Suka Duka Jadi Penjual Buku Online (1)

Editor dan pendongeng
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Isnaini Khomarudin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selama semester terakhir saya kembali menekuni jual beli buku online yang dulu pernah saya mulai sekitar tahun 2018 begitu kami pindah ke Lamongan. Semula punya toko secara iseng di Tokopedia yang kini diakuisisi TikTok, lalu beralih ke Shopee alias si Oren yang kian menjadi primadona.
Bermula dari buku, saya kemudian menjual kopi buatan teman. Buatan maksudnya diproduksi di rumahnya di Wonosalam, Jombang. Keluarganya memiliki kebun kopi tidak luas, berjenis ekselsa yang rasanya fruity dan harum nikmat. Sepetak kebun inilah yang ia manfaatkan untuk mendulang rupiah.
Tahun 2026 saya kembali menggeluti jual beli buku online, mengkhususkan diri pada buku preloved punya orang atau secara kulakan dari seller yang banyak beredar di media sosial. Hasilnya lumayan sebenarnya sebelum potongan si oren yang menggelikan.
Buku yang paling laris ternyata adalah buku-buku yang mengadopsi kurikulum Cambridge atau internasional. Penerbitnya bisa berbeda, tapi kontennya diendorse oleh Cambridge Universty Press. Ada Hodder, Mcmillan, Collins, Oxford maupun penerbit Sinapura.
Penerbit Singapura paling masyhur dengan buku seri matematika yang cepat sekali terjual, apa pun penerbitnya lebih0-lebih kelas rendah seperti grade 1-3. Intinya primary grades memang menggiurkan, banyak diburu orangtua. Alih-alih beli buku baru mahal, lebih baik membeli buku preloved yang masih bagus dan kontennya sama. Apalagi beli buku bajakan, aih ga kukuuuu.
