kumparan
KONTEN PUBLISHER
12 Februari 2020 7:02

Perjalanan Karier Bong Joon-Ho, Pemenang Best Director Oscars 2020

parasite.jpg
Foto: REUTERS/Mario Anzuon

"Thank you, great honor. Yeah," Kata Bong Joon Ho di atas panggung Oscar yang digelar di Dolby Theatre, Los Angeles, California, AS pada Senin (10/2).

ADVERTISEMENT
Setelah berhasil meraih Best Motion Picture - Foreign Language dalam ajang Golden Globe Awards 2020, film Parasite kembali menorehkan prestasi dengan masuk ke enam kategori nominasi Oscar.
Parasite meraih Best Picture alias Film Terbaik di Oscars 2020. Sebelumnya, film ini sudah memenangi tiga kategori lainnya, yakni Best Original Screenplay, Best International Feature Film, dan Best Director untuk sutradara Bong Joon Ho.
Bong Joon-Ho selaku sutradara pun kian menjadi sorotan. Terlebih, pria kelahiran 14 September 1969 itu berhasil menorehkan sejarah sebagai sutradara pertama asal Korea Selatan yang dinominasikan untuk kategori Best Director.
Pencapaian ini sekaligus pembuktian telah menggeser tren pemenang sutradara terbaik yang sebelumnya diraih oleh sineas film Hollywood. Pada tahun ini melalui Parasite, Joon-ho mengalahkan beberapa kandidat sutradara lainnya, seperti Quentin Tarantino yang mengarahkan Once Upon a Time in.. Hollywood, Todd Phillips yang mengarahkan film Joker, Martin Scorsese yang mengarahkan The Irishman, dan Sam Mendes, yang mengarahkan film 1917.
ADVERTISEMENT
Joon Ho lahir di lingkungan keluarga seniman. Ayahnya, Bong Sang-gyun merupakan perancang busana, sedang kakeknya, Park Taewon, seorang penulis terkenal di Korea. Tak hanya itu, kakak perempuannya, Jee-hee, mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang desainer.
Dari situs Soompi, stasiun televisi MBC menayangkan kembali episode khusus tentang sutradara Joon Ho, seputar bagaimana ia kenal dan jatuh cinta dengan sinema.
Ternyata, ia sejak kecil telah akrab dengan berbagai macam bentuk film lewat kebiasaannya menonton televisi sejak usia belia.

“Saya melihat banyak film asing lewat televisi. Saya pun menjadi terobsesi berkat film-film tersebut. Saat saya kecil, saya selalu menunggu hari Jumat malam. Karena, di televisi akan diputar film-film Amerika. Sementara di akhir pekan, saya menonton film klasik,” Kata Joon-Ho.

ADVERTISEMENT
Mulai saat itu, ia betul-betul terinspirasi menjadi sineas ketika ia telah dewasa nanti. Ia pun terus belajar dengan menonton, membaca, dan mempelajari segala hal yang berkaitan dengan sinema. Dirinya bahkan rela menonton film yang sama sampai puluhan kali agar bisa mempelajari tiap-tiap detailnya.

“Saya membuat film yang ingin saya tonton,” Bong Joon-ho.

Perjalanan Bong Joon-Ho menjadi sineas pun tidak mudah. Bahkan, ia harus bekerja selama enam bulan sebagai pedagang donat sembari bersekolah untuk bisa membeli kamera.

“Ketika saya berhasil membelinya, saya membawa kamera itu kemana-mana bahkan sewaktu tidur.”

Kamera itulah yang kemudian digunakan oleh Bong Joon-Ho untuk memproduksi film pertamanya di tahun 1994. Saat itu, film pendek produksinya berjudul White Man. Saat itu, ia masih tak punya cukup dana untuk menyewa aktor. Akan tetapi, ia telah memiliki tekad sudah bulat, akhirnya ia bersiasat untuk mengajak rekannya sebagai aktor di filmnya agar bisa gratis.
ADVERTISEMENT

“Karena saat itu saya belum punya portofolio, jadi tidak ada aktor yang mengenal saya. Namun, ada seorang teman, yang memperkenalkan dengan aktor bernama Kim Roe Ha. Saya hanya bayar dia dengan sebuah voucher untuk membeli kemeja,” ingatnya Joon-ho sembari tertawa.

Mencintai dan bahkan pernah membuat film ketika masih sekolah menengah, Joon-Ho rupanya lanjut mengambil jurusan sosiologi di Universitas Yonsei. Namun, di kampus tersebut, Joon-ho aktif bergabung dalam klub film.
Joon-Ho menyelesaikan program 2 tahunan di Korean Academy of Film Arts, tempat dia membuat film pendek menggunakan kamera 16mm. Film kelulusannya (film pendek) Memory of My Frame dan Incoherence diundang untuk screening di Vancouver dan Hong Kong International Film Festivals.
Pascalulus, Joon-Ho menghabiskan waktu bekerja dengan sutradara lain kurang lebih selama lima tahun. Dia berkontribusi dalam penulisan skenario Film bersama (kompilasi) Seven Reasons Why Beer is Better Than My Lover (1996), sebagai penulis skenario dan astrada untuk film debut Park Ki-yong’s Motel Cactus (1997) dan satu dari empat penulis (bersama dengan Jang Jun-hwan sutradara film, Save the Green Planet! untuk skenario Phantom the Submarine (1999). Bong Joon-ho menjadi buah bibir di Korea, baru setelah filmnya di rilis tahun 2003. Memories of Murder. Namanya pun disebut-sebut akan menjadi Sutradara Korea unggulan.
ADVERTISEMENT
Film Parasite sendiri telah menjadi favorit para kritikus film dan para audiens serta juri penghargaan. Oleh sebab itu, film ini juga menyabet beberapa penghargaan lain, seperti Palme d’Or pada Festival Film Cannes.
Pada ajang Golden Globes 2020, film Parasite juga meraih penghargaan sebagai Film Berbahasa Asing Terbaik-Film Terbaik. Pada British Academy Film Awards (BAFTA) 2020, film ini juga mendapat penghargaan sebagai Naskah Asli Terbaik dan Film Terbaik tak Berbahasa Inggris.***
[Penulis: Risky Aprilia]
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan