Konten dari Pengguna

What It Costs You to Be in Love: Cinta dalam Perspektif Psikologi

Ihza Akmal

Ihza Akmal

A Lifelong Learner

·waktu baca 8 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ihza Akmal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Maslow's Hierarchy of Needs (Picture from Magnific)
zoom-in-whitePerbesar
Maslow's Hierarchy of Needs (Picture from Magnific)

Hierarki Kebutuhan Manusia

Maslow merumuskan teori motivasi positif yang menggabungkan beberapa perspektif dalam psikologi atau yang dikenal luas sebagai Maslow’s Hierarchy of Needs. Teori ini merupakan hasil dari kumpulan fakta yang diketahui, baik secara klinis, observasional, maupun eksperimental. Manusia memiliki beberapa kebutuhan dasar yang tersusun dalam hierarki, mulai dari kebutuhan fisiologis, keamanan, cinta dan rasa memiliki, penghargaan, hingga aktualisasi diri. Secara umum, ketika suatu kebutuhan telah cukup terpenuhi, kebutuhan yang lebih tinggi mulai menjadi lebih dominan dan mendorong perilaku seseorang. Selain itu, seseorang yang telah memenuhi suatu kebutuhan secara konsisten di masa lalu cenderung lebih mampu menghadapi keadaan di mana kebutuhan tersebut tidak atau kurang terpenuhi di masa depan. Sebaliknya, ketika suatu kebutuhan sering tidak terpenuhi di masa lalu, seseorang dapat menjadi lebih rentan ketika kebutuhan tersebut kembali terancam.

Berbicara tentang kebutuhan yang ketiga (love and belonging needs), ketika kebutuhan fisiologis dan keamanan relatif terpenuhi, kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki dapat menjadi lebih dominan. Di kondisi ini, seseorang terdorong untuk memiliki hubungan yang dekat, memperoleh kasih sayang, serta menemukan tempat di mana dirinya diterima dan menjadi bagian dari suatu kelompok. Maslow dan para ahli di bidang psikopatologi sepakat apabila tidak terpenuhinya kebutuhan ini berkenaan dengan masalah ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri. Maslow juga menggarisbawahi kebutuhan seksual dan kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki merupakan hal yang berbeda meskipun saling berkaitan. Seks dapat dipandang sebagai kebutuhan fisiologis, tetapi perilaku seksual tidak hanya ditentukan oleh dorongan fisiologis. Kebutuhan akan cinta dan lain-lain juga dapat berperan di dalamnya.

Satu hal yang perlu diingat, pemenuhan kebutuhan dalam Hierarki Maslow tidak bersifat kaku. Tidak semua orang menjalankan pemenuhan kebutuhan berdasarkan urutan yang telah disebutkan di atas, ini dapat dipengaruhi oleh pengalaman, nilai, kepribadian, maupun kondisi seseorang. Sebagai contoh, setelah seseorang memenuhi kebutuhan fisiologisnya, ada kemungkinan ia mencari kebutuhan akan penghargaan karena dorongan untuk memenuhi hal tersebut lebih dominan. Dengan demikian, perilaku yang ditampilkan dalam rangka memenuhi suatu kebutuhan belum tentu hanya didorong oleh kebutuhan tersebut. Seseorang dapat mengejar penghargaan bukan semata-mata karena ingin dihargai, tetapi karena penghargaan mungkin dianggap sebagai jalan untuk memperoleh penerimaan atau cinta dari orang lain.

Harga dari Cinta

Meskipun terkesan perhitungan, cinta dapat dipahami melalui model social exchange. Dalam konteks hubungan romantis, model ini memandang pasangan sebagai dua orang yang bertukar sumber daya. Pertukaran tersebut kemudian dapat memengaruhi kepuasan dalam menjalani hubungan. Mengingat nilai dari suatu hal bersifat relatif, seseorang memiliki standar pembanding untuk menilai apakah suatu hubungan dianggap memuaskan. Cara paling umum untuk melakukan penilaian ini adalah dengan mengamati hubungan orang lain (teman, keluarga), ekspektasi terhadap pasangan, pengalaman dalam hubungan sebelumnya serta apa yang dianggap penting oleh individu. Ketika suatu hubungan dirasa tidak adil, seseorang akan merasakan tekanan atau ketidakpuasan. Apabila kondisi tersebut terjadi berulang kali, keberlangsungan hubungan akan semakin terancam. Akan tetapi, apabila suatu hubungan hanya didasarkan pada prinsip pertukaran yang setara akan cenderung sulit pula untuk mempertahankannya. Dengan demikian, kepuasan dan keberlangsungan hubungan tidak hanya ditentukan oleh pertukaran sumber daya, tetapi juga oleh perbedaan individu yang memengaruhi cara seseorang menjalani hubungan.

