Konten dari Pengguna

Takut Dianggap Buruk: Mengapa Kita Sulit Mengatakan “Tidak”?

Fauzia Julfa Ramadhani

Fauzia Julfa Ramadhani

Mahasiswa Program studi Psikologi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fauzia Julfa Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kelelahan emosional akibat people pleaser. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kelelahan emosional akibat people pleaser. Foto: Unsplash

Sulit mengatakan “tidak” kepada orang lain, pernahkah berada di posisi ini? Mengapa hal ini bisa terjadi? Kadang, kita takut jika seseorang akan berhenti menyukai kita atau berpikir buruk tentang kita, sehingga tidak berani melakukan penolakan termasuk berkata tidak pada orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering kali dihadapkan pada berbagai tawaran dan pilihan seperti diajak nongkrong di akhir pekan dan atau diminta tolong untuk mengerjakan sesuatu sementara di sisi lain ada deadline tugas yang sudah menanti dan harus segera diselesaikan. Lalu bagaimana responsnya, apakah kamu tipe yang selalu mempertimbangkan sesuatu terlebih dahulu dengan matang atau kamu tipe yang enggan menolak dan enggan mengatakan tidak ketika berada di posisi itu. Kadang muncul pertanyaan: apakah kita melakukan dan menerima tawaran itu karena benar-benar ingin melakukannya atau hanya karena merasa takut mengecewakan orang lain jika kita menolaknya?

Pada budaya kita, tertanam konsep “tidak enakan” yang mandarah daging. Seringkali muncul rasa bersalah hanya karena menolak ajakan orang lain, muncul ketakutan akan label tidak sopan, egois, dianggap buruk, takut dijauhi dan lain sebagainya. Padahal berkata “tidak” pada orang lain merupakan salah satu hak kita dalam upaya untuk menjaga diri.

Salah seorang Psikolog dari Career and Student Development Unit (CSDU) FEB UGM, Anisa Yuliandri, S.Psi., M.Psi,. Psikolog, menjelaskan bahwa seseorang yang cenderung untuk selalu menyenangkan dan sulit mengatakan tidak pada orang lain sering dikenal dengan istilah people pleaser. Fenomena ini seringkali terjadi di masyarakat karena individu ingin tetap menjaga relasi, ingin memperoleh pengakuan atau menghindari konflik sosial. Individu juga kadang sulit mengatakan tidak karena takut dianggap tidak bertanggung jawab, dicap negatif, atau takut dianggap egois. Di balik munculnya sikap ini, ada dorongan mendalam dalam diri individu untuk dicintai dan diterima.

Dalam teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow, setelah kebutuhan dasar terpenuhi, manusia akan berusaha memenuhi kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial dan kebutuhan kasih sayang. Pada konteks ini, kebiasan enggan berkata tidak pada orang lain merupakan salah satu upaya individu untuk memenuhi kebutuhan rasa aman dari masalah konflik dan menjaga stabilitas lingkungan agar tidak terjadi konflik dengan lingkungan. Pada kebutuhan kasih sayang, kebiasaan ini menjadi bagian dari pemenuhan kebutuhan psikologis individu untuk berinteraksi sosial dan diterima oleh orang lain.

Sebagai makhluk sosial seseorang ingin selalu merasa dicintai dan dihargai orang lain. Banyak orang tetap tersenyum meskipun sebenarnya hatinya tidak setuju, tetap menerima tugas tambahan meskipun sebenarnya kewalahan bahkan mengorbankan waktu istirahatnya hanya karena ingin menyenangkan orang lain. Kebaikan seperti ini tidak selalu buruk, namun, kecenderungan untuk selalu mengiyakan semua permintaan orang lain bukanlah sesuatu yang baik, karena kebiasaan ini bisa merugikan diri sendiri, menguras energi, tenaga, emosi, waktu, harga diri bahkan bisa berdampak pada kesehatan mental kita sendiri.

Kelelahan emosional dan kesehatan mental yang kurang baik menjadi salah satu tanda awal ketika kita terlalu banyak mengiyakan permintaan orang lain. Rasa marah yang terpendam dan tidak bisa diungkapkan, perasaan kecewa karena merasa dimanfaatkan, kebiasaan tetap diam karena takut hubungan hancur, jika dibiarkan begitu saja akan berdampak buruk pada psikologis kita sendiri. Pada akhirnya, kita tidak bisa mengenal diri kita sendiri dan tidak bisa mengetahui apa yang sebenarnya kita inginkan karena terlalu sibuk memenuhi keinginan orang lain. Selain itu, dalam jangka panjang kebiasaan ini bisa menyebabkan kelelahan emosional, menurunkan kesejahteraan psikologis, meningkatkan risiko stres, munculnya kecemasan dan gangguan kesehatan mental serta hubungan sosial yang buruk karena hubungan sosial yang seharusnya penuh dukungan namun berubah menjadi tekanan yang tentu akan merugikan diri kita sendiri.

Perilaku people pleaser memiliki hubungan yang signifikan dengan self-boundaries (batasan diri) yang rendah, karena individu tidak memiliki batasan diri yang jelas, cenderung merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain dan sulit menolak permintaan orang lain meskipun permintaan tersebut melebihi kapasitas yang dimiliki.

Konteks sosial budaya yang tertanam dalam masyarakat, khususnya masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi keharmonisan, menghindari konflik, menghargai orang lain juga memperkuat kecenderungan individu untuk selalu mementingkan kepentingan orang lain dibanding kepentingan sendiri, sehingga menjadi orang yang tidak enakan atau sungkan dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan bahkan diharapkan dalam sebuah pola interaksi sosial di masyarakat Indonesia. Munculnya rasa enggan untuk berkata tidak pada orang lain juga bisa tumbuh dari pola asuh dengan cinta bersyarat, misalnya dipuji ketika berperilaku baik dan kehilangan kasih sayang ketika anak melakukan penolakan. Sikap ini juga bisa muncul jika individu sejak kecil tidak pernah diberi kesempatan untuk menentukan pilihannya sendiri atau penerimaan hukuman ketika individu menolak sesuatu, hal ini yang menjadikan kita akan selalu merasa takut untuk melakukan penolakan.

Kebiasaan enggan berkata tidak pada setiap permintaan orang lain harus mulai kita kurangi. Berani mengatakan tidak pada orang lain bukan berarti kita berhenti menjadi orang baik. Justru ini adalah salah satu cara agar menjadi orang baik dengan tetap memiliki batasan diri dan sehat emosional yang peduli pada orang lain tanpa harus mengorbankan diri sendiri.

Pada akhirnya, menjadi orang baik tidak harus mengabaikan diri kita sendiri. Kita tetap bisa menjadi baik, ramah, peduli, sopan, menghormati orang lain, tanpa harus mengorbankan diri sendiri dan kehilangan identitas diri. Kemampuan menghargai diri sendiri, menjaga emosi untuk tetap stabil dan menerapkan batasan yang sehat juga masih tetap dilakukan untuk menjaga relasi dengan orang lain dan lingkungan. Kita juga bisa menerapkan komunikasi interpersonal yang baik dengan mengkomunikasikan apa yang kita inginkan, rasakan, dan pikirkan kepada orang lain serta berkata tidak kepada orang lain, namun dengan tetap menghargai dan menjaga hak serta perasaan orang lain.