Opini & Cerita
·
19 September 2020 18:02

KELAS Teman kumparan: Mengatasi Insecure karena Media Sosial

Konten ini diproduksi oleh Teman kumparan
KELAS Teman kumparan: Mengatasi Insecure karena Media Sosial (130)
Ilustrasi insecure karena media sosial. Foto: Shutterstock
Siapa yang suka insecure karena terlalu banyak main media sosial? Ya, dengan banyaknya informasi yang kita dapatkan melalui media sosial, sering kali menyebabkan perasaan insecure muncul dalam diri kita.
ADVERTISEMENT
Perasaan tersebut biasanya hadir karena terlalu membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Apa yang dimiliki oleh teman kita di media sosial, sering menjadi pembanding bagi keberhasilan diri sendiri. Alhasil, akan muncul perasaan iri dan terus merasa kurang dibanding orang lain.
Lantas, mengapa hal ini dapat terjadi?
Menurut Nago Tejena, Psikolog Klinis Dewasa, insecure terjadi karena adanya hubungan antar manusia. Perasaan insecure muncul karena kita merasa terkoneksi dengan manusia yang ada di balik akun media sosial tersebut. Dlam hal ini, media sosial fungsinya hanya amplifying (melipatgandakan) pengaruh hubungan tersebut kepada orang yang lebih banyak.
"Contoh, misalkan kamu membandingkan diri kamu dengan temenmu. Kalau di real life mungkin kamu cuma membandingkan dengan 10 teman, sekarang di media sosial kamu bisa membandingkan ke 200 temanmu," ujar Nago kepada teman kumparan.
ADVERTISEMENT
Nago bersama teman kumparan di KELAS kemudian mendiskusikan bagaimana caranya bisa lepas dari insecurity dari media sosial. Pria yang terbiasa menangani berbagai jenis klien serta aktif di media sosial Twitter dan Instagram @nagotejena ini kemudian memberikan tips dan saran kepada teman kumparan tentang cara mengatasi insecurity karena media sosial.
Penasaran seperti apa isi diskusinya? Simak rangkumannya di bawah ini.
KELAS Teman kumparan: Mengatasi Insecure karena Media Sosial (131)
KELAS teman kumparan bersama Nago Tejena. Foto: dok. kumparan
Tanya: Kak Nago, apakah sering insecure karena sosial media itu hal yang wajar? Cara mengatasinya selain break main sosmed ada nggak?
Jawab: Mungkin pertama kita bisa cari tahu dulu sisi diri mana yang tersentuh rasa insecure tersebut. Apakah mungkin keinginan kita untuk bisa seperti teman kita, atau perasaan takut berbeda dengan temen, atau nggak ingin ketinggalan tren terbaru dan lainnya.
ADVERTISEMENT
Dengan memahami alasan kamu insecure, baru kita bisa lebih memilih jalan keluar yang lebih tepat.
Wajar? Ya wajar. Karena gimana pun juga kan di balik medsos itu isinya manusia lain juga. Jadi, wajar apabila kita merasa insecure 😁.
Tanya: Jujur aku orangnya kompetitif banget, kak. Positifnya aku gampang terpacu, tapi negatifnya ya gitu. Jadi suka kepanasan kalo liat sosmed. Apa yang harus diubah dari diri aku ya kak? Mindsetnya mungkin?
Jawab: Kompetitif itu baik, artinya kamu ingin memacu dirimu agar menjadi lebih baik lagi. Tapi ketika malah berbalik menjadi insecurity, mungkin ada sesuatu yang salah.
Bisa jadi tujuanmu untuk progress hanyalah untuk menunjukkan dirimu lebih baik atau sekedar “nggak kalah” sama orang-orang di sekitarmu.
ADVERTISEMENT
Nah, apakah itu tujuan kamu melakukan hal tersebut? Entah itu di urusan studi, olahraga, seni, dan lainnya. Kalau iya, mungkin kamu perlu memikirkan ulang alasan kamu melakukan hal tersebut.
Tanya: Kadang insecurity membuat kita ingin detox dari sosmed. Tapi ketika break malah merasa kesepian, apalagi di masa pandemi ini sulit untuk berkomunikasi & bersosialisasi langsung. Sebaiknya gimana, ya?
Jawab: Berinteraksi di medsos memiliki kesamaan dengan berinteraksi di dunia nyata. Tidak semua hal bisa menyenangkan untuk kita.
