Apa Bedanya Cinta dan Hasrat? Mengapa Dua-Duanya Penting?

Rediscover you. Rediscover your career path.
Konten dari Pengguna
14 Februari 2019 8:18
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Temali tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kata siapa hasrat itu jelek? Justru, harus ada dalam hubungan pernikahan yang bertahun-tahun lamanya. (Foto: Unsplash.com)
zoom-in-whitePerbesar
Kata siapa hasrat itu jelek? Justru, harus ada dalam hubungan pernikahan yang bertahun-tahun lamanya. (Foto: Unsplash.com)
ADVERTISEMENT

“Ah, elu sih hasrat doang! Nggak cinta."

Cinta dan hasrat (atau nafsu). Kedua hal tersebut seringkali dianggap berbeda. Hasrat suka dianggap lebih 'rendah' ketimbang cinta. Eh, kata siapa?
ADVERTISEMENT
Psikolog dan penulis asal Belgia yang udah lebih dari 20 tahun jadi terapis rumah tangga dan pasangan, Esther Perel, menjelaskan kalau dalam hubungan, manusia cenderung punya paradoks :
Ingin keamanan, sekaligus petualangan
Ingin stabilitas sekaligus ingin mencoba hal-hal baru
Ingin familiarity , sekaligus misteri
Ingin hasrat (desire), sekaligus cinta (love)

Bagi Perel, cinta dan hasrat punya sifat yang bertentangan satu sama lain, sekaligus harus tetap ada dalam takaran yang pas di hubungan asmara manusia.

Hal-hal yang disebutkan pertama adalah sifat-sifat dari rasa cinta (love) ; stabil, aman, familiar, saling merawat dan memiliki. Yang kedua adalah sifat keinginan (desire); misterius, penuh kebaruan dan petualangan, excitement, dan nggak memiliki.
Desire biasanya muncul di awal hubungan, dan bakalan memudar seiring berjalannya waktu. Pasangan akan semakin muncul sebagai sosok yang ‘biasa’ hadir dalam hidup kita.
ADVERTISEMENT
Umumnya, di sini nih, rasa bosan pada pasangan mulai muncul.

Pentingnya jarak

Penjelasan di atas juga bisa menggambarkan, kenapa banyak orang yang merasa seru dan deg-deg an pada masa pendekatan, tapi merasa ‘biasa aja’ ketika sudah menikah/pacaran dengan orang yang sama.
Bisa jadi, hal ini disebabkan oleh desire yang mulai pudar. Nggak ada lagi kebaruan dan misteri, semua pelan-pelan berubah jadi familiarity.
Untuk yang berniat menjalin hubungan jangka panjang, hal yang paling penting dilakukan untuk terus bisa memupuk hasrat adalah dengan membangun jarak. Bukan berarti harus jauh-jauhan secara harfiah dan jadi LDR juga sih.

Tapi, bagaimana pasangan bisa saling menghargai dan memelihara ruang pribadi masing-masing.

Esther Perel udah mengunjungi 20 negara dalam satu tahun dan bertanya perihal “apa yang paling membuatmu tertarik pada pasanganmu” di tiap negara. Mayoritas orang menjawab jika merasa tertarik dengan pasangan: justru ketika pasangan mereka sedang berada jauh, ketika lama nggak bertemu, atau ketika pasangannya lagi asik mengerjakan hal-hal yang dia senangi.
ADVERTISEMENT
Soalnya, pada posisi itu, kita melihat pasangan sebagai sosok yang familiar, tapi juga punya jarak dan ruang pribadi.

Ada “ruang misteri” yang dulu bikin kita tertarik banget sama pasangan. Imajinasi tetang sosok pasangan bisa berkembang lagi, sebagaimana ketika kita melakukan pendekatan.

Menurut Associate Professor psikologi di California State University, Kelly Campbell, hubungan yang memuaskan adalah gabungan dari keterukuran (bisa diprediksi) dan kebaruan. Terlalu spontan dan penuh kejutan bisa bikin berantakan, dan terlalu ‘gitu-gitu aja’ juga bakal bikin bosan.
Masing-masing pasangan harus bisa menoleransi dan menghargai ruang pribadi pasangannya. Nggak semua hal harus diketahui dan dilakukan bersama-sama.

Dedikasi yang sama dan kerja keras!

Kerja keras dan komitmen untuk membangun hubungan yang harmonis jangka panjang harus dimiliki oleh kedua belah pihak, nggak bisa hanya diperjuangkan oleh salah satu.
ADVERTISEMENT

Agar bisa bertahan lama, intinya bukan pada berusaha mencari-cari kesamaan, tapi untuk mengenal segala seluk beluk pasangan dan berupaya bikin kesepakatan bagaimana masing-masing pihak akan deal with that.

Ada contoh menarik yang bisa menggambarkan ini.
Ternyata, komedian Aziz Ansari dalam bukunya Modern Romance menulis, pasangan yang nikah karena dijodohin (arranged married), lama kelamaan memiliki tingkat kebahagiaan yang meningkat seiring berjalannya waktu ketimbang pasangan yang bersama berdasarkan cinta di awal.
Di awal hubungan, pasangan yang bersama karena cinta punya tingkat kepuasan rata-rata 70 poin dari 91 poin. Tapi, seiring berjalannya waktu, rata-rata rasa puas memudar sampai 40 poin.
Sementara, pasangan arranged married, meskipun di awal punya tingkat kepuasan lebih rendah (58 poin), tapi semakin lama rasa puas semakin meningkat hingga 68 poin.
ADVERTISEMENT
Kok bisa gitu ya?
Hm, ternyata rahasianya adalah, pasangan arranged married sadar, mereka harus benar-benar kerja keras untuk membuat hubungan mereka berjalan.
Mereka nggak mengandalkan perasaan “cinta pada pandangan pertama” atau emosi membludak di awal, tapi berpikir bagaimana caranya bisa nyambung pada pasangan mereka — yang notabene adalah orang baru.
Bukan berarti pernikahan tipe ini adalah yang paling baik lho!
Tapi, mentalitas kerja keras untuk membangun hubungan bersama itu jauh lebih penting dibanding hanya mengedepankan rasa sreg dan cocok di awal, dan langsung ‘mengeliminasi’ pasangan potensial tanpa mau memahaminya lebih jauh. Ya, nggak?
[Penulis: Nur Khansa | Editor: Tristia]
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020