Konten Media Partner

Lakukan Hal Ini Jika Menemukan Ular Di Sekitar Pemukiman Warga

Temaliverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Foto: Kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Kumparan

Fenomena munculnya ular kobra di pemukiman warga membuat geger masyarakat. Belakangan ini, Jakarta menjadi tempat yang heboh diperbincangkan. Ular-ular tersebut muncul di beberapa wilayah di Jakarta dan membuat warga terheran-heran dengan fenomena ini.

Disamping itu, sebagian besar orang berpikir bahwa ular merupakan hewan yang mengerikan dan berbahaya, sehingga membuat mereka merasa terancam.

Ketua Yayasan Sioux Ular Indonesia Aji Rachmat mengatakan, fenomena kemunculan ular di pemukiman warga ini, bukan suatu hal yang di luar kebiasaan. Ia mengatakan hal ini sangat wajar, karena dua bulan di akhir tahun yaitu November dan Desember bahkan sampai Januari, merupakan waktu penetasan telur beberapa spesies ular.

“Ditambah lagi dengan adanya musim penghujan, lubang-lubang tempat ular tinggal kemasukkan air jadi keluar semua,” tutur Aji.

Ular sendiri suka menempati tempat yang tidak terlalu panas dan juga tidak terlalu kering, seperti di tempat yang lembab, di bawah pohon, di pinggir sungai atau di tumpukan sampah.

Sedangkan untuk kasus di Jakarta, Aji berpendapat ular tidak memiliki tempat untuk berlindung dan memetakan posisi ular. Hal ini karena ular sudah bisa terlihat di mana ia tekanya, ia tidak tahu tempatnya. Setiap tempat kan ada lahan kosong ada tebing kosong kalau lama kosong ular bisa betah di sana.

“Sekarang kan udah susah ditemui seperti hutan, kebun dan situ-situ sudah dibangunkan, kanan kirinya jadi ular pada keluar,” tambah Aji.

Jadi dihimbau kepada masyarakat untuk menjaga kebersihan dan membersihkan lahan-lahan kosong agar tidak menjadi sarang ular. Lantas untuk menghadapi ular, Aji mengatakan kalau belum terlatih, masyarakat diharapkan memakai alat untuk memindahkan, jangan langsung dipegang.

Seperti menggunakan sapu, dijepit, dimasukkan ke ember atau kotak dan lain sebagainya. Jadi, masyarakatnya yang harus dilatih untuk menangani ular, jangan sampai kena gigit.

“Sebaiknya jangan dibunuh, karena kan ular merupakan bagian dari rantai makanan. Khawatirnya jika bayi-bayi kobra dibunuh dan tidak diproses untuk memangsa, maka akan ada ledakan populasi hama. Hama itulah yang berbahaya, misalnya tikus, kodok yang membawa penyakit. Jadi harus ada ular,” kata Aji.

Anak kobra yang diamankan petugas damkar Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Foto: Dok. Damkar

Jika sudah terlanjur kena gigitan yang pertama harus dilakukan adalah jangan panik, kenali spesiesnya ular apa yang menggigit. Lalu, luka gigitan tidak boleh dihisap dan tidak boleh dirobek, yang harus dilakukan adalah diimobilisasi atau tidak boleh digerakkan. Hal ini karena, pergerakan otot bisa mempercepat perjalanan bisa.

Setlah itu, dibawa ketempat medis kalau berbisa rendah cukup diberi antiseptik, sedangkan bisa menengah, harus diberi perawatan dan diistirahatkan serta diberikan suplemen seperti susu dan madu. Tapi kalau bisanya tinggi harus dirawat di rumah sakit untuk dipantau stamina fisiknya.

Menganal Yayasan Sioux Ular Indonesia

Yayasan Sioux sendiri merupakan lembaga studi untuk belajar mengenal karakter ular-ular di Indonesia. Mereka keliling dari Aceh hingga Papua untuk mengenal kurang lebih 340 spesies di Indonesia untuk belajar dan mengedukasi pentingnya ular sampai penyelamatan ular Snake Rescue.

“Kita bukan pecinta ular, jadi enggak ada koleksi ular di yayasan kita. Kalau ada ular masuk rumah di selamatkan dan dilepas lagi ke habitatnya. Fungsinya pokok utamanya untuk mengenal, mengedukasi dan menyelamatkan ular,” ucap Aji

Yayasan ini terletak di Yogyakarta, tapi relawannya tersebar di 12 provinsi dan berjumlah sekitar 700 orang. Jadi kalau membutuhkan bantuan Yayasan Sioux Ular Indonesia, mereka siap membantu.