Konten Media Partner

Penjelasan Psikolog, Kenapa Orang Tega Membunuh Anggota Keluarganya?

Temaliverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Foto: Arizona Daily Star
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Arizona Daily Star

Kasus istri bunuh dan cor suami di Mushola masih menjadi sebuah teka-teki. Belum jelas apa motif dan masalah personal di balik pembunuhan ini. Disebut-sebut pria berinisial J ikut andil dalam proses pembunuhan Suryono yang sudah menghilang selama 7 bulan.

Saat ini (06/11), pihak Polres Jember masih menahan istri korban, BU dan anaknya, BH untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Polisi masih menduga bahwa pembunuhan ini terjadi karena dendam dan juga harta, tapi muncul juga dugaan adanya pertikaian asmara karena BU sudah menikah siri dengan J. Lalu, ditengarai juga adanya perempuan berinisial H yang dekat dengan korban.

Terlepas dari berbagai polemik mengenai motif pembunuhan, kasus ini berhasil mengundang respon dari masyarakat. Banyak yang merasa heran dan tak habis pikir dengan hal ini. Pertanyaan-pertanyaan pun muncul.

"Kok bisa ya sampai seperti itu?",

"Ngeri banget, padahal mereka suami istri tapi bisa kaya gitu".

dan lain sebagainya...

Nurafni, seorang ahli psikologi ikut berkomentar mengenai hal ini. Menurutnya, kembali pada teori kepribadian Theodore Millon, untuk menyebutkan tipe kepribadian apa saja yang mempunyai kecenderungan untuk memunculkan sikap tersebut.

Namun, selain itu, mekanisme atau strategi penyelesaian masalah juga bisa menjadi faktor terjadinya pembunuhan. Hal itu, saat ini menjadi sebuah permasalahan besar bagi kehidupan sehari-hari kebanyakan masyarakat di Indonesia. Skill dalam penyelesaian masalah atau bisa disebut dengan coping mechanism bersifat lemah.

"Dalam hal ini, keterampilan diri tidak dipelajari dan dipahami dengan baik, sehingga tidak bisa merefleksikan. Pendidikan yang diajarkan juga biasanya hanya bersifat doktrin. 'kamu harus seperti ini, kamu harus seperti itu agar bisa sesuai dengan harapan'. Tidak melihat potensi diri yang ada," jelas Afni.

Padahal, seperti yang sudah diketahui, setiap manusia memiliki beragam potensi yang bisa dikembangkan. Walaupun memang ada potensi yang dibawa dari orang tua. Oleh karena itu, orang-orang menjadi dependent atau bergantung ketika pengambilan keputusan, sehingga orang tersebut tidak akan pernah berkembang dari segi mental.

"Nah, begitu mendapatkan sesuatu yang tiak mampu orang itu selesaikan. Koping atau penyelesaian masalah tidak efektiflah yang akan diambil, seperti membunuh," ucap Afni lagi.

Afni menambahkan, sebenarnya, mungkin saja dia bukan orang jahat atau bukan seorang pembunuh. Lalu, tipe kepribadiannya juga bukan antisosial yang cenderung memunculkan perbuatan negatif. Namun, hal itu ia tunjukkan supaya dapat menekan orang lain, menunjukkan bahwa dirinya tidak lemah dan patut diakui keberadaannya.

Jadi tidak semua orang yang membunuh berupaya secara sengaja untuk melakukannya.

"Maka dari itu, harus diketahui dulu motifnya apa. Dari situ kita bisa pelajari dan nanti juga akan berpengaruh ke pasal dan hukuman yang akan diterima oleh pelaku," tegas Afni.

Tipe kepribadian yang memungkinkan untuk membunuh

Foto: Unsplash.com

Kembali pada bahasan psikologinya, Afni menjelaskan dalam teori kepribadian Millon, ada 3 tipe kepribadian yang memungkinkan untuk melakukan perilaku membunuh. Yaitu Anti sosial, Narsistik dan Borderline, apalagi kalau sudah terkena disorder atau adanya diagnosis gangguan. Tipe kepribadian bukan lagi menjadi hal utama.

Lalu, ada juga Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang jelas mungkin saja dia bisa melakukan pembunuhan karena sakit jiwa. T, menurut Afni dalam kasus pembunuhan Suryono, sepertinya istri yang diduga pelaku tidak memiliki ODGJ.

Hanya lebih kepada sisi biologis yang mendapat pengaruh lain seperti adanya kebiasaan tertentu, ada kepribadian lain yang mengantarkannya untuk melakukan pembunuhan.

"Sudah tidak tahan menghadapi masalah. Tidak efektif dalam menghadapi masalah, sehingga mengenyahkan sumber yang bagi dia merasa mengganggu ya menjadi pilihan,"ucap Afni.

"Jadi untuk menghilangkan stressor-nya, sumber masalah dienyahkan. Beda sama yang tadi yang ingin mendapatkan pengakuan," tambah Afni lagi.

Lalu, ada juga orang yang membunuh karena membela diri. Cekcok atau berkelahi, lalu pikiran membunuh muncul untuk melemahkan lawan dan membela diri. Bisa jadi faktor ini juga menyebabkan orang melakukan pembunuhan.

Dengan diketahui dulu motifnya, bisa terlihat tipe kepribadian dari pelaku. Atau malah sebaliknya tipe kepribadian juga dapat membantu pihak berwajib menemukan motif dari pembunuhan***