Konten dari Pengguna

Smartphone Mahal Belum Tentu Cocok untuk Semua Orang

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dian Rosalina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi berbagai smartphone dengan harga mahal di toko. (Pexels.com/Mathias Reding)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi berbagai smartphone dengan harga mahal di toko. (Pexels.com/Mathias Reding)

Smartphone telah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Mulai dari versi yang paling murah sampai yang paling mahal sekalipun, semua orang memiliki smartphone untuk membantu kehidupan mereka. Sayangnya, selama beberapa bulan ke belakang harga smartphone tiba-tiba merangkak naik di Indonesia maupun di pasar global.

Menurut laporan dari IDC dan Counterpoint Research, harga rata-rata smartphone di Indonesia naik sampai 45 persen. Semua ini terjadi karena biaya produksi dan pasokan komponen global. Tak heran, perangkat kelas flagship sekarang sudah menyentuh angka mulai dari belasan hingga puluhan juta rupiah. Tidak berbeda jauh dengan harga sebuah sepeda motor terbaru.

Meski begitu, apakah perangkat mahal ini sebanding dengan nilai yang didapat setiap orang?

Faktanya, menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), tren pasar menunjukkan kalau mayoritas pengguna di Indonesia pakai smartphone untuk aktivitas harian seperti komunikasi, bekerja, media sosial, dan hiburan kasual. Pada akhirnya spesifikasi ‘gahar’ pada smartphone masa kini, cuma jadi pemanis dan meninggikan ‘gengsi’ semata.

Jadi, tingginya harga smartphone tidak otomatis menjamin kepuasan pengguna. Memilih perangkat yang tebat bukan lagi tentang seberapa mahal harganya, melainkan seberapa presisi spesifikasinya untuk menjawab kebutuhan nyata dan ego penggunanya.

Ilustrasi harga smartphone yang tinggi tapi tidak sesuai kebutuhan. (Pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Smartphone Harga Tinggi Tak Selalu Sesuai Kebutuhan

Saya selalu bertanya-tanya, kenapa orang rela mengantri berjam-jam dari pagi hingga malam hanya untuk mendapatkan smartphone terbaru dan tercanggih saat ini? Pernahkah terpikir sebelum membeli smartphone, apa yang ingin kita lakukan dengan perangkat itu setiap hari?

Bagi kebanyakan orang, jawabannya pasti untuk chatting, bekerja, bermedia sosial, menonton video, memotret, membuat konten video, dan banyak lagi. Tapi bukankah hal seperti ini juga bisa dilakukan oleh smartphone middle-range bahkan entry-level? Prosesor ngebut, layar dengan refresh rate mentok dan kamera beresolusi tinggi memang terdengar mengesankan, tapi apakah manfaatnya sebanding dengan harganya dan pemakaiannya?

Ya, di sinilah jebakan itu muncul. Ketika harga naik, banyak orang menganggap harga mahal otomatis berarti mendapatkan pengalaman yang lebih baik. Padahal, selisih performa antara flagship dan kelas menengah sering tidak terasa dalam pemakaian sehari-hari. Justru yang terasa berbeda adalah selisih di rekening. Oleh sebab itu, sudah saatnya cara kita menilai smartphone bergeser dari “seberapa canggih” menjadi “seberapa pas untuk kita”.

Pengguna yang suka bermain game berat atau mengedit video tentu punya alasan kuat untuk memilih perangkat yang punya spesifikasi lebih bagus. Tapi bagi mereka yang lebih banyak berkomunikasi dan menikmati hiburan ringan, baterai awet, layar nyaman, dan performa stabil jauh lebih berarti.

Samsung Galaxy A17 5G, Xiaomi Redmi Note 15, OPPO A5, Vivo Y29 dan HONOR X7d. (AI Generate)

Pilih Smartphone Karena Value, Bukan Gengsi

Di tengah kenaikan harga smartphone, menurut saya sudah saatnya konsumen melihat perangkat berdasarkan value atau nilai guna, bukan lagi soal gengsi tongkrongan. Setiap orang menggunakan smartphone-nya berbeda-beda. Ada yang mementingkan kualitas layar, kamera jernih, atau cuma ingin baterai tahan lama dan penyimpanan lega.

Kabar baiknya, in this economy, mari singkirkan dulu smartphone flagship seharga motor atau DP mobil itu. Pilihan di kelas menengah kini juga sudah beragam dan sudah mumpuni untuk aktivitas sehari-hari-hari.

Sebut saja Samsung Galaxy A17 5G, yang menawarkan Super AMOLED dan dukungan pembaruan perangkat lunak jangka panjang. Xiaomi Redmi Note 15 yang membawa kamera 108MP dan baterai 6.000 mAh, sementara OPPO A5 dan vivo Y29 menghadirkan kombinasi baterai besar dengan fitur yang menunjang aktivitas sehari-hari.

Ada juga HONOR X7d yang memiliki baterai 6.500 mAh dan penyimpanan internal 512GB dengan harga yang cukup terjangkau yakni 4 jutaan saja. Di era kenaikan komponen RAM, 512GB di harga itu, sudah sangat besar dan cukup menguntungkan. Kapasitas sebesar ini layak dipertimbangkan oleh mereka yang banyak menyimpan foto, video, dokumen, maupun aplikasi.

Kenaikan harga smartphone memang menjadi tantangan bagi konsumen atau brand smartphone yang ada di Indonesia. Tentu saja kekhawatirannya adalah harga kini tidak sebanding dengan pendapatan masyarakat. Masyarakat pun mungkin akan lebih memilih sesuatu yang lebih berguna, ketimbang membeli smartphone sekarang.

Jadi perangkat paling mahal bukan lagi membuktikan kalau kita pintar mengelola uang. Pengguna yang cermat justru mereka yang tahu persis apa yang dibutuhkan, lalu memilih perangkat yang menjawabnya tanpa membayar lebih untuk fitur yang tak pernah dipakai. Sebelum tergoda angka-angka besar di lembar spesifikasi, coba tanyakan ke diri sendiri: saya beli smartphone untuk dipakai sehari-hari karena butuh, atau hanya untuk dilihat orang?