Swasembada Benih Padi Daerah Kepulauan Bangka Belitung

- ASN DPKP Bangka Selatan - Unsri
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Suryadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pengabdian seorang ASN bukan sekadar menjalankan tugas sesuai aturan. Pengabdian adalah menghadirkan solusi atas persoalan masyarakat dan memastikan setiap kebijakan benar-benar memberikan manfaat bagi kehidupan mereka.
Kalimat tersebut menjadi semangat yang mengiringi perjalanan panjang membangun kemandirian benih padi di Kabupaten Bangka Selatan. Sebagai Pengawas Benih Tanaman di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bangka Selatan, saya menyadari bahwa ketahanan pangan tidak hanya dimulai dari sawah, tetapi jauh sebelumnya, yakni dari benih yang berkualitas. Benih adalah awal kehidupan tanaman, sekaligus penentu keberhasilan panen petani.
Namun, membangun sistem perbenihan di daerah kepulauan bukanlah pekerjaan yang mudah. Selama bertahun-tahun, petani di Bangka Selatan bergantung pada pasokan benih dari luar Pulau Bangka. Setiap musim tanam selalu diwarnai kecemasan. Keterlambatan kapal, cuaca buruk, tingginya ongkos angkut, hingga kelangkaan benih sering menyebabkan jadwal tanam mundur. Tidak sedikit petani yang akhirnya menggunakan benih seadanya dengan mutu yang tidak terjamin. Kondisi tersebut bukan hanya menurunkan produktivitas, tetapi juga mengurangi semangat petani untuk terus mengembangkan usaha taninya.
Dari berbagai persoalan tersebut lahirlah sebuah keyakinan bahwa Kabupaten Bangka Selatan harus mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Daerah ini tidak boleh selamanya bergantung pada benih dari luar. Kemandirian hanya dapat diwujudkan apabila benih unggul diproduksi sendiri oleh petani lokal melalui sistem benih unggul bersertifikat in situ. Gagasan sederhana itulah yang kemudian menjadi arah pengabdian saya bersama seluruh tim pertanian.
Perjalanan tersebut dimulai dari hal paling mendasar, yaitu membangun kepercayaan petani. Menjadi penangkar benih bukan sekadar menanam padi, tetapi menghasilkan benih yang harus memenuhi standar mutu nasional. Banyak petani awalnya ragu karena menganggap proses sertifikasi rumit dan penuh persyaratan. Di sinilah peran ASN benar-benar diuji. Kami hadir bukan hanya sebagai pengawas, tetapi juga sebagai pendamping, guru, sahabat diskusi, sekaligus penyemangat bagi petani agar berani berkembang.
Bersama UPTD Pengawasan dan Sertifikasi Mutu Benih Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, pendampingan dilakukan sejak awal musim tanam. Mulai dari pemilihan benih sumber, pengaturan jarak tanam, pelaksanaan roguing, pengendalian hama dan penyakit, hingga proses panen dan pascapanen sesuai standar sertifikasi. Hampir setiap pekan kami berada di lahan, berdialog dengan petani, memecahkan persoalan, dan memastikan setiap tahapan berjalan sesuai ketentuan.
Pengabdian tidak berhenti pada aspek teknis. Kami juga berupaya membuka akses terhadap program pemerintah. Melalui Program Mandiri Benih yang mulai dilaksanakan sejak tahun 2021, kelompok penangkar memperoleh bantuan benih sumber serta sarana produksi lainnya. Akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga didorong agar kelompok tani memiliki kemampuan mengembangkan usahanya secara mandiri. Semua upaya tersebut bertujuan membangun ekosistem perbenihan yang berkelanjutan, bukan sekadar menghasilkan benih dalam satu musim tanam.
Sebagai Pengawas Benih Tanaman, salah satu tanggung jawab terbesar adalah menjaga kepercayaan petani terhadap mutu benih. Oleh karena itu, setiap calon benih harus melalui proses sertifikasi yang ketat, mulai dari pemeriksaan lapangan pada setiap fase pertumbuhan, pengujian laboratorium, hingga penerbitan label benih bersertifikat. Tidak ada kompromi terhadap mutu, karena di balik setiap label terdapat harapan ribuan petani yang menggantungkan keberhasilan tanamnya pada kualitas benih tersebut.
Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan. Melalui Program Mandiri Benih Tahun 2025, empat kelompok tani penangkar berhasil menghasilkan sekitar 161.100 Kg calon benih dari lahan seluas 40 hektar. Jumlah tersebut jauh melampaui kebutuhan benih padi Kabupaten Bangka Selatan pada Musim Tanam II Tahun 2026 yang hanya sekitar 69.150 Kg. Untuk pertama kalinya, Kabupaten Bangka Selatan tidak lagi mengalami kekurangan benih, tetapi justru memiliki surplus yang berpotensi memenuhi kebutuhan daerah lain di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa kerja kolaboratif antara pemerintah dan petani mampu mengubah keterbatasan geografis menjadi sebuah keunggulan.
Keberhasilan ini bukan sekadar keberhasilan menghasilkan benih. Dampaknya terasa langsung di tingkat petani. Benih tersedia lebih cepat, harga lebih terjangkau karena tidak lagi dibebani ongkos kirim antarpulau, dan varietas yang digunakan telah terbukti adaptif terhadap kondisi agroekosistem Bangka Selatan. Produktivitas padi meningkat, luas tanam bertambah, dan posisi Kabupaten Bangka Selatan sebagai penyumbang produksi beras terbesar di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung semakin kokoh.
Keberhasilan tersebut memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar angka produksi. Pengabdian ASN tidak selalu diukur dari berapa banyak laporan yang diselesaikan atau berapa banyak kegiatan yang dilaksanakan. Pengabdian sejati adalah ketika petani tersenyum karena benih tersedia tepat waktu, ketika kelompok tani tumbuh menjadi produsen benih yang mandiri, dan ketika anak-anak petani memiliki harapan bahwa pertanian tetap menjadi sumber kehidupan yang menjanjikan.
Perjalanan menjadikan Kabupaten Bangka Selatan sebagai sentra benih padi masih terus berlanjut. Banyak tantangan yang harus dihadapi, mulai dari perubahan iklim, regenerasi petani, hingga penguatan kelembagaan penangkar. Namun, pengalaman selama ini membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang apabila dihadapi dengan komitmen, inovasi, dan kolaborasi.
Sebagai ASN, saya percaya bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan dengan ketulusan akan melahirkan perubahan besar. Dari hamparan sawah di Bangka Selatan, kami belajar bahwa benih bukan hanya awal pertumbuhan tanaman, tetapi juga simbol harapan. Harapan akan pertanian yang mandiri, petani yang sejahtera, dan Indonesia yang semakin kokoh dalam mewujudkan ketahanan pangan. Selama harapan itu masih tumbuh, pengabdian akan selalu menemukan maknanya.
