Konten dari Pengguna

Scroll, Like, Repeat: Kita yang Memilih Konten, atau Konten yang Memilih Kita?

Hafiz Alghifari

Hafiz Alghifari

mahasiswa teknik elektro universitas pamulang

ยทwaktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hafiz Alghifari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Gambar AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Gambar AI

Saat ini, media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi muda. Hampir setiap hari kita membuka media sosial untuk melihat informasi, hiburan, atau sekadar mengisi waktu luang. Saya sendiri sering mengalami hal tersebut. Awalnya saya hanya ingin membuka media sosial sebentar untuk melihat beberapa video atau unggahan terbaru. Namun, setelah satu konten selesai, muncul konten lain yang menarik sehingga saya terus melakukan scrolling. Tanpa terasa, waktu yang awalnya hanya ingin digunakan beberapa menit bisa menjadi cukup lama.

Kebiasaan seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi sebenarnya media sosial memiliki pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan kita. Media sosial sekarang tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi atau mencari hiburan, tetapi juga menjadi tempat untuk mendapatkan informasi, belajar, mengikuti tren, dan mengetahui berbagai kejadian yang sedang ramai dibicarakan. Banyak hal yang kita ketahui sehari-hari justru berasal dari media sosial. Karena itu, tidak heran jika media sosial secara perlahan ikut memengaruhi cara generasi muda dalam melihat dan memahami sesuatu.

Salah satu hal yang menarik untuk dibahas adalah bagaimana algoritma media sosial bekerja. Secara sederhana, algoritma akan mempelajari aktivitas penggunanya. Misalnya, ketika kita sering menonton, menyukai, atau mencari konten dengan topik tertentu, kemungkinan besar kita akan kembali mendapatkan konten yang serupa. Hal ini membuat setiap orang memiliki tampilan media sosial yang berbeda sesuai dengan kebiasaan masing-masing.

Saya sendiri pernah menyadari hal tersebut ketika beberapa kali menonton konten dengan topik tertentu. Setelah itu, konten yang muncul di halaman rekomendasi saya menjadi semakin banyak dengan topik yang sama. Awalnya saya menganggapnya sebagai kebetulan, tetapi lama-kelamaan saya menyadari bahwa aktivitas yang saya lakukan ternyata memengaruhi apa yang muncul di beranda. Dari pengalaman tersebut, saya mulai berpikir bahwa sebenarnya apa yang saya lihat di media sosial tidak sepenuhnya muncul secara acak.

Keadaan tersebut dapat memengaruhi cara seseorang dalam menerima informasi. Ketika kita terus melihat konten dengan pendapat atau sudut pandang yang sama, kita bisa saja menganggap bahwa pendapat tersebut merupakan sesuatu yang paling benar atau paling banyak diterima masyarakat. Padahal, masih ada banyak sudut pandang lain yang mungkin tidak muncul di beranda kita. Inilah salah satu alasan mengapa pengguna media sosial perlu lebih kritis terhadap informasi yang mereka lihat.

Selain itu, media sosial juga membuat informasi menyebar dengan sangat cepat. Sebuah berita atau kejadian yang baru saja terjadi dapat menjadi viral hanya dalam waktu singkat. Bagi mahasiswa dan generasi muda, kondisi ini sebenarnya memberikan banyak manfaat karena kita bisa mendapatkan informasi dengan lebih mudah. Media sosial juga dapat digunakan untuk mencari materi pembelajaran, mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, dan menemukan berbagai informasi yang sebelumnya sulit didapatkan.

Namun, kemudahan tersebut juga memiliki kekurangan. Tidak semua informasi yang beredar di media sosial merupakan informasi yang benar. Terkadang informasi yang belum jelas kebenarannya justru lebih cepat menyebar karena dikemas dengan judul atau video yang menarik. Saya sendiri pernah melihat informasi yang ramai dibicarakan di media sosial, tetapi setelah mencari sumber lain ternyata informasi tersebut tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan. Dari situ saya belajar bahwa sesuatu yang viral belum tentu benar.

Media sosial juga dapat memengaruhi cara generasi muda melihat dirinya sendiri. Ketika melihat unggahan orang lain yang terlihat memiliki kehidupan yang menyenangkan, sukses, atau menarik, terkadang kita tanpa sadar membandingkannya dengan kehidupan sendiri. Saya juga pernah merasakan hal seperti itu. Ketika melihat pencapaian atau aktivitas orang lain di media sosial, terkadang muncul perasaan bahwa orang lain sudah melakukan banyak hal, sementara diri sendiri belum. Namun, setelah dipikirkan lagi, saya menyadari bahwa media sosial hanya menunjukkan bagian tertentu dari kehidupan seseorang, bukan keseluruhan kehidupannya.

Walaupun memiliki berbagai dampak negatif, media sosial sebenarnya juga memberikan banyak manfaat jika digunakan dengan bijak. Banyak anak muda yang menggunakan media sosial untuk membagikan karya, belajar keterampilan baru, membangun komunitas, bahkan mendapatkan peluang dalam bidang pendidikan maupun pekerjaan. Media sosial juga memberikan ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan pendapat dan ikut terlibat dalam berbagai isu yang terjadi di masyarakat.

Menurut saya, masalahnya bukan terletak pada media sosialnya, tetapi pada bagaimana kita menggunakannya. Sebagai generasi muda, kita perlu belajar menjadi pengguna media sosial yang lebih bijak. Jangan langsung percaya terhadap informasi hanya karena banyak orang membagikannya. Kita juga perlu membiasakan diri memeriksa sumber, membandingkan informasi dari beberapa tempat, dan berpikir sebelum membagikan suatu konten.

Pada akhirnya, media sosial memang memberikan banyak kemudahan dalam kehidupan kita. Kita dapat terhubung dengan orang lain, mendapatkan informasi, belajar, dan mencari hiburan hanya melalui sebuah perangkat. Namun, kita juga perlu menyadari bahwa apa yang kita lihat di media sosial dapat memengaruhi cara kita berpikir. Kita memilih apa yang ingin kita tonton, sukai, dan bagikan, tetapi pilihan tersebut juga ikut menentukan konten yang akan muncul di hadapan kita selanjutnya.

Jadi, sebelum kembali melakukan scroll, like, repeat, mungkin ada baiknya kita berhenti sebentar dan bertanya kepada diri sendiri: apakah kita benar-benar memilih apa yang ingin kita lihat, atau selama ini pilihan kita juga sedang diarahkan oleh algoritma? Menurut saya, menggunakan media sosial bukan berarti harus menjauhinya, tetapi kita perlu lebih sadar terhadap apa yang kita konsumsi setiap hari. Dengan begitu, media sosial bisa menjadi alat yang membantu kita berkembang, bukan sesuatu yang justru menentukan bagaimana kita melihat dunia.