Salah satu perbedaan individu yang dapat memengaruhi interaksi ketika dua orang menjalin hubungan adalah gaya kelekatan (attachment style). Gaya kelekatan berkembang melalui interaksi awal individu dengan pengasuh utama (umumnya ibu) dan dapat memengaruhi pola seseorang dalam menjalin hubungan di sepanjang kehidupan. Terdapat tiga gaya kelekatan dalam hubungan romantis, yaitu secure, anxious, dan avoidant. Masing-masing memiliki karakteristik tersendiri. Mulai dari secure attachment yang ditandai dengan kemudahan untuk dekat dengan orang lain serta kemampuan untuk menikmati hubungan yang penuh kasih sayang dan berlangsung jangka panjang. Anxious attachment cenderung lebih mudah terlibat secara emosional, tetapi juga lebih rentan mengalami kekhawatiran terhadap penolakan atau ditinggalkan oleh pasangan. Akibatnya, mereka dapat mengalami emosi yang naik-turun dan kesulitan dalam membangun hubungan yang stabil. Berbeda dengan anxious attachment, individu dengan avoidant attachment cenderung merasa kurang nyaman dalam membangun kedekatan emosional dengan orang lain. Mereka dapat menjaga jarak atau bersikap defensif ketika kedekatan emosional mengancam kemandiriannya. Perbedaan gaya kelekatan dapat memengaruhi cara individu merespons situasi, termasuk menghadapi konflik dalam hubungan.

Permasalahan dalam hubungan merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Dalam hal ini, manajemen konflik berperan dalam menentukan arah hubungan, apakah permasalahan akan berkembang menjadi sesuatu yang bersifat konstruktif atau destruktif. Salah satu aspek yang berkaitan dengan kepuasan dalam menjalin hubungan adalah komunikasi. Asumsi-asumsi yang keliru akibat miskomunikasi pada akhirnya dapat menurunkan kepuasan dalam menjalin hubungan. Selain itu, terdapat pola-pola komunikasi tertentu yang bersifat destruktif, seperti menyerang karakter (criticism), menolak tanggung jawab (defensiveness), dan memandang rendah pasangan (contempt). Dalam konteks hubungan jarak jauh, komunikasi menjadi semakin krusial dalam mempertahankan kedekatan emosional. Ketidakhadiran secara fisik menyebabkan ekspresi diri melalui isyarat non-verbal tidak dapat dilakukan. Oleh karena itu, komunikasi yang terbuka, responsif, dan penuh empati diperlukan untuk membantu mengurangi kesalahpahaman. Baik laki-laki maupun perempuan menunjukkan tingkat kepuasan hubungan yang serupa ketika mampu membangun pola komunikasi yang sehat.

Berkorban ≠ Mengorbankan Diri

Menurut kamus Merriam-Webster, berkorban memiliki arti melepaskan sesuatu yang berharga demi suatu cita-cita, tujuan, atau keyakinan. Dalam konteks hubungan romantis, pengorbanan dapat dimaknai sebagai tindakan untuk menunda tujuan jangka pendek demi kesejahteraan pasangan dan kepentingan hubungan. Motif yang mendasari individu untuk melakukan sebuah pengorbanan dapat ditinjau melalui peran cinta dan keterhubungan emosional. Seseorang yang merasakan cinta cenderung lebih bersedia memprioritaskan pasangan daripada keinginan sendiri. Kesediaan tersebut juga berkaitan dengan persepsi bahwa pengorbanan dapat berkontribusi pada kebahagiaan diri sendiri dan kesejahteraan pasangan. Secara keseluruhan, pengorbanan dalam hubungan romantis berkaitan dengan keinginan untuk mendukung kesejahteraan pasangan, mempertahankan hubungan, membangun kepercayaan, serta mencapai kebahagiaan bagi diri sendiri dan pasangan.

