KELAS: Strategi Menjaga Bisnis untuk Pelaku UMKM di Kala Pandemi

Ayo gabung ke komunitas teman kumparan!
·waktu baca 7 menit

Pandemi COVID-19 ini memang membuat sektor bisnis makin lesu. Mungkin sudah berbagai cara dilakukan oleh para pelaku UMKM untuk mempertahankan bisnisnya. Namun, sepertinya memang harus diperlukan strategi yang lebih khusus lagi supaya bisnis teman-teman tetap bertahan. Lalu, bagaimana cara merencanakan strategi khusus tersebut?
Teman kumparan di grup Telegram Teman kumparan UMKM telah mengundang Shasya Pashatama untuk membahas gimana caranya supaya pelaku usaha kecil & menengah dapat merencanakan strategi khusus yang bisa diterapkan pada bisnis atau usaha teman UMKM. Shasya Pashatama merupakan Owner dari Cici Claypot yang juga merupakan Digital Creator. Shasya cukup dikenal di Twitter karena sering berbagi pengalaman bisnis hingga hobinya traveling.
Di KELAS Teman kumparan UMKM, Shasya menceritakan bagaimana strategi yang ia lakukan untuk mempertahankan bisnis makanannya, Cici Claypot, di kala pandemi. Sebagai yang berjualan pasti mengalami kalau pandemi ini memang luar biasa sekali. Pasti banyak rencana-rencana yang berantakan, baik misalnya rencana memulai usaha, melebarkan sayap, launching menu baru, launching brand baru dan lain-lain.
Setelah menjalani bisnis di tengah pandemi selama satu tahun setengah ini Shasya kemudian menyadari bahwa adaptasi itu penting. Sebagai contoh, di Cici Claypot sendiri adaptasi ini Shasya lakukan dalam menyediakan makanan-makanannya yang bisa di-take away. Di mana makanan Cici Claypot sendiri memang lebih enak dinikmati langsung dari claypotnya. Tapi, mau nggak mau kita harus bersedia beradaptasi dengan situasi. Nggak pandemi aja mesti bisa adaptasi, apalagi saat pandemi, ya.
Yang kedua adalah inovasi, inovasi ini artinya bukan hanya menciptakan menu-menu baru atau launching brand baru, tapi juga inovasi dari Cara Berjualan kita. Cara berjualan inovatif yang menyesuaikan dengan kondisi itu misalnya menyediakan layanan drive in, hampers, atau bisa berkolaborasi dengan usaha lain.
Selanjutnya teman-teman bisa melakukan cut budget yang menjadi salah satu solusi untuk menghemat biaya. Seperti poin-poin yang disampaikan Shasya di KELAS teman kumparan berikut ini.
Strategi adaptasi meminimalisir pengeluaran UMKM selama pandemi:
Bicara dengan pemilik tempat yang teman-teman sewa untuk memberikan diskon atau memberi kelonggaran dari sisi termin dan waktu pembayaran sewa tempat.
Cut budget SDM: Ini bisa dilakukan dengan mengurangi jam operasional berjualan.
Mengalihkan budget ke biaya lain: Kalau sebelumnya teman-teman punya budget promosi dengan keperluan BRANDING, alihkan budget tersebut untuk memberikan diskon kepada pembeli, atau memberikan free ongkir.
Bila situasi memang bertambah sulit, teman-teman juga perlu mengevaluasi asset-asset yang teman-teman punya. Misalnya, teman-teman punya mobil operasional, mungkin bisa teman-teman lepas dan mengalihkan fungsinya ke kendaraan pribadi teman-teman.
Selain itu, teman-teman dapat mengatur ekspektasi, ini penting untuk menjaga kewarasan jiwa dan raga. Atur ekspektasi sesuai dengan kondisi. Jangan memaksakan hasil yang didapat harus sama antara saat pandemi atau tidak.
Kamu bisa memanfaatkan sifat 'Impulsive Buying' customer dalam konteks yang positif, juga lho. Kesimpulannya adalah:
Selalu ada peluang di setiap situasi. Jeli melihatnya adalah sebuah prestasi.
Tak hanya memaparkan materi, Shasya Pashatama juga berdiskusi dengan teman kumparan UMKM, lho. Seperti apa keseruannya? Simak rangkumannya di bawah ini!
Tanya: Sebelum memutuskan untuk menjual makanan frozen, apakah dilakukan trial and error terlebih dahulu? Berapa lama proses itu dijalankan? dan pasti ada biayanya, gimana cara menyiasatinya Mbak? Terima kasih.
Jawab: Hai selamat sore Mbak. Iyah betul mesti trial and error. Soalnya ngga ada sekolahnya, hehe. Yang paling perlu dilakukan saat R&D adalah memutuskkan makanan apa yang bisa di frozen dan apa yang tidak. Nggak semua makanan kita bisa dibuat frozen, mesti pilih, mungkin dari 20 menu hanya ada 7 menu yang bisa di frozen, ya sudah gapapa, coba itu dulu.
Trus untuk cek ketahanan makanan dll, tak ada cara lain selain coba kirim. Saya biasanya coba kirim dulu ke teman-teman yang rumahnya jauh, misalnya ke Bali. Terus saya juga coba bikin di rumah, simpan di kulkas dan di freezer, berapa lama itu tahannya. Prosesnya relatif cepat, dalam 1 bulan saya sudah cukup firmed dengan menu yang bisa dikirim dan bagaimana penanganan + ketahanan makanannya. Untuk biayanya saya anggap biaya SEKOLAH, hehe. Semoga menjawab Mbak.
Tanya: Terima kasih Ci Shasya atas ilmunya. Saya kenal Cici waktu saya pertama kali merintis dimsum dengan ikut pameran-pameran di IBCC. Saat ini hal sama yang saya lakukan di saat pandemi dari tahun kemarin, ada frozen Dimsum dengan proses vakum yang belum pernah saya lakukan seumur hidup.
