Konten Media Partner

Mengelola Perbedaan Karakter dan Bakat Sifat Suami Istri

Temaliverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mengelola Perbedaan Karakter dan Bakat Sifat Suami Istri
zoom-in-whitePerbesar

Penulis: Elma Fitria Co-Founder Sekolah Alam Yogyakarta (SAYOGYA), Praktisi Pendidikan berbasis Fitrah

Bakat adalah bawaan ruh. Sejak lahir sudah demikian adanya bakat sifat kita. Ekspresi bakat akan berkembang atau meredup seiring pertumbuhan kita sejak kecil sampai dewasa. Di dalamnya termasuk pengaruh dari pengasuhan yang kita terima, skema yang kita pelajari, naik turun self worth, serta lingkungan yang ada di sekitar tumbuh kembang kita.

Jika suami dan istri saling memahami keunikan kepribadian masing-masing, tentu akan memudahkan dalam komunikasi. Tapi jika tidak saling memahami keunikan kepribadian masing-masing, maka cenderung untuk menilai pasangannya dengan pola pikirnya sendiri.

Saya ambil contoh pasangan yang saya kenal baik. Dalam konteks bakat dengan alat ukur Talents Mapping, suaminya memiliki bakat terkuat Harmony, sementara istrinya memiliki bakat terkuat Command.

Deskripsi singkat bakat Harmony: Seorang pribadi yang senang berinteraksi secara selaras di dalam kelompok. Selalu ingin menciptakan kesepahaman. Mereka tidak nyaman dengan konflik, dan akan selalu meminimalisir gesekan. Akan mengalah jika perlu. Cenderung menghindar dari konflik yang besar.

Deskripsi singkat bakat Command: Seorang pribadi yang hadir sepenuhnya, mampu mengendalikan situasi dan mengambil keputusan. Siap menghadapi konflik. Cenderung tegas dan mengarahkan.

Dari deskripsi di atas, dapat dilihat bahwa ketika berhadapan dengan konflik, sang istri akan cenderung menghadapi konflik dan mencari kejelasan dengan ketegasannya, tidak ragu untuk mengkonfrontasi orang yang terlibat dalam konflik.

Sementara suaminya akan mengupayakan keselarasan antar semua pihak, dan cenderung menghindari konfliknya, lebih mengedepankan perdamaian dan akur daripada konfrontasi.

Ketika mereka tidak cukup kenal bakat masing-masing, istri sering menilai suami melalui tolok ukurnya, begitu pun suami menilai istri dari tolok ukurnya. Ujungnya jadi masalah yang berulang, dan tidak ketemu solusi.

Berikut adalah contoh konflik suami istri yang terjadi karena perbedaan bakat yang tidak dipahami, dan masing-masing terjebak pada pola kalimat impulsif dan reaktif yang khas dari masing-masing bakat.

Contoh kalimat ini saya yang membuatnya, berdasarkan yang saya tahu tentang dorongan impulsif orang Command dan Harmony, bukan yang saya dengar dari pasangan tersebut di atas :

“Mas, kok rapat mendadak terus beberapa malam ini?”

“Iya, kan load kerja di kantor sedang tinggi, karena ngejar deadline. Bulan kemarin juga kan begitu.”

“Iya tapi kan atasan sudah atur jadwal baru, buat menyiasati itu. Itu kan yang dibahas di rapat besar bulan kemarin? Tanya lagi lah sama atasan, Mas. Kok bisa dia yang buat aturan, eh malah dia juga yang enggak konsisten. Mas enggak boleh diam saja, kemarin kan teman Mas sampai enggak bisa nemenin ibunya yang dirawat di RS karena terpaksa malam-malam harus ke kantor.”

“Aku rasa ini ga akan terus menerus terjadi kok. Besok lusa juga sudah normal lagi jadwalnya.”

“Ga bisa gitu Mas, kalau ada masalah di kantor itu mbok ya bahas sama atasan. Jadi tuntas gitu lho. Jangan diem aja”

“Ya aku kan kerja disitu, kalau complain terus ga bagus juga di mata atasan.”

Familiar dengan contoh percakapan di atas ? Ini percakapan umum. Masalahnya juga jelas. Tapi karena dipandang dari cara pandang yang berbeda sesuai bakat masing-masing, dan justru tidak tahu bagaimana mengelola dorongan alami bakat masing-masing, maka perbedaan jadi meruncing dan jadi pola komunikasi yang destruktif.

Apakah perbedaan adalah masalah? Menurut Islam, perbedaan itu adalah rahmat. Oleh karenanya mengenali perbedaan bakat satu sama lain, adalah tahap awal menentukan cara berkomunikasi yang pas sesuai bakat satu sama lain. Karena menjadikan perbedaan sebagai rahmat itu perlu upaya dari kedua belah pihak.

Namun sekedar kenal perbedaan saja belum cukup. Setelah suami dan istri ini tahu bahwa bakat terkuat mereka berbeda satu sama lain, mereka perlu paham bahwa ini juga berarti dorongan alami dari diri mereka pun berbeda. Bahkan kontras bedanya. Saya tidak menyebut bakatnya bertolak belakang, karena pada dasarnya bakat itu tidak bertolak belakang, hanya kontras saja.

