kumparan
KONTEN PENGGUNA
13 Februari 2019 21:08

Kisah Perjuangan Dayu, Pendiri Komunitas "Rumah Rusak"

timothy-eberly-515801-unsplash.jpg
Annisa Retno Arimdayu adalah seorang perempuan dibalik lahirnya komunitas “Rumah Rusak”. Komunitas ini bertujuan menjadi wadah bagi mereka yang berasal dari broken home, untuk bersama-sama bangkit dan tidak menyerah pada keadaan. Dayu atau Badaiy, begitulah ia dipanggil.
ADVERTISEMENT
Badaiy mengungkapkan, dorongan terkuatnya untuk merintis komunitas “Rumah rusak” adalah dari pengalaman pribadi. Hal ini ia paparkan dalam mini e-book berjudul “Memperbaiki Rumah Rusak”.
Badaiy adalah seorang anak yang tumbuh di bawah asuhan ibu single parent dan sempat begitu membenci ayahnya. Namun, seiring berjalannya waktu, ia belajar mengenai makna kehidupan yang hakiki dan pencarian jati diri.
Dalam perjalanan panjangnya, Dayu menemukan dirinya dalam keadaan terpuruk, dan menyadari bahwa itu terbentuk dari kisah masa lalu. Butuh waktu yang tidak sebentar hingga dirinya berhasil melewati rintangan-rintangan yang sudah lama menjerat diri.
Prosesnya panjang dan lama. Membuatnya ‘babak belur’, terasa menyakitkan dan menyedihkan. Hingga akhirnya Allah memberikan jalan kepada Dayu untuk lebih mengenal Dzat-Nya. Dayu kini memahami bahwa Allah memberikan ujian bukan untuk membatasi diri, tapi untuk mengembangkan diri.
ADVERTISEMENT

Manusia ibarat pohon yang butuh akar kuat. Jika akar ini baik maka akan baik pula batang, cabang, daun, bunga dan buahnya. Namun, jika akar itu buruk, maka akan buruk pula batang, cabang, daun, bunga dan buahnya.

Apakah ‘akar’ itu? Menurut Dayu, akar disini ibarat iman—prinsip hidup yang dipegang. Akar yang kuat adalah akar yang menghujam ke tanah, agar dapat mencari sumber air untuk asupan energi dan nutrisi. Begitulah manusia, yang telah Allah sebutkan dalam Q.S. Ibrahim ayat 24-25 dengan istilah “syajarotun thayyibah
Ada satu hal lagi pelajaran berharga yang Dayu dapati dalam perjalanan bangkit dari keterpurukan, yaitu tentang merubah pola pikir dari objek menjadi subjek.
Menurut Dayu, ketidakfokusan kita dalam menjalani kehidupan ini bisa disebabkan pola pikir sebagai objek dari masa lalu. Sementara, memandang diri sebagai subjek berarti menyadari peran dalam mengendalikan sesuatu.
ADVERTISEMENT

You are who control yourself -- Kamu yang mengontrol dirimu sendiri. Tapi, Allah-lah yang berkuasa atas dirimu. Maka, kontrol diri sesuai dengan kemauan-Nya. Jadilah hamba yang total dan berkualitas.

Kesimpulannya, tidak ada ketersambungan yang paling sempurna dari suatu ilmu, kecuali semakin dekat kepada Allah. Semakin mengenal siapa pencipta kita. Semakin tahu kemana seharusnya arah hidup tercipta dan cara menjalaninya.
[Penulis : Izzudin | Editor : radenrhea]
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan