Inner Child, Apa dan Bagaimana Mengatasinya

Rediscover you. Rediscover your career path.
Tulisan dari Temali tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Masa lalu biarlah masa lalu~”.., kurang lebih begitulah salah satu penggalan lirik lagu yang sempat hits di awal tahun 2000an. Setiap kita pasti punya yang namanya masa lalu, dan mungkin masih mempengaruhi diri kita hingga hari ini.
Misalnya, dulu waktu kecil sering dibentak sama orang tua, pernah melihat orang tua bertengkar, atau punya orang tua yang terlalu menuntut. Hal seperti ini biasanya membuat teman-teman menjadi orang yang canggung untuk bercerita dan cenderung merasa depresi.
Kejadian masa lalu ternyata dapat membentuk diri kita hari ini. Hal seperti itulah yang kita sebut sebagai inner child. Hal ini bisa menjadi penghambat atau justru pendorong kita untuk tumbuh dan berkembang, tergantung bagaimana kita menyikapinya.
Ibarat luka, yang namanya bekas pasti ada, tapi yang menjadi poinnya adalah cara kita menyembuhkannya. Jadi yang perlu dilakukan adalah healing your inner child.
Inner child harus kita ‘selesaikan’, karena apabila tidak, ia akan terus mempengaruhi kita. Ia akan terus membentuk karakter diri, dan sangat mudah diturunkan ke anak kita kelak. So, mari kita bahas step-by-step how to heal your inner child ini.
Tahap awal, identifikasi masalah utama yang menjadi penyebab inner child mu. Coba flashback kembali hal-hal menyakitkan yang pernah terjadi. Misalnya, pernah jadi korban bullying, atau sering melihat kedua orang tuamu bertengkar.
Hal-hal inilah yang membentuk pribadi emosional, grogi, ataupun malu bersosialisasi. Menyakitkan untuk diingat, tapi cobalah untuk melihat sebab-akibatnya.
Lalu kedua, lepas dan ikhlaskan. Pada fase ini yang harus kita sadari adalah semuanya hanya masa lalu yang sudah terjadi dan terlewati. Masa depan ada di hadapan kita. Jangan takut dan malu untuk mengakui apa yang sudah pernah kita alami sebelumnya, sebab dari sana kita akan mendapat pelajaran yang sangat berharga.
Buang segala dendam dan amarah yang lama terpendam. Buang segala resah, kekecewaan, kesedihan, kegelisahan yang pernah kamu rasakan. Dirimu berhak bahagia, dirimu berhak lepas dari segala dan apa yang pernah terjadi.
Untuk melakukannya, kamu bisa bercerita pada sahabat, atau menuliskannya dalam berlembar-lembar kertas, lalu membakarnya. Biarkan semua energi negatif keluar dari dirimu.
Tahap 3, maafkan dirimu dan mereka yang terlibat. Sejatinya kita saat kecil layaknya sebuah kanvas putih, yang terwarnai seiring berjalannya kehidupan. Dalam proses tersebut, ada maksud yang Allah ingin ajarkan kepada kita : bahwa kita memiliki kontrol diri tapi Allah lah yang berkuasa atas kehidupan kita.
Mungkin, kejadian atau pengalaman buruk yang pernah dialami membuat kita lalai dan lupa atas segala anugerah yang Allah berikan. Kita lebih sering mengutuk keadaan, menganggap Allah tak adil, dan akhirnya membangkang.
Yang perlu kita lakukan dalam fase ini adalah memaafkan diri sendiri dan bertaubat kepada Yang Maha Kuasa. Setelah segala sikap buruk yang kita lakukan, Allah masih memberikan banyak kasih sayang-Nya kepada kita.
Maafkan juga orang-orang yang terlibat dalam inner child mu, percayalah mereka hadir dalam hidupmu untuk memberi banyak pelajaran. Lakukan ini supaya hatimu lebih tenang dan yakin bahwa semua terjadi atas izin-Nya.
Fase 4 dan yang terakhir, nikmati prosesnya. Ikuti semua proses dengan kesabaran dan kesadaran. Berdoa dan mintalah kepada Allah agar senantiasa dikuatkan.
Setelah semua step berhasil teman-teman lewati, step 4 ini bisa menjadi penyemangat dan pengikat atas apa yang sudah teman-teman lewati. Agar apa? Agar teman-teman tetap menetapi langkah selanjutnya dengan penuh keikhlasan dan kebahagiaan.
Akan ada hadiah-hadiah tidak terduga dari Allah. Semakin diluruskan hatinya oleh Allah. Semakin dituluskan dalam menyayangi dan mencintai kedua orang tua. Semakin dituluskan dalam menyikapi bayangan masa lalu. Semakin dilembutkan dalam menyikapi hidup yang mungkin akan semakin banyak rintangannya.
[Penulis : Izzudin | Editor : radenrhea]
