Konten dari Pengguna

Bukan Sekadar Mengganti Tumbuhan, Kebun Raya Cibodas Pulihkan Koleksi

Mahmudin

Mahmudin

Analis Pemanfaatan Iptek - BRIN

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mahmudin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebanyak 22 spesimen ditanam kembali di Kebun Raya Cibodas sepanjang tahun 2026. Prosesnya bukan sekadar mengganti tumbuhan yang mati, tetapi juga bagian dari upaya menjaga koleksi ilmiah dan fungsi konservasi ex situ.

Satu tumbuhan mati di kebun raya mungkin terlihat seperti persoalan sederhana. Tinggal menggali tanah, menanam bibit baru, lalu merawatnya, Namun, bagi kebun raya, persoalannya tidak sesederhana itu. Tumbuhan koleksi merupakan bagian dari koleksi ilmiah berupa tumbuhan hidup. Setiap tumbuhan memiliki identitas, nomor koleksi, asal-usul, lokasi penanaman, dan nilai konservasi yang perlu dijaga.

Kebun raya sendiri menjalankan fungsi konservasi tumbuhan secara ex situ, sekaligus mendukung penelitian, pendidikan, dan wisata ilmiah. Karena itu, ketika tumbuhan mati atau mengalami kerusakan berat, penggantiannya membutuhkan perencanaan.

Itulah yang dilakukan Kebun Raya Cibodas (KRC) pada tahun 2026. Sebanyak 22 spesimen tumbuhan koleksi ditanam sebagai bagian dari kegiatan rehabilitasi di sejumlah wilayah koleksi.

Mengapa tumbuhan koleksi perlu direhabilitasi?

Kebun Raya Cibodas merupakan salah satu pusat konservasi tumbuhan pegunungan tropis di Indonesia. Koleksinya mencakup tumbuhan asli Indonesia maupun tumbuhan introduksi dari berbagai wilayah dunia. Sebagian di antaranya memiliki nilai ilmiah, langka, endemik, atau penting bagi upaya konservasi.

Dalam perjalanan waktu, kondisi tumbuhan koleksi dapat berubah. Usia tumbuhan, perubahan iklim mikro, serangan hama dan penyakit, kerusakan fisik, hingga kondisi lingkungan dapat menyebabkan kesehatan tumbuhan menurun dan pada akhirnya menyebabkan kematian. Karena itu, rehabilitasi tidak hanya berarti menanam tumbuhan pengganti. Kegiatannya mencakup identifikasi kondisi tumbuhan, analisis penyebab kerusakan atau kematian, perbaikan media tanam dan drainase, pengaturan naungan, tindakan teknis, hingga pemantauan setelah penanaman. Dengan kata lain, yang dipulihkan bukan hanya tumbuhan, tetapi juga keberlanjutan koleksi.

Bibit pengganti tidak ditanam sembarangan

Ada proses yang harus dilalui sebelum tumbuhan masuk kembali ke area koleksi. Dalam kegiatan rehabilitasi 2026, bibit calon koleksi pengganti terlebih dahulu dipelihara di pembibitan. Kriteria yang digunakan antara lain tinggi tumbuhan di atas 100 sentimeter, bergantung pada jenisnya, bebas dari hama dan penyakit, serta memiliki sistem perakaran yang sehat.

Pemilihan bibit menjadi penting karena tumbuhan yang baru dipindahkan menghadapi fase adaptasi. Perubahan dari lingkungan pembibitan ke lokasi penanaman dapat menimbulkan transplanting shock. Pada fase ini, teknik penanaman, penyiraman, dan perlindungan dari cahaya matahari berlebih menjadi bagian penting untuk membantu tumbuhan melewati masa kritis.

Kondisi Kebun Raya Cibodas yang sejuk, lembap, dan memiliki curah hujan yang cukup menjadi salah satu faktor yang mendukung pertumbuhan tumbuhan, khususnya jenis yang sesuai dengan kondisi dataran tinggi tropis.

Proses pemilihan bibit di Pembibitan Koleksi Kebun Raya Cibodas, Cianjur, Jawa Barat, April 2026. Foto: Mahmudin/DPKI BRIN

22 spesimen dari 12 suku

Sebanyak 22 spesimen yang ditanam kembali berasal dari beragam kelompok tumbuhan. Data kegiatan mencatat 12 suku, 14 marga, 12 jenis, serta sembilan spesimen yang masih dicatat pada tingkat sp, antara lain Hoya sp., Amorphophallus titanum, Rhododendron macgregoriae, Rhododendron sp., Cinnamomum camphora, Cryptocarya sp., Syzygium antisepticum, Aglaia cucullata, Araucaria bidwillii, Castanopsis tungurrut, Castanopsis argentea, Medinilla sp., Ardisia crispa, Ardisia sp., Magnolia liliifera, Pinanga javana, dan Lithocarpus pseudomoluccus.

