Konten Media Partner

Misteri di Balik Tatapan Mata

Temaliverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Misteri di Balik Tatapan Mata
zoom-in-whitePerbesar

Tahukah kamu, ternyata ada alasan ilmiah di balik fenomena tatapan mata yang begitu mempesona?

Penelitian di Jepang telah membuktikan bahwa ada yang terjadi disaat dua orang saling bertatap mata secara langsung. Memberikan sinyal kontak mata kepada orang lain dapat membuatmu diperhatikan, dan ini adalah salah satu cara untuk berbagi emosi.

Secara khusus, kontak mata terbukti melibatkan otak kecil, yang membantu memprediksi konsekuensi sensori dari tindakan. Dan itu memicu sistem cermin limbik, seperangkat area otak yang aktif baik ketika kita menggerakkan setiap bagian tubuh (termasuk mata) dan ketika kita mengamati orang lain melakukan hal yang sama.

Sistem limbik, secara umum, mendasari kemampuan kita untuk mengenali dan berbagi emosi. Dengan kata lain, sangat penting untuk kapasitas kita berempati.

Fakta ini ditemukan oleh Tim Peneliti yang dipimpin oleh Norihiro Sadato dari Institut Nasional untuk Ilmu Fisiologi di Jepang. Mereka menggunakan kedipan mata sebagai penanda sinkronisasi.

"Kedipan mata dapat memberikan isyarat komunikasi sosial yang mencerminkan keadaan internal seperti gairah, emosi dan beban kognitif, yang semuanya memengaruhi tingkat kedip," kata Sadato. "Ketika mata berkedip disinkronkan, itu mencerminkan perhatian bersama antara peserta," tambahnya.

Ada perbedaan dalam cara otak orang merespons kondisi "hidup" (realtime) dan kondisi "tertunda" (video, film, dan sebagainya). Dalam kondisi hidup versus kondisi tertunda, peserta lebih sensitif terhadap mata pasangannya yang berkedip. Ada peningkatan aktivasi otak kecil dan peningkatan konektivitas dalam sistem cermin limbik. "Temuan kami menunjukkan bahwa interaksi motorik persepsi terjadi selama kontak mata tanpa kesadaran," tulis Sadato dan rekannya.

Penelitian ini dilakukan pada 16 pasang orang dewasa. Masing-masing ditempatkan di sebuah mesin MRI, dengan layar berisi wajah lawan bicaranya di hadapan mereka. Tim Peneliti pun mengambil data berdasarkan sinkronisasi kedipan mata yang terjadi saat pasangan-pasangan relawan itu berinteraksi.

[Penulis : Izzudin|Editor : Nadhira]