Konten Media Partner

Menikah dengan Orang yang Tepat Juga Privilege!

Temaliverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menikah dengan Orang yang Tepat Juga Privilege!
zoom-in-whitePerbesar

Saya masih ingat kali pertama saya menangis di depan suami.

Kala itu, kami tengah menaiki kereta api dari Surabaya ke Bandung. Baru pulang bulan madu, ceritanya.

Kami saling bertukar cerita mengenai kawan-kawan kami yang curhat mengenai upaya menikah yang belum berujung akad, atau ada yang kecengannya menikahi orang lain, dan lain sejenisnya.

Kemudian, tiba-tiba pipi saya terguliri air mata. Akhirnya, lirih saya berkata kira-kira seperti ini pada suami, "Kita merasa orang-orang yang sudah menikah tampak lebih beruntung dibanding yang belum menikah.

"Padahal, ada tanggung jawab lebih ketika seseorang sudah menikah-- untuk menemani dan menguatkan mereka yang masih berupaya mencari pasangan hidup (atau menguatkan mereka yang tengah berkonflik).

"Selain itu, ada amal-amal kebaikan yang harusnya lebih kuat, bukan melemah setelah pernikahan.

"Bisa jadi, yang belum menikah dihargaiNya lebih tinggi, karena upaya mereka untuk mendekatkan diri padaNya jauh lebih besar."

Kalau dipikir-pikir, sok sok heroik, yah. Dan percayalah, pemikiran seperti ini tidak selamanya hadir dalam benak. Kalau lagi bener aja anaknya. He.. he..

Tapi kalau ingat-ingat penyebabnya, deep juga. Dan agak nyambung dengan apa yang kemarin sempat ramai dibicarakan. Ihwal privilege, staf ahli khusus Presiden, terutama Putri Tanjung.

Percakapan dengan teman Ahad kemarin membuka cakrawala soal privilege. Bahwa tiap orang memiliki privilege-nya masing-masing, namun juga memiliki unprivilege masing-masing pula dalam hidupnya.

Dan privilege di sini bukan hanya harta, tetapi juga kekayaan batin. Seperti terlahir dari keluarga harmonis. Dapat juga bakat-bakat tertentu, seperti ada yang Ia mudahkan untuk jeli dan detail, ada pula yang Ia mudahkan untuk berpikir helicopter view.

Atau seperti saya, sudah berumah tangga dengan suami super asyik lagi suportif. Ini juga privilege.

Maka, dengan privilege tersebut, saya berupaya untuk enggak iseng-iseng nyelekit nanya ke orang soal nikah, enggak buli-buli berlebihan, enggak terlalu overexposed kemesraan (lebih baik post tentang proses struggling dan pemikiran saya dalam berkarya dan mengharmoniskan rumah tangga), berupaya menemani teman-teman jomblo/teman-teman berkonflik saya, hingga mencarikan pasangan semampu saya bagi kawan-kawan jomblo.. he..he..

Dan tentu, amal ritual dan sosial saya dan suami harus lebih berdampak bagi diri dan sesama. Demi memanfaatkan privilege ini.***