Konten Media Partner

Apakah Pilihan Politik Mematikan Rasio?

Temaliverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pendemo yang marah. (Foto: pixabay.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pendemo yang marah. (Foto: pixabay.com)

Perhelatan pemilu serentak di Indonesia telah memasuki babak akhirnya, namun ternyata banyak lubang besar yang ditinggalkannya di tengah masyarakat. Salah satunya adalah lunturnya rasionalitas serta kearifan berpolitik.

Seolah tidak malu, banyak tokoh publik dan politik yang terang-terangan mengumbar sentimen berlebihan pada pihak tertentu. Tanpa mempertimbangkan data objektif, mereka memaksakan pandangan-pandangan yang sesuai dengan kelompok afiliasinya di atas kelompok yang berlawanan.

Fenomena ini sendiri disebut sebagai fenomena post-truth. Fenomena ini menggambarkan kondisi masyarakat yang opininya mudah dibentuk lewat perasaan mereka terhadap sesuatu, ketimbang fakta yang tersaji seputar hal tersebut.

Menurut penulis sekaligus filsuf asal Britania Raya Julian Baggini, yang ia ungkapkan pada The Guardian, fenomena itu terjadi karena masyarakat diandaikan sebagai objek sebuah percakapan politik yang berat sebelah semata. Juga tidak ada warga negara yang diizinkan untuk membantah kekeliruan yang ada. Hal ini diperparah ketika tidak adanya pertukaran argumen untuk keluar dari kecemasan massal yang sedang terjadi. Seolah-olah, betul bahwa "Dunia tidak siap dan tidak bersedia mengucapkan selamat tinggal pada kebenaran."

Pada akhirnya, fakta dan kebenaran menjadi sesuatu yang too good to be true. Kekuatan argumen yang bersandar pada rasionalitas, yang menurut filsuf Jerman Jurgen Habernas adalah ruh demokrasi itu sendiri, merupakan barang langka yang sulit didapat.

[Penulis : Izzudin|Editor : Nadhira]