Suami istri ini perlu paham bahwa dalam setiap situasi, pasti cara pikirnya beda, cara merasanya beda, dan responnya pun beda.

Maka istri perlu berlatih mengelola ekspresi dari Command-nya, begitupun suami perlu mengelola ekspresi dari Harmony-nya. Jangan sampai yang keluar adalah ekspresi impulsifnya Command yang menekan dan menuntut, serta ekspresi impulsifnya Harmony yang menghindar dan tidak menghadapi konflik.

Kalimat yang menunjukkan penghormatan antara 2 orang yang bakatnya beda (Command dan Harmony) adalah seperti ini. Perhatikan bahwa ini semua diucapkan dengan intonasi tenang dan penuh hormat.

“Mas, aku lihat Mas rapat mendadak malam hari, beberapa hari berturut-turut. Ada apa ya Mas ?”

“Di kantor load kerjanya lagi tinggi, karena ada deadline. Semua orang juga ikut rapat malam hari”

“Oh, begitu. Seingatku bulan lalu ada rapat besar bahas mengatur jadwal kerja, untuk menghindari rapat mendadak malam hari. Kalau sekarang bagaimana hasil rapat itu diterapkan Mas ?”

“Awalnya juga dijalankan seperti itu, tapi kemudian, kita dapat tekanan dari klien, karena klien ini dapat perintah dari pemerintah untuk mempercepat proyeknya, berhubung mendekati pilkada. Kalau keburu pilkada, katanya birokrasi proyeknya bakal lambat. Jadi yang paling enak buat semua pihak, ya mempercepat proyek ini.”

“Wah, ternyata panjang ya penyebabnya. Terus teman Mas yang kemarin ga bisa nemenin ibunya di RS, jadinya gimana ? Kasihan kalau dia ga bisa ke RS karena rapat.”

“Iya, kebetulan rapat kemarin itu justru tugas dia yang lagi dibahas, jadi terpaksa ga bisa ke RS. Atasan Mas telepon ibunya, untuk minta maaf, dan berjanji akan memberi libur khusus 3 hari setelah tugasnya selesai, berharap bisa menemani ketika recovery ibunya. Ibunya jadinya ditemani istri temanku, itu lho yang pernah ngasih bingkisan kue ke kita.”

“Oh iya, aku ingat. Mudah-mudahan proyek ini segera beres, ibunya teman Mas segera pulih, dan ga ada lagi rapat malam, ya.”

“Iya mudah-mudahan begitu.”

Yang dibahas adalah masalah yang sama, namun karena sikap yang ditunjukkan berbeda, maka masalah dan solusi jadi jelas.

Orang dengan bakat Command butuh memperjelas situasi, itulah sebabnya dia akan bertanya terus sampai semua yang tidak jelas menjadi jelas, semua yang dia tidak tahu menjadi diketahui. Ini sebenarnya tuntutan.

Tapi karena dia bisa mengelola bahasa yang dia pakai dalam menuntut, maka orang yang ditanya tidak merasa sepenuhnya dituntut, semata sedang ditanya tentang kejelasan situasi. Kalau yang dirasakan lawan bicaranya adalah permintaan memperjelas situasi, maka dia tidak akan merasa ditekan, justru akan merasa dipercaya.

Orang dengan bakat Harmony butuh menyelaraskan diri dengan orang lain, begitu pun memastikan bahwa dalam relasi orang-orang yang dia kenal, yang tercipta adalah keselarasan. Oleh karena itu bahasanya akan terpusat pada mencari kesamaan. Bisa dilihat di contoh kalimat-kalimat di atas.

Yang ditekankan adalah bahwa orang lain juga melakukan rapat malam itu demi keselarasan bersama. Bahwa yang nyaman untuk semua pihak adalah mempercepat proyeknya. Yang dilihat adalah upaya atasan menyelaraskan beban kerja di kantor dengan kondisi bahwa ibu dari stafnya sedang sakit.

We only see what your eyes want to see.

Istri yang bakat terkuatnya Command melihat hal rapat malam ini sebagai masalah yang sepertinya perlu dibahas dengan atasan suaminya. Sementara suaminya melihat urusan rapat malam ini sebagai upaya untuk selaras dengan situasi kantor.

Menyadari bahwa suami melihat dengan cara yang berbeda dengan istri, begitu pun kebalikannya, menjadikan kesadaran untuk mengelola ekspresi dan menata bicara dapat penuh mengisi keseharian kita.

Cara-cara baru dalam komunikasi suami istri mutlak perlu diciptakan, jika kita ingin rumah tangga kita menjadi sakinah mawaddah dan warahmah.

Semoga kita adalah insan yang senantiasa diberikan kesadaran untuk memahami diri dan memahami diri pasangan kita. Aamiin.***

Tulisan Elma Fitria yang lain dapat dilihat di elmafitria.wordpress.com