Ini Cara Mengingatkan Teman yang Suka Mengonsumsi Konten Pornografi

Bahasan mengenai pornografi seakan tidak habis di dunia maya. Pagi ini media sosial Twitter dihebohkan dengan tagar #Sandhysandorocab***. Bahkan tagar tersebut menjadi trending nomor satu di Indonesia.
Pasalnya, Sandhy Sandoro terciduk menyukai sebuah postingan berbau konten dewasa. Meskipun telah dihapus, akun @opposite6890 telah terlebih dahulu menangkap layar dan memublikasikan melalui cuitan berikut:
Berbagai hujatan dan sindiran pun ditunjukan pada akun @Sandoromusic, hingga pria 45 tahun itu memutuskan untuk mengunci akun Twitter pribadinya tersebut. Sebagai buntut dari kejadian ini, tak hanya Twitter, ia juga mematikan kolom komentar di beberapa postingannya di Instagram.
Menanggapi hal ini, Nurafni, selaku ahli psikolog berkomentar. Dari sisi psikologi, ia mengatakan tidak akan berbicara mengenai benar atau salah, tapi lebih kepada motif. Menurutnya, ketika muncul perilaku seperti itu, yang dilihat adalah proses mental dari seseorang. Bagaimana perilaku itu muncul, hal itu pasti ada motif yang melatarbelakangi seseorang.
"Jadi ada perjalanannya, sampai pada akhirnya ia melakukan hal tersebut. Semua pasti ada motifnya, tak ada yang kebetulan dalam psikologi. Ada apa di balik itu? Apa tujuannya?" kata Afni.
Ia melanjutkan bisa saja ketika mengonsumsi pornografi seseorang ingin memunculkan gairahnya atau mungkin ketika gairah tersebut terpenuhi seseorang akan merasa tenang. Dalam artian di sini dalam proses mentalnya, ada tujuan yang ingin dicapai.
Namun, ketika ditanya kenapa bisa seperti itu, bisa saja seseorang tersebut tidak tahu. Hal itu karena keinginan dan tujuan tersebut dari kebutuhan inner seseorang yang sangat dalam.
Kalau melihat dari teori psikologi lama, setiap orang pasti punya libido seks dan libido yang mati. Nah, dalam kasus ini yang terjadi adalah libido seksnya yang hidup sehingga ia memiliki kebutuhan akan hal tersebut. Afni menambahkan, jangankan seseorang yang normal orang dengan gangguan kejiwaan pun memiliki libido seks yang hidup.
"Jadi kalau hal ini muncul pada seseorang yang normal, mungkin kita juga lihat, apakah pengertian pornografi ini adalah salah atau suatu perbuatan yang kriminal atau hanya melanggar tata kesopanan saja?" tambah Afni lagi.
Untuk mendapatkan regulasi atau pembatasan mengenai hal ini, Afni mengatakanbisa dengan cara mengingatkan dan menjelaskan.
"Mungkin kita bisa mengingatkan dan menjelaskan mengenai tata kesopanan dan sejauh apa seseroang boleh mengekspresikan kebutuhannya terhadap seks. 'Ini boleh dikeluarkan tidak atau yang seperti ini boleh dilakukan di mana,' seperti itu," jelas Afni.
Saat mengingatkan pun, kita tidak bisa langsung to the point marah atau menyatakan tidak suka. Tapi lihat dulu bagaimana keadaanya, lalu seimbangkan sisi afektif dan positifnya. Misalnya, diberitahukan dulu pengetahuan dan efeknya bagaimana ke depan, lalu berikan sisi afeksi. Tunjukkan bahwa kita melakukan hal ini karena sayang.
Dalam memberitahukannya pun tidak bisa asal, harus ada pengetahuan terlebih dahulu. Nah, dalam kasus Sandhy Sandoro, orang terlalu cepat memeberikan judgement dan membesar-besarkan masalah.
"Bahkan bisa jadi orang yang membicarakan itu pun melakukan hal yang sama. Ia tidak tahu cara memuaskan diri, tidak tahu bagaimana ilmunya hingga itu menjadi hal yang tabu sekali. Jadi jangan langsung dipandang kriminal, tapi liat dulu di dalam diri orang tersebut prosesnya bagaimana," tegas Afni.
Bagaimana dengan yang kecanduan?
Beda lagi dengan orang yang sudah kecanduan, itu sudah terjadi adanya gangguan pada otak. Setiap otak itu, kalau ada sesuatu yang dirasakan enak, itu akan terus menagih dan kecanduan. Apalagi kalau bagian otaknya sudah rusak, seseorang harus segera menyadarinya untuk segera melakukan alih fungsi.
Afni mengatakan , otak yang sudah rusak tidak bisa diperbaiki. Kalaupun ada obat, itu hanya besifat untuk membantu bagian lain untuk mengaktifkan fungsinya. Maka dari itu, ketika seseorang sudah merasa ada kebutuhan yang tidak wajar segera jujur pada diri sendiri.
"Jujur pada diri sendiri itu penting, ketika ada kebutuhan yang berlebih dan tidak wajar segeralah selesaikan. Syukur-syukur bisa diatasi oleh diri sendiri dengan melibatkan Tuhan. Tapi kalau sudah merasa butuh bantuan, itu harus jujur dan tidak usah disembunyikan,
"Karena, kalau kita jujur dengan diri sendiri, di situ ada hal yang ingin kita lepas. Kalau kita terus menyembunyikan, contolling-nya menjadi lebih kecil. Saya gak bilang gak bisa, tapi alangkah lebih baik bercerita, jika malu pada teman boleh pada psikologi atau psikiater yang sudah ahli,"tutupnya***
