Tetap Memilih yang Benar Ketika Tidak Ada yang Melihat

Saat ini menjadi ASN di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh bidang Perlindungan Khusus Anak
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Putri Saleh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seandainya tidak ada yang memantau, atau seperti tidak adanya kamera yang bisa mengawasi, tidak ada atasan yang memeriksa, tidak ada absensi, dan tidak ada masyarakat yang mengetahui, apakah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) masih akan memilih melakukan yang benar? Pertanyaan tersebut mungkin terdengar sepele. Namun, justru di situlah inti persoalan etika dan integritas. Sebab, seseorang akan mudah terlihat baik ketika sedang diawasi. Yang jauh lebih sulit adalah tetap jujur ketika kesempatan untuk berbuat curang terbuka lebar dan tidak seorang pun mengetahuinya.
Bagi ASN, integritas seharusnya bukan sekadar istilah yang sering muncul dalam seminar, rapat atau juga apel. Integritas harus menjadi kebiasaan dalam mengambil keputusan dan menjalankan pekerjaan sehari-hari. ASN bukan hanya bekerja untuk pemerintah, tetapi membawa amanah masyarakat. Setiap pelayanan yang diberikan, setiap keputusan yang dibuat, dan setiap fasilitas negara yang digunakan pada dasarnya berkaitan dengan kepercayaan publik.
Masalahnya, integritas sering kali baru terasa penting ketika pelanggaran sudah terjadi. Kita ramai membicarakan korupsi ketika kasusnya muncul ke permukaan. Kita mempertanyakan etika ketika ada pejabat atau pegawai yang tertangkap melakukan pelanggaran. Padahal, integritas sesungguhnya dibangun jauh sebelum sebuah pelanggaran menjadi berita. Ia tumbuh dari pilihan-pilihan kecil yang sering kali tidak diketahui siapa pun.
Misalnya, ketika seorang ASN datang tepat waktu bukan karena takut diperiksa, tetapi karena memahami bahwa waktu kerjanya adalah amanah. Ketika seorang pegawai menyelesaikan pekerjaan dengan sungguh-sungguh meskipun tidak ada pimpinan yang mengawasi. Ketika seseorang menolak pemberian yang sebenarnya bisa saja diterima tanpa diketahui orang lain. Atau ketika seorang petugas memberikan pelayanan yang sama kepada masyarakat, baik kepada orang yang memiliki jabatan maupun kepada warga biasa.
Tidak ada kamera yang merekam semua itu. Tidak selalu ada penghargaan. Bahkan, tidak ada seorang pun yang mengetahui. Tetapi justru tindakan-tindakan seperti itulah yang menunjukkan kualitas integritas seseorang. Kita sering mengira bahwa korupsi atau penyalahgunaan wewenang selalu dimulai dari tindakan besar. Padahal, banyak penyimpangan berawal dari kompromi kecil terhadap prinsip. “Sekali saja. “Tidak ada yang tahu.” “Semua orang juga melakukannya.” “Ini hanya sedikit.” Kalimat-kalimat seperti itu terlihat sepele, tetapi dapat perlahan mengikis batas antara yang benar dan yang salah.
Ketika kesalahan kecil terus dibenarkan, seseorang akan kehilangan kepekaan terhadap kesalahan. Pada titik tertentu, sesuatu yang dahulu dianggap tidak pantas mulai terasa biasa. Inilah bahaya terbesar ketika etika tidak lagi menjadi bagian dari kesadaran dan ketakutan pribadi. Karena itu, membangun integritas ASN tidak cukup hanya dengan menambah aturan. Aturan memang penting. Pengawasan juga penting. Sanksi terhadap pelanggaran tentu diperlukan. Namun, kita tidak mungkin membuat pengawas untuk setiap tindakan dan menempatkan kamera di setiap sudut. Ada ruang-ruang tertentu yang hanya bisa diawasi oleh hati nurani.
Seorang ASN mungkin dapat menyembunyikan kesalahan dari atasan. Ia mungkin dapat mencari celah dalam prosedur. Ia mungkin dapat menghindari pemeriksaan. Tetapi ia tidak seharusnya menghindari pertanyaan yang paling mendasar: “Apakah yang saya lakukan ini benar?” Pertanyaan tersebut penting karena etika tidak selalu berbicara tentang apa yang boleh dan tidak boleh menurut aturan. Etika juga berbicara tentang kepantasan, keadilan, dan tanggung jawab. Sesuatu yang belum tentu melanggar aturan secara tertulis belum tentu pantas dilakukan. Ketika jabatan memberikan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan pribadi, misalnya, seorang ASN seharusnya mampu membedakan antara hak dan kesempatan yang seharusnya tidak dimanfaatkan.
Pada titik inilah integritas menjadi lebih tinggi daripada sekadar kepatuhan. Orang yang patuh mungkin menjalankan aturan karena takut mendapatkan hukuman. Orang yang berintegritas menjalankan aturan karena memahami mengapa aturan tersebut harus dihormati. Perbedaan ini penting. Sebab ketika pengawasan hilang, kepatuhan yang hanya didorong oleh rasa takut juga dapat hilang. Sebaliknya, integritas akan tetap bekerja bahkan ketika tidak ada yang melihat.
Kepercayaan publik dibangun dari hal-hal yang mungkin tampak kecil. Cara seorang ASN berbicara kepada warga. Kesediaannya memberikan informasi yang benar. Ketepatannya menyelesaikan pekerjaan. Kejujurannya menggunakan fasilitas negara. Keberaniannya mengatakan tidak ketika berhadapan dengan sesuatu yang tidak semestinya. Semua itu mungkin tidak masuk berita. Tidak menjadi viral di media sosial. Tidak mendapatkan tepuk tangan. Tetapi justru dari tindakan yang sunyi itulah wajah birokrasi sebenarnya dibentuk. Pada akhirnya, integritas bukan tentang siapa yang sedang melihat kita. Integritas adalah tentang prinsip yang kita pegang ketika tidak ada seorang pun yang melihat. Ia adalah keberanian untuk tetap memilih yang benar meskipun pilihan tersebut tidak memberikan keuntungan pribadi.
Bagi ASN, kita hanya perlu bertanya kepada diri sendiri, jika tindakan saya hari ini diketahui seluruh masyarakat, apakah saya masih merasa bangga dengan pilihan saya? Jika jawabannya ya, mungkin kita sedang berada di jalan yang benar. Namun, jika kita hanya berani melakukan yang benar ketika diawasi, barangkali yang perlu diperbaiki bukan sekadar sistem pengawasan, melainkan juga kesadaran kita tentang arti sebuah amanah. Sebab ASN yang berintegritas bukanlah mereka yang takut ketika diawasi. ASN yang berintegritas adalah mereka yang tetap memilih yang benar ketika tidak ada yang melihat.
