Kisah Move On, Bangkit Setelah Dilecehkan Secara Seksual

Memiliki pengalaman buruk di masa lalu atau di masa kecil, membuat sebagian orang harus menanggung beban yang berat saat sudah beranjak dewasa. Beban tersebut bisa berupa psikologis ataupun stigma dari masyarakat. Para psikolog menyebut beban psikologis tersebut dengan sebuatn Inner Child.
Tentu ada beragam Inner Child yang dialami oleh mereka. Seperti misalnya, yang dimiliki oleh Irfan (nama samaran), ia bercerita memiliki Inner Child pernah dilecehkan oleh kakak kelasnya saat usianya masih usia Sekolah Dasar (SD).
__
Aku menjalani masa SD nya di sebuah pesantren di daerah Sumatera. Pada saat itu, pesantrenku dihuni oleh santri usia SD dan SMP. Asrama tempat kami beristirahat pun sama, antara santri usia SD dan SMP.
Di tahun kedua, saat aku menjalani masa pesantren, aku pernah dekat dengan salah seorang kakak kelas. Kakak kelasnya tersebut berbeda usia sekitar 3 tahun darinya atau sudah SMP. Tidak ada yang aneh pada awalnya, hubungan kami hanya seperti adik dan kakak.
Sampai pada suatu malam, kakak kelas tersebut meminta untuk tidur disampingku saat mereka sudah di asrama. Aku pun tidak menolak dan justru merasa senang pada awalnya.
Hingga kira-kira sudah lewat tengah malam, aku terbangun karena merasa ada yang aneh. Perlahan, ada yang menurunkan celanaku di bagian belakang, karena pada saat itu aku tidur miring kesamping. Saat itu, dalam kondisi lampu asrama sudah dimatikan, aku tidak tahu harus berbuat apa.
Lalu, ia merasa ada yang meraba-raba tubuh bagian belakangku, dari atas hingga bawah. Lagi-lagi, aku hanya bisa diam mematung karena sangat kaget dan takut. Bahkan tangan jahannam tersebut meremas-remas bagian bokongku. Samar-samar, aku mendengar pelaku tersebut membuka resleting celananya.
Perbuatan selanjutnya sangat biadab. Sang pelaku, (maaf) mensodomiku.
Aku hanya bisa bergidik ketakutan, tak lama air mataku mengalir. Namun, aku masih belum kuasa untuk bergerak karena terlalu bingung harus melakukan apa dan harus minta tolong pada siapa. Ia pun hanya diam, sementara sang pelaku yang merupakan kakak kelasku sendiri dan sudah ia anggap kakak sendiri, melakukan aksi bejatnya.
Begitu berat beban sakit secara fisik dan psikolog yang harus aku tanggung pada malam itu, dan kelak hingga bertahun-tahun sesudahnya. Bahkan, seingat dirinya malam itu ia disodomi dalam waktu yang lama, bahkan hampir satu jam.
Sampai pada suatu kesempatan, ada santri lain yang keluar asrama untuk buang air kecil. Entah muncul keberanian dari mana, aku langsung bangun dan menaikkan celananya. Lalu ikut berlari keluar asrama. Aku terus berlari menuruni tangga asrama dan menuju masjid. Aku masih bingung harus melapor kepada siapa malam itu. Hingga aku pun memutuskan untuk berdiam diri di masjid pesantren sambil terus terjaga hingga shubuh. Aku masih sangat dihantui rasa takut dan trauma.
Waktu terasa berjalan begitu lambat sampai akhirnya shubuh tiba. Saat para santri sudah mulai bangun dan beranjak ke masjid, akubersembunyi di salah satu WC masjid, hingga sholat shubuh dimulai. Lalu, aku mengumpat-ngumpat kembali ke asrama untuk mengganti celana dan bajunya.
Setelah kejadian itu, aku berbeda. Aku tidak lagi menjadi anak yang riang dan ceria, tapi jadi sering murung sendiri dan menyendiri. Aku tidak pernah berani menceritakan kisah tragis tersebut ke siapa-siapa. Bahkan, aku pernah berpikir untuk bunuh diri saja.
(bersambung)
[Penulis: Izzudin | Editor: Lupi Y]
