Konten dari Pengguna

Saat Hutan Menyusut, 1.064 Tumbuhan “Diselamatkan” di Kebun Raya BRIN, Cukupkah?

Yudi Suhendri

Yudi Suhendri

Analis Pemanfaatan Iptek Ahli Pertama di Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah BRIN

·waktu baca 5 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yudi Suhendri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh: Yudi Suhendri, Tri Utomo Zelan Noviandi, Hari Prabowo dan I Made Sumerta

Koleksi ratusan spesies, termasuk yang hampir punah dan bahkan telah hilang di alam, menunjukkan peran penting kebun raya. Namun, dominasi hasil propagasi dan tekanan terhadap habitat alami memunculkan pertanyaan baru tentang arah konservasi tumbuhan di Indonesia.

Di tengah laju kehilangan hutan dan tekanan perubahan iklim, nasib tumbuhan Indonesia kian tidak pasti. Sebagian menghilang sebelum sempat diteliti, apalagi dimanfaatkan. Di saat yang sama, upaya penyelamatan dilakukan, salah satunya, melalui kebun raya.

Sepanjang tahun 2025, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah, Fungsi Penerimaan dan Aksesi Koleksi Ilmiah mencatat penerimaan 1.064 spesimen koleksi tumbuhan hidup pada jaringan kebun rayanya. Koleksi ini tersebar di Kebun Raya Bogor (430 spesimen), Kebun Raya Cibodas (127 spesimen), Kebun Raya Purwodadi (134 spesimen), Kebun Raya Bali (102 spesimen) dan Kebun Raya Cibinong (271 spesimen).

Namun, di balik angka tersebut, ada fakta menarik: lebih dari separuh koleksi berasal dari hasil propagasi atau perbanyakan, yakni sebanyak 590 spesimen, sementara sisanya diperoleh dari kegiatan eksplorasi di habitat alami.

Temuan ini menunjukkan bahwa kebun raya tidak hanya berperan sebagai tempat penyelamatan, tetapi juga sebagai pusat pengembangbiakan koleksi terutama untuk jenis-jenis langka dan rentan hilang.

Menyelamatkan yang Hampir Hilang

Dari total koleksi yang diterima, terdapat 189 jenis tumbuhan dari 66 famili dan beberapa di antaranya termasuk ke dalam kategori terancam menurut IUCN Red List. Tercatat, terdapat: 2 jenis berstatus Critically Endangered (CR); 19 jenis Endangered (EN); 10 jenis Vulnerable (VU); bahkan 1 jenis berstatus Extinct in the Wild (EW).

Status Extinct in the Wild berarti spesies tersebut sudah tidak lagi ditemukan di habitat alaminya. Dalam kondisi ini, kebun raya menjadi satu-satunya tempat bagi spesies tersebut untuk bertahan.

Beberapa jenis penting yang berhasil diamankan antara lain Mangifera casturi, Syzygium ampliflorum, Vatica venulosa, Syzygium discophorum, Dipterocarpus retusus, Dryobalanops aromatica dan Guioa asquamosa. Nama-nama yang mungkin tidak populer, tetapi memiliki nilai ilmiah, konservasi, ekologis dan potensi pemanfaatan di masa depan.

Propagasi vs Eksplorasi: Strategi atau Sinyal Krisis?

Dominasi hasil propagasi dalam penerimaan koleksi membuka dua sisi perspektif.

Di satu sisi, ini merupakan strategi konservasi yang efektif. Perbanyakan memungkinkan jenis-jenis langka yang sebelumnya hanya tersisa satu individu dapat diselamatkan dan diperbanyak, sehingga risiko kehilangan koleksi dapat ditekan.

Namun di sisi lain, kondisi ini juga bisa dibaca sebagai sinyal terbatasnya akses terhadap sumber daya di alam. Semakin sedikit eksplorasi yang berhasil mendapatkan spesies baru, bisa jadi mencerminkan semakin sulitnya menemukan tumbuhan di habitat aslinya.

Pertanyaannya kemudian: apakah kebun raya mulai lebih banyak “mempertahankan yang ada” dibandingkan “menyelamatkan yang tersisa di alam”?

Teknisi Litkayasa Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah - BRIN melakukan propagasi tumbuhan terancam Cunninghamia konishii secara vegetatif (stek) di KKI Kebun Raya Cibodas, Cianjur, Jawa Barat, Kamis (2/10/2025). Foto: Yudi Suhendri/DPKI BRIN.

Tidak Sekadar Mengumpulkan

Penerimaan tumbuhan mencerminkan upaya menjaga representasi keanekaragaman flora Indonesia. Sepuluh famili yang mendominasi penerimaan tumbuhan di kebun raya antara lain Orchidaceae, Arecaceae, Fabaceae, Myrtaceae, Dipterocarpaceae, Anacardiaceae, Malvaceae, Moraceae, Oxalidaceae, dan Vitaceae.

Kebun Raya Bogor mencatat peneriman tumbuhan sebanyak 79 spesies (22 famili), Cibodas 47 spesies (34 famili), Purwodadi 21 spesies (14 famili), Bali 22 spesies (11 famili) dan Cibinong 34 spesies (23 famili). Ini mencerminkan spesialisasi koleksi, tetapi sekaligus menunjukkan ruang perbaikan dalam pemerataan keanekaragaman.

Meski demikian, tantangan masih ada. Beberapa kelompok tumbuhan dari ekosistem tertentu masih belum terwakili secara optimal. Hal ini menunjukkan bahwa perlunya strategi eksplorasi dan penerimaan ke depan agar lebih merata, berbasis ekosistem dan terarah.

Disesuaikan dengan Lingkungan

Setiap kebun raya memiliki karakteristik ekologis yang berbeda, sehingga penerimaan tumbuhan hidup juga disesuaikan dengan kesesuaian habitatnya.

  • Kebun Raya Bogor berfokus pada tumbuhan dataran rendah basah terutama dari wilayah tropis;

  • Kebun Raya Cibodas mengkoleksi tumbuhan dataran tinggi (pegunungan) basah termasuk jenis-jenis subtropis;

  • Kebun Raya Purwodadi mengkoleksi tumbuhan dataran rendah kering, termasuk flora dari kawasan musim kering;

  • Kebun Raya Eka Karya Bali menitikberatkan pada tumbuhan dataran tinggi (pegunungan) kering dan kawasan Indonesia Timur; dan

  • Kebun Raya Cibinong mengelompokkan koleksi tumbuhannya berdasarkan ekoregion pulau-pulau besar di Indonesia.

Pendekatan ini penting untuk memastikan bahwa tumbuhan tidak hanya dikoleksi, tetapi juga dapat tumbuh optimal, sekaligus mempertahankan nilai konservasi dan ilmiahnya.

Tantangan: Data hingga Perubahan Iklim

Meski capaian penerimaan cukup signifikan, sejumlah persoalan masih mengemuka.

Kelengkapan data menjadi salah satu isu utama. Tidak semua koleksi memiliki informasi detail mengenai asal-usul dan kondisi habitatnya.

Selain itu, ketimpangan komposisi koleksi dan tekanan perubahan iklim menjadi tantangan serius. Beberapa spesies yang sangat spesifik terhadap habitatnya berisiko tidak mampu beradaptasi dalam kondisi kebun raya.

Keterbatasan sumber daya juga menjadi faktor pembatas dalam pengelolaan koleksi yang terus bertambah.

Cukupkah Upaya Ini?

Penerimaan 1.064 spesimen tentu merupakan capaian penting. Namun, di tengah krisis biodiversitas yang terus berlangsung, upaya ini belum cukup jika berdiri sendiri.

Konservasi ex situ perlu berjalan beriringan dengan perlindungan habitat alami. Tanpa itu, kebun raya berisiko menjadi “ruang terakhir” bagi spesies yang telah hilang di alam.

Periset dari Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi - BRIN menyerahkan 20 spesimen koleksi ilmiah Tumbuhan Hidup hasil eksplorasi dari Taman Nasional Gunung Maras Kepulauan Bangka Belitung ke KKI Kebun Raya Cibodas, Cianjur, Jawa Barat, Kamis (12/8/2025). Foto: Yudi Suhendri/DPKI BRIN.

Menjaga yang Tersisa

Dominasi propagasi dalam penerimaan koleksi menunjukkan satu hal: upaya penyelamatan semakin bergeser ke dalam kebun raya.

Di satu sisi, ini memberi harapan. Namun di sisi lain, ini juga menjadi pengingat bahwa ruang hidup tumbuhan di alam semakin menyempit.

Jika tren ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin kebun raya akan menjadi satu-satunya tempat di mana sebagian flora Indonesia masih bisa ditemukan.

Dan ketika itu terjadi, kita tidak hanya kehilangan tumbuhan di alam, tetapi juga kehilangan ekosistem yang menopang kehidupan itu sendiri.