Perbedaan Business Model Canvas dengan Social Business Model Canvas

Konten Media Partner
8 Oktober 2019 21:10
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Foto: Unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Unsplash.com
ADVERTISEMENT
Rabu, 2 Oktober 2019 yang lalu, penulis mengikuti workshop dan seminar nasional di Graha Sanusi Unpad, Dipati Ukur, Bandung. Ada hal yang menarik dari acara yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknik Industri Pertanian (FTIP) Unpad itu, yaitu mengenai pemaparan konsep model bisnis.
ADVERTISEMENT
Dwi Purnomo, dosen FTIP Unpad yang menjadi narasumber terkait pemaparan konsep model bisnis. Menurutnya ada beberapa motif atau misi menjalani bisnis/wirausaha. Motif atau misi inilah yang memengaruhi jenis wirausaha tersebut.
Apabila motif atau misinya menjalankan wirausaha berfokus pada bisnis semata, maka jenisnya adalah bisnis kovensional. Beda dengan usaha yang dibangun sedari awal tidak hanya bisnis semata tapi juga bermisi sosial atau yang lebih dikenal dengan wirausaha sosial.
Business Modal Canvas (BMC) oleh Alexander Osterwalder dalam bukunya Business Model Generation merupakan framework sederhana bagi pelaku usaha atau bisnis dalam menciptakan nilai pada bisnisnya. Terdapat sembilan elemen penting yang dapat dianalisis dan menjadi gambaran dasar pemikiran terkait bisnis yang akan dijalankan pada BMC. Kesembilan elemen penting tersebut yaitu:
ADVERTISEMENT
  1. Customer Segments (Segmen Pelanggan)
Menggambarkan target pasar yang bagaimana yang akan dijangkau oleh pelaku bisnis, apakah menyasar secara khusus atau umum.
  1. Value Propotition (Penawaran Nilai)
Menggambarkan suatu keunggulan dari produk dan layanan yang ditawarkan dibandingkan dengan produk dan layanan dari pelaku bisnis yang lain.
  1. Channels (Saluran Distribusi)
Menggambarkan bagaimana produk, jasa, dan nilai tambah yang dihasilkan dapat sampai ke tangan pelanggan. Channels menjadi sarana untuk menyampaikan value proposition kepada pelanggan.
  1. Customer Relationships (Hubungan dengan Pelanggan)
Menggambarkan kiat kiat pelaku bisnis dalam meciptakan kedekatan dan kenyaman pelanggan terhadap produk dan layanan.
  1. Revenue Streams (Arus Pendapatan)
Menggambarkan sumber pendapatan yang akan diperoleh dari masing-masing segmen pelanggan.
  1. Key Resources (Sumber Daya Utama)
Menggambarkan bagaimana aset aset perusahaan dapat menciptakan nilai tambah bagi pelanggan dan keberlangsungan bisnis. Aset ini berupa manusia, teknologi, dan lainnya.
ADVERTISEMENT
  1. Key Activites (Aktivitas Kunci)
Menggambarkan kegiatan kunci yang ada pada bisnis yang sedang dilakukan. Kegiatan utama ini untuk dapat menjalankan atau menciptakan value proposition
  1. Key Partnerships (Kemitraan Utama)
Menggambarkan jejaring mitra yang dapat mendukung dalam menghasilkan produk, jasa, dan nilai yang akan diperoleh konsumen
  1. Cost Structure (Struktur Biaya)
Gambaran mengenai kelompok biaya yang dibutuhkan dalam bisnis baik dalam bentuk biaya tetap, biaya variabel, biaya operasional dan lainnya.
Business Model Canvas ini, secara lumrah biasa digunakan oleh pelaku bisnis yang berorientasi pada mencari keuntungan semata. Model bisnis ini diyakini efektif dijelaskan pada sembilan blok (Lihat gambar) yang elemen tiap blok telah dijelaskan sebelumnya.
Foto: Strategyzer
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Strategyzer

Social Business Model Canvas

Bila BMC menjadi model bisnis bagi pelaku bisnis profit yang mengutamakan misi bisnis semata. Lantas, bagaimanakah model bisnis bagi pelaku wirausaha sosial?
ADVERTISEMENT
Pelaku wirausaha sosial dalam menjalankan kegiatannya tidak mengedepankan keuntungan semata, profit oriented, tapi kegiatan bisnisnya berfokus pada penyelesaian masalah-masalah sosial. Segala bentuk keuntungan dipergunakan untuk keberlangsungan program dan operasional.
Sebagaiamana telah disebutkan dimuka perbedaan mendasar dari pelaku usaha bisnis profit dengan wirausaha sosial adalah pada misi berdirinya usaha.
Pelaku bisnis profit berorintasi pada keuntungan, bagaiamana bisa mengembangkan usaha lebih luas tanpa mementingkan terlalu dalam aspek sosial. Kalau pun tiba-tiba menyerempet kepada aspek sosial, tidak lebih dari sekedar pemenuhan kewajiban dari instansi yang kuat yang menekannya. Semacam Corporate Social Responsibility (CSR) dan lain sebagaianya.
Dalam mindset pelaku usaha sosial, uang bukan segalanya. Namun demikian pelaku wirausaha sosial perlu dana dalam melakukan aktivitas sosialnya, karena kalaulah tidak demikian, aktivitas tidak dapat dilakukan secara optimal. Sehingga BMC juga menjadi tepat untuk digunakan oleh pelaku sosial namun dengan beberapa modifikasi yang disesuaikan dengan jenis kegiatan/karakter wirausaha sosialnya.
ADVERTISEMENT
Modifikasi pada BMC dapat dilakukan pada penambahan kolom
  1. Purchasers dapat ditambahkan pada bagian bawah customer segment
Menggambarkan siapa yang mau menyokong dana terkait aktivitas sosial yang dilakukan
  1. Users ditambahkan pada bagian bawah purchaser
Menggambarkan siapa saja penerima manfaat dari aktivitas sosial yang dijalankan
  1. Stakeholders ditambahkan pada bagian bawah user
Menggambarkan siapa siapa saja yang dapat dilibatkan pada kegiatan wirausaha sosial
  1. Key Metrics atau Social Impact yang dihasilkan.
Kolom ini dapat diletakkan di antara kolom revenue stream dan Cost Structure. Tujuan penulisan kolom ini adalah untuk melihat dampak sosial atau manfaat apa yang akan dihasilkan dari aktivitas yang akan dilakukan.
Foto: Red Ochre
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Red Ochre
Penambahan ini akan membantu para pelaku wirausaha sosial tidak hanya mendapat gambaran tentang model bisnis dalam meraih keuntungan. Melainkan juga dalam meraih manfaat demi aktivitas yang dilakukan sustainable tidak cepat mati suri.
ADVERTISEMENT
[Penulis: Irvan N. | Editor: Tristi]