Namun demikian, saat ini cukup banyak ditemukan fenomena di mana batas antara berkorban dan ”mengorbankan diri” dalam hubungan romantis menjadi kabur. Berbagai contoh di media sosial dapat ditemukan ketika individu secara sadar mengesampingkan kebutuhannya demi memprioritaskan pasangan. Penelitian menunjukkan bahwa individu yang melakukan self-silencing (menahan diri untuk tidak berbicara) dapat membentuk interaksi yang tidak efektif karena memicu rasa kesal pada pasangan dan kesulitan dalam mengetahui kebutuhan satu sama lain. Hal ini kemudian semakin memperkuat individu untuk melakukan self-silencing agar tidak memperparah keadaan. Kondisi ini dapat memicu perasaan frustrasi setelah berkonflik. Lebih jauh, self-silencing dapat berkaitan dengan gejala depresi pada individu yang terlibat dalam hubungan romantis.

Selain itu, penelitian menunjukkan berada dalam hubungan dapat memperluas konsep diri. Konsep diri adalah persepsi seseorang mengenai dirinya sendiri, yang meliputi perilaku, kemampuan, dan karakteristik unik dalam diri (sifat, minat, impian). Semakin banyak aspek diri yang berkembang melalui suatu hubungan, semakin besar pula kesedihan yang dirasakan ketika hubungan berakhir. Hal ini terjadi karena konsep diri terbentuk melalui pengalaman dalam menjalin hubungan sehingga ketika hubungan berakhir, konsep diri juga bisa berubah.

Ilustrasi perempuan sedang melakukan self-love (Picture from Magnific)

Penuhi Tangki Cinta Sebelum Mencintai

Dinamika dalam menjalin hubungan sangat beragam, yang tak jarang hanya dapat dipahami dengan baik oleh individu yang sedang menjalaninya. Bahkan, setiap orang yang sedang menjalin hubungan pun memiliki pengalaman yang berbeda. Rasa hormat dan saling memahami merupakan faktor yang sangat mendukung keberlangsungan suatu hubungan. Kadangkala, hal-hal yang belum didapatkan dalam suatu hubungan menjadi sumber konflik yang apabila ditumpuk secara terus-menerus, dapat memicu keretakan hubungan. Oleh karena itu, sudah semestinya individu memahami bahwa setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan. Jangan sampai bagian besar yang telah didapatkan menjadi terlupakan hanya karena ada hal yang belum didapatkan.

Menghargai orang lain mungkin saja lebih mudah daripada menghargai diri sendiri. Tak jarang, meskipun berada dalam situasi yang menyakitkan dalam jangka panjang sekalipun, seseorang merasa lebih mampu menoleransinya daripada harus memprioritaskan kesejahteraan diri. Padahal, cinta dapat dimulai dari diri sendiri. Ketika seseorang mampu memahami dan menghargai dirinya, hubungan dengan orang lain akan terasa lebih aman. Sekalipun situasi buruk terjadi, orang yang memiliki penghargaan terhadap dirinya tetap dapat merasakan kesedihan. Namun, mereka cenderung lebih mampu mengenali nilai dirinya dan tetap memperhatikan kesejahteraan diri di tengah situasi yang sulit.

Referensi:

Azizah, N. S., Mubina, N., & Pratiwi, R. A. (2026). Romantic relationship satisfaction in long-distance relationships: Social support and communication quality among emerging adults. International Journal of Education, Vocational and Social Science, 5(3), 3091-3109. https://e-journal.citakonsultindo.or.id/index.php/IJEVSS/article/view/3519

Eğeci, I. S., & Gençöz, T. (2006). Factors associated with relationship satisfaction: Importance of communication skills. Contemporary Family Therapy. https://doi.org/10.1007/S10591-006-9010-2

Maslow, A. H. (1943). A theory of human motivation. Psychological Review, 50(4), 370–396. https://doi.org/10.1037/h0054346

Harper, M. S., & Welsh, D. P. (2007). Keeping quiet: Self-silencing and its association with relational and individual functioning among adolescent romantic couples. Journal of Social and Personal Relationships, 24(1), 99–116. https://doi.org/10.1177/0265407507072601

Hogg, M. A., & Vaughan, G. M. (2018). Social psychology 8th edition. Pearson.

Lewandowski, G. W., Jr., Aron, A., Bassis, S., & Kunak, J. (2006). Losing a self-expanding relationship: Implications for the self-concept. Personal Relationships, 13(3), 317–331. https://doi.org/10.1111/j.1475-6811.2006.00120.x

Zhang, Y., Hao, J., Zhang, S. (2024). Motivations behind sacrifice in romantic relationships. Lecture Notes in Education Psychology and Public Media, 48, 123-129. https://doi.org/10.54254/2753-7048/48/20231558