Di antara tumbuhan yang direhabilitasi, terdapat koleksi yang dikelompokkan berstatus Endangered (EN) berdasarkan data Red List IUCN, yaitu: Castanopsis argentea dan Castanopsis tungurrut. Kehadiran tumbuhan dengan nilai konservasi seperti ini membuat keberadaan koleksi memiliki arti lebih luas daripada sekadar mempertahankan tampilan lanskap.

22 spesimen bibit tumbuhan yang telah dipilih di Pembibitan Kebun Raya Cibodas, Cianjur, Jawa Barat, April 2026. Foto: Mahmudin/DPKI BRIN

Tantangan sebenarnya justru setelah ditanam

Menanam bibit baru bukan akhir dari proses. Setelah penanaman, tumbuhan harus terus dipantau, penyiraman, penyiangan, pemupukan, serta pengendalian hama dan penyakit menjadi bagian dari pemeliharaan. Beberapa tumbuhan juga dapat mengalami pertumbuhan yang lebih lambat akibat tekanan lingkungan.

Hasil pengamatan awal kegiatan menunjukkan bahwa sebagian besar tumbuhan mampu beradaptasi dengan baik. Beberapa di antaranya mulai menunjukkan tunas baru dalam beberapa minggu setelah penanaman, disertai pertumbuhan vegetatif dan perkembangan sistem perakaran, namun kondisi tersebut belum berarti pekerjaan selesai. Dalam pengelolaan koleksi, keberhasilan rehabilitasi perlu dilihat melalui pemantauan berkelanjutan, parameter yang diperhatikan antara lain munculnya tunas atau daun baru, kondisi warna daun, kestabilan tumbuhan, gejala hama dan penyakit, serta kemampuan tumbuhan beradaptasi dalam beberapa bulan setelah penanaman.

Proses penanaman dan pemeliharaan bibit rehabilitasi yang ditanam di Kebun Raya Cibodas, Cianjur, Jawa Barat, April 2026. Foto: Mahmudin/DPKI BRIN

Menjaga tumbuhan berarti menjaga data.

Ada satu bagian penting yang sering luput dari perhatian ketika berbicara tentang konservasi tumbuhan: data tumbuhan koleksi tidak berdiri sendiri; identitas dan keberadaannya perlu didokumentasikan dalam sistem pengelolaan koleksi. Karena itu, rehabilitasi juga disertai penandaan ulang dan pembaruan database koleksi.

Rekomendasi kegiatan bahkan menekankan pentingnya pemantauan dan pemeliharaan berkala, dokumentasi lengkap, pemutakhiran data koleksi pada database Makoyana (Manajemen Koleksi Kebun Raya Indonesia) dan RIN (Repositori Ilmiah Nasional) BRIN, serta pengembangan sistem perbanyakan yang terstandar agar bibit untuk rehabilitasi dapat tersedia ketika dibutuhkan.

Dengan demikian, satu tumbuhan yang ditanam kembali membawa pekerjaan yang lebih panjang daripada sekadar aktivitas berkebun. Ada identitas yang harus dicatat, kondisi lingkungan yang harus diperhatikan, risiko hama dan penyakit yang perlu diantisipasi, pertumbuhan yang harus dipantau, serta nilai konservasi yang perlu dipertahankan.

Tangkapan layar tumbuhan koleksi rehabilitasi Castanopsis argentea yang telah didokumentasikan pada database RIN BRIN. Juli 2026. Mahmudin/DPKI BRIN

Rehabilitasi sebagai investasi konservasi

Kebun raya pada akhirnya bukan hanya tempat untuk melihat tumbuhan. Ia merupakan tempat di mana koleksi tumbuhan hidup dipelihara untuk menjalankan fungsi konservasi, penelitian, pendidikan, dan rekreasi ilmiah. Ketika satu koleksi mati, keberlanjutan fungsi tersebut ikut menjadi perhatian.

Karena itu, rehabilitasi 22 spesimen di Kebun Raya Cibodas dapat dilihat sebagai bagian dari pekerjaan yang lebih besar, memastikan koleksi tetap hidup, terdokumentasi, dan relevan bagi kebutuhan konservasi dalam jangka panjang.

Pekerjaan tersebut tidak berhenti ketika bibit masuk ke tanah, justru sejak saat itulah tahap berikutnya dimulai, memastikan tumbuhan mampu beradaptasi, tumbuh, dan tetap menjadi bagian dari koleksi yang memiliki nilai ilmiah serta konservasi. Sebab di kebun raya, mengganti tumbuhan yang mati bukan sekadar mengisi ruang yang kosong yang dijaga adalah keberlanjutan sebuah koleksi hidup.