Sebagaimana kita memilih untuk membatasi pertemuan kita dengan orang lain, di medsos pun kita bisa, lho.
Kalau nggak mau detox, simpel. Kamu tinggal unfollow aja akun-akun yang buat kamu nggak nyaman. Nggak mau ketahuan unfollow? Bisa mute juga 😁.
ADVERTISEMENT
Semua opsi tersedia, kok. Kamu bisa mengatur sebagaimana nyamannya kamu. Tapi sedikit pesan dari aku, suatu saat kamu nggak akan bisa menghindari semua hal yang memicu insecurity tersebut. Jadi yah, take one step at a time. Pilih yang mana kamu mau hindari dan yang mana kamu mau coba hadapi.
Tanya: Melihat kondisi yang sudah-sudah, tidak sedikit orang yang mencoba untuk mengakhiri hidupnya. Dan setelah diusut, penyebabnya mereka terbelenggu oleh medsos. Apa tanggapan Kak Nago mengenai hal ini?
Jawab: Media sosial memiliki algoritma tersendiri yang unik. Mengunggulkan penyebaran konten yang menggugah emosi, dibandingkan konten yang 'faktual'.Nah, kita manusia lebih bergerak berdasarkan emosi.
Karena itu, medsos ini bisa bertindak sebagai “amplifier” untuk menguatkan kecenderungan perasaan tertentu. Menurutku, penting untuk membatasi medsosnya. Tapi yang nggak kalah penting adalah mencari akar perasaan itu.
ADVERTISEMENT
Apakah frustrasi, marah, kecewa, dan lainnya.
Tanya: Bagaimana seandainya secara nggak sadar postingan kita justru jadi penyebab insecure bagi orang lain? Adakah tips apa yang musti kita lakuin sebelum posting sesuatu di medsos, kak?
Jawab: Menurutku itu bukanlah hal yang kamu harus khawatirkan. Karena setiap orang bertanggungjawab atas perasaan mereka pribadi.
Kamu mau posting se-normal apapun, bisa saja membuat orang lain merasa insecure. Jadi selama kamu mengunggah sesuatu tanpa niat yang buruk, itu sudah cukup jadi filter yang baik.
Tanya: Aku freshgrad yang udah lulus dari awal tahun. Tapi karena kondisi pandemi jadi susah banget nyari kerja, sementara teman-temanku udah pada dapat kerja. Kalau liat postingan mereka, aku ngerasa kayak terpuruk aja gitu dan minder. Aku harus apa ya, kak?
ADVERTISEMENT
Jawab: Disini kamu mesti kembali melihat, sebenarnya yang kamu inginkan apa? Apakah sekadar nggak minder dengan temanmu, atau memilih apa yang terbaik dengan kamu? Karena biasanya lebih baik kita fokus ke perjalanan kita sendiri.
Mungkin ads beberapa alasan kenapa kamu belum dapat kerja. Kondisi ekonomi yang sedang sulit, bidang yang minim lowongan, atau kompetensi kamu yang belum mumpuni.
Fokus ke mengembangkan hal yang kurang, merupakan hal terbaik yang kamu bisa lakukan, daripada mendistraksi dirimu dengan perbandingan tersebut.
Memiliki ketakutan akan masa depan tentu pentin,. supaya kita lebih memiliki urgensi untuk bergerak. Tapi tentu kamu tetap harus menjaga agar ketakutan itu tidak berlebihan. Jangan sampai malah mengganggu progress-mu.
Itulah rangkuman diskusi antara Nago dan teman kumparan tentang insecure yang diakibatkan oleh media sosial. Menurut Nago, hal yang perlu dicatat adalah bagaimanapun juga media sosial ini hanyalah alat yang hadir di hidup kita.
ADVERTISEMENT
Bagaimana kita mengevaluasi diri saat berhadapan dengan alat ini merupakan hal yang paling penting. Bisa kita manfaatkan, bisa pula kita hindari jika merasa dirugikan.

"Dan ingat, tidak ada yang melarangmu atau memaksamu untuk melakukan apapun di media sosial tersebut. Cobalah untuk menakar sendiri sesuai dengan kebutuhan dan kenyamananmu."

- Nago Tejena, Psikolog Klinis Dewasa.

(sif)
====================
KELAS merupakan diskusi dan tanya-jawab online yang diadakan di grup teman kumparan. Di KELAS, kamu bisa berdiskusi dengan para pakar di bidangnya secara gratis. Yuk, gabung ke grup teman kumparan di Telegram melalui kum.pr/Temankumparan. Jangan lewatkan keseruannya, ya!