi, menjadi standar estetika ataupun gaya hidup dan munculnya fenomena FOMO (Fear of Missing Out). Paparan media sosial yang berlebihan ini dapat memicu masalah sosial mulai dari penurunan rasa percaya diri akibat perbandingan sosial, berkurang nya interaksi di dunia nyata, maraknya penyebaran hoaks yang makin sulit dikendalikan, hingga penggunaan AI yang mulai merajalela.
Ada kekhawatiran yang meningkat tentang pengaruh negatifnya terhadap kesehatan mental dan emosional individu, terutama di kalangan remaja dan generasi muda. Penelitian telah menunjukkan bahwa penggunaan yang berlebihan dari media sosial dapat berhubungan dengan peningkatan tingkat kecemasan, depresi, dan isolasi sosial. Fenomena seperti cyberbullying dan perundungan online juga menjadi masalah serius yang muncul dengan maraknya interaksi melalui media sosial. Media sosial juga mempengaruhi bagaimana individu mengkonstruksi identitas sosial dan budaya mereka. Melalui platform ini, orang dapat mengekspresikan preferensi, nilai-nilai, dan pandangan mereka terhadap berbagai isu sosial dan politik.
Ini menciptakan ruang bagi pengembangan identitas kolektif yang kuat dalam komunitas tertentu, serta memfasilitasi gerakan sosial dan kampanye advokasi. Namun demikian, ada juga kekhawatiran tentang homogenisasi budaya yang mungkin terjadi akibat dominasi media sosial global. Penggunaan yang berlebihan dari platform tersebut dapat memperkuat stereotip dan norma-norma tertentu, sementara mengabaikan keragaman budaya yang sebenarnya. (Binus University Faculty Of Economics And Communication, 2022)
Untuk mengatasi berbagai masalah yang ada di dalam dunia maya seperti cyberbullying atau perundungan siber, masyarakat pengguna alat komunikasi perlu mengambil langkah yang tepat secara mandiri. Hal ini dapat dilakukan dengan membatasi screen time, menjaga keseimbangan interaksi antara dunia maya dan kehidupan nyata, serta memanfaatkan beberapa fitur keamanan digital seperti memblokir (block) atau melaporkan (report) akun-akun yang merugikan. Oleh karena itu, kemajuan teknologi komunikasi dan hadirnya media sosial membawa dampak yang sangat besar di dalam masyarakat baik dari segi ekonomi, interaksi sosial maupun gaya hidup. Oleh karena itu pemanfaatan teknologi secara bijak dan kritis menjadi kunci utama agar masyarakat dapat menikmati dampak positifnya tanpa harus mengorbankan nilai-nilai sosial seperti etika atau norma, dan kesehatan mental di era digital, sehingga masyarakat tidak ikut terjerumus dalam sisi negatif perkembangan alat komunikasi.