Tapi, dengan ada dorongan dari keluarga dan teman-teman, akhirnya saya lakukan juga. Dan, akhirnya booming sampai kewalahan untuk proses vakum. Nah, yang saya tanyakan adalah gimana caranya untuk menarik minat kolaborator agar bisa bergabung dengan usaha saya? Terima kasih.
Jawab: Halo, sudah kenal lama sekali dan belum pernah ketemu lagi ya. Thank you sudah gabung di diskusi kita sore ini.
Mengalihkan jualan dimsum dari jualan offline ke frozen tentunya adalah salah satu bentuk adaptasi dan inovasi juga ya. Trus kita jadi mau ngga mau punya skill frozen makanan, yang tadinya ngga kepikir bisa, eh jadi bisa.
Nah perihal berkolaborasi. Buat saya, kolaborasi ini prinsipnya seperti pacaran. Nggak semua orang harus cocok sama semua orang, dan itu gapapa. Masih ada orang lain yang mungkin cocok sama kita.
Dalam mengajak dan memilih kolaborator kita perlu melihat banyak faktor. Dalam perjalanan saya mencari kolaborator, ada aja yang misalnya : menunya ngga cocok dengan yang saya jual, atau menunya terlalu mirip dengan yang saya jual, bisa juga dari sisi harga misalnya terlalu mahal atau bahkan terlalu murah sehingga tidak berimbang dengan harga makanan yang saya jual.
Semoga menjawab pertanyaannya ya.
Tanya: Mbak, untuk memulai bisnis FnB itu apa saja yang harus dilakukan ya? Aku tertarik buat mulai bisnis frozen food yang lagi viral. Tapi, bingung harus mulai darimana supaya bisa dikenal banyak orang.. Terima kasih Mbak Shasya.
Jawab: Hai Mbak. Kalau boleh saran, viral itu bonus, hehe.
Jadi kalau baru mulai lalu langsung ingin viral, PR nya besar banget dan nanti Mbaknya stres sendiri kalau tak kunjung viral.
Saran saya, pasang mata, makanan apa sih yang sedang laku dan diminati sekarang, tentunya disertai dengan kemampuan Mbak untuk memasak makanan tersebut. Pastikan kalau makanan mbak memenuhi faktor enak, packing bagus. harga cocok, dan service yang baik.
Kalau sudah mulai, mulailah berpromosi misalnya dengan endorse teman-teman yang suka makan. Tidak selalu harus influencer, food blogger, selebtweet, selebgram, kadang ada teman-teman kita yang memang tukang makan dan suka share makanan di grup WhatsApp keluarga misalnya. Di ilmu marketing jaman dulu, ini disebut mouth to mouth promotion, ini salah satu faktor yang masih jitu.
Tanya: Untuk frozen food apakah ada kendala terkait aturan ijin edar makanan? Bagaimana mengukur keberhasilan promosi agar kita bisa benar-benar merencanakannya?
Jawab: Untuk UMKM sampai saat ini saya belum menemukan kendala berarti Kang. Mungkin kalau kita berencana untuk konsinyasi di supermarket baru lebih serius diurus ijin edarnya.
Tanya: Di luaran banyak sekali produk frozen Dimsum dengan harga yang lebih murah, gimana caranya melayani persaingan yang kadang tidak sehat, Ci Shasya. Mohon masukannya.
Jawab: Menurut pengamatan saya, dimsum saat ini memang sudah bergeser dari berbelas tahun lalu saat kita sudah mengenal dimsum. Dulu makan dimsum itu mahal, mesti di restoran yang bagus. Nggak cukup uang sedikit untuk makan dimsum.
Saat ini, dimsum jadi makanan yang cukup diminati semua kalangan, tentu saja akhirnya ada jenis dimsum yang kemudian ditekan biayanya sehingga menggunakan bahan-bahan yang lebih murah, sehingga bisa dijual lebih murah dan menyasar semua kalangan.
Untuk saya, selalu ada pasar untuk makanan yang kita buat. Kalau kita jual cukup mahal, artinya pasar kita ada di situ. Kalau kita jual mahal tapi kurang enak, nanti orang kecewa.
Sebagai penjual, saya malah tidak mau jual terlalu murah, karena di pasar-pasar tertentu secara psikologis mereka lebih suka kalau beli agak mahal, berasa lebih enak katanya.
Jadi saran saya sih sering-sering membaca pasar, melihat harga-harga yang ditawarkan kompetitor. Kalau mereka jual murah dengan bahan yang kualitasnya di bawah kita, ya artinya persaingan ini tidak apple to apple. Tapi kita juga mesti survei pasar, jangan sampai kita menjual terlalu mahal (atau juga terlalu murah).
Tanya: Gimana caranya mendapatkan reseller yang produktif agar bisa membantu sales penjualan kita, apakah dengan promosi atau harga menarik? Terima kasih Ci.
Jawab: Rasanya kombinasi ya, antara harga yang kompetitif, kemudahan layanan yang bisa kita sediakan misalnya delivery, bonus, ditambah dengan produk berkualitas baik dan inovatif.
Jika teman kumparan ingin berdiskusi lebih lanjut dengan Shasya Pashatama, dapat menghubunginya lewat Instagram @pashatama.
====================
KELAS merupakan diskusi dan tanya-jawab online yang diadakan di grup teman kumparan. Di KELAS, kamu bisa berdiskusi dengan para pakar di bidangnya secara gratis. Yuk, gabung ke grup teman kumparan UMKM di Telegram melalui kum.pr/Temanumkm. Jangan lewatkan keseruannya, ya!
